SUMENEP,Sekilasmedia.com – Nyawa Siti Salihah (20) bersama janinnya tak tertolong setelah 15 jam perjalanan laut untuk dirujuk ke rumah sakit di daratan Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Warga Desa Suka Jeruk, Pulau Masalembu, Sumenep, itu dinyatakan meninggal beberapa jam sebelum sampai ke pelabuhan Kalianget, Sumenep, Kamis (6/2) sore.
“Ya wafat di kapal,” kata Kabid Kesmas Dinkes Sumenep, Desy Febriyana, Sabtu (8/2).
Cuaca di perairan, kata Desy, memang cukup ganas, sehingga kapal yang biasanya sampai 12 jam, menjadi 15 jam.
“Karena sekarang cuaca kan angin kencang,” sambungnya.
Korban semula dalam kondisi baik saat baru berangkat dari Pelabuhan Masalembu. Hanya saja, proses persalinannya mengalami kendala.
“Pasien tersebut sebenarnya mengalami resiko rendah dan bukan kategori dirujuk ke daratan. Tapi karena ada beberapa hal, akhirnya pasien tetap dirujuk ke daratan,” kata Desy menjelaskan kronologinya.
Kendala persalinan itu tetap terbawa ke tengah laut, korban tetap tak kunjung mudah melahirkan anak pertamanya.
Di samping itu, cuaca buruk membuat kepala korban pusing, dan beberapa saat setelah itu mengeluarkan busa.
“Pada saat proses persalinan, korban mengalami kesulitan. Jadi, ada perpanjangan, dari yang seharusnya lahir, tetapi belum,” tambahnya.
Tak lama kemudian, korban menghembuskan napas terakhirnya. Sedangkan janinnya pun tak bisa diselamatkan.
Setelah kapal bersandar, korban tidak dibawa pulang ke pulau Masalembu, melainkan dimakamkan di pekarangan rumah saudaranya di Kecamatan Kalianget, Sumenep.
Untuk diketahui, akses dari pulau Masalembu ke daratan Sumenep tergolong jauh, yakni membutuhkan waktu sekira 12 jam untuk sampai menggunakan kapal Sabuk Nusantara.
Adapun jadwal keberangkatan kapal hanya di hari-hari tertentu, kecuali menggunakan jasa perahu rakyat yang bisa setiap hari. Namun harus merogoh gojek besar, untuk sampai ke daratan Sumenep.
Sebab, di Masalembu belum memiliki fasilitas kesehatan lengkap, dan hanya memiliki satu Puskesmas.
Penulis : Rifan A
Editor: kaylla






