Daerah

Panggung Seni Atharrazka Hidupkan Sanggar dan Dorong UMKM di Purwakarta

×

Panggung Seni Atharrazka Hidupkan Sanggar dan Dorong UMKM di Purwakarta

Sebarkan artikel ini
Sanggar Seni Atharrazka (foto; Ade/Sekilasmedia.com)

Purwakarta,Sekilasmedia.com-Pendiri Atharrazka, Sugi, saat diwawancarai di Panggung Atharrazka, Cigangsa, Desa Campakasari, Purwakarta, Rabu (6/5), menyampaikan bahwa panggung seni budaya tersebut hadir sebagai ruang ekspresi bagi para pelaku seni sekaligus upaya pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman.

Ia menjelaskan, konsep yang diusung berangkat dari semangat menghadirkan “rezeki yang bersih”, dengan membuka panggung tanpa pungutan biaya bagi para penampil. Bahkan, setiap sanggar yang tampil mendapat dukungan transportasi sebesar Rp200 ribu.

“kami membuka panggung ini agar sanggar-sanggar yang sebelumnya jarang pentas bisa tampil gratis. Tidak ada biaya, justru kami beri fasilitas transportasi Rp200 ribu,” ujarnya.

Ia menuturkan, kegiatan ini berawal sejak tahun 2001 dengan konsep sederhana berupa permainan lampu yang dipasang di kendaraan, disertai penampilan tari pada acara pawel-pawel. Konsep tersebut berkembang menjadi panggung seni yang menggabungkan berbagai unsur budaya.

“Seiring perkembangan zaman dan mulai terkikisnya seni tari, kami kembangkan menjadi wadah yang memadukan berbagai seni, mulai dari tari hingga pencak silat,” ujarnya.

Atharrazka juga merupakan hasil perpaduan nilai budaya yang berakar dari Bali, Jawa, dan berkembang di tanah Sunda. Dukungan pemerintah serta legalitas yang telah resmi diperoleh menjadi penguat keberlangsungan kegiatan ini.

BACA JUGA :  Cipayung Plus Sumut Soroti 4 Kebijakan Bobby Nasution: Kolaborasi Kunci Sumut Berkah

“Alhamdulillah, legalitas kami sudah resmi dan diakui oleh pemerintah. Ini menjadi bekal penting untuk pengembangan ke depan agar kesenian bisa lebih maju,” ujarnya.
Saat ini, panggung seni Atharrazka berlokasi di wilayah Cigangsa, Desa Campakasari, Purwakarta. Kegiatan sementara digelar setiap Sabtu dan Minggu, dengan rencana ke depan akan dilaksanakan setiap hari.

“Untuk sementara Sabtu dan Minggu. Ke depan, setelah Hari Jadi dan HUT Purwakarta, rencananya akan digelar setiap hari sore. Khusus Minggu, mulai pukul 09.00 WIB hingga malam,” ujarnya.

Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan ini cukup tinggi. Bahkan, jumlah pengunjung dan pelaku UMKM yang terus meningkat membuat lokasi sebelumnya tidak lagi mencukupi, hingga akhirnya difasilitasi pemerintah untuk pindah ke area yang lebih luas.

“Penonton dan UMKM sempat membludak, sehingga kami dipindahkan ke lokasi yang lebih luas di Cigangsa, hampir satu hektare,” ujarnya.

Untuk event mendatang, pihaknya juga menyiapkan konsep panggung bernuansa adat Sunda dengan memanfaatkan bahan alami, menggunakan bambu, bilik, serta ornamen alat pertanian khas Sunda,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, sekitar 10 sanggar terlibat secara rutin. Namun, minat untuk bergabung terus meningkat. Bahkan, pada lomba sanggar tari dalam rangka Hari Jadi dan HUT Purwakarta yang akan digelar Juli mendatang, tercatat 83 sanggar telah mendaftar dengan total hadiah hampir Rp25 juta.

BACA JUGA :  Waspada Virus Corona, Walikota Mojokerto Sidak Area Publik 

“Alhamdulillah, untuk lomba sanggar nanti sudah 83 yang mendaftar. Total hadiah hampir Rp25 juta dan sudah mendapat dukungan dari Dispora,” ujarnya.

Selain itu, Atharrazka juga merencanakan program pertukaran budaya dengan Bali sebagai bentuk pengembangan ke depan.

“Kami akan membawa sanggar dari Purwakarta ke Bali untuk kolaborasi tari Sunda. Nantinya dari Bali juga akan datang ke sini, jadi ada pertukaran budaya,” ujarnya.

Ia berharap, ke depan seni budaya tradisional seperti tari dan pencak silat semakin diminati generasi muda agar tetap lestari.

“Harapan kami, seni budaya Sunda tidak hilang. Alhamdulillah, dengan adanya kegiatan ini, sanggar yang dulu jarang tampil kini lebih sering pentas dan muridnya pun semakin banyak,” ujarnya.

Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari berbagai pihak, mulai dari unsur Muspika, Kelurahan, Karang Taruna Desa Campakasari, serta TNI-Polri melalui Polsek dan Koramil setempat yang menilai kegiatan tersebut berdampak positif bagi pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat.

“Kami mendukung penuh karena kegiatan ini tidak hanya melestarikan seni budaya, tetapi juga menggerakkan UMKM dan menjadi ruang kreativitas bagi generasi muda,” ujarnya.