Tuban-Sekilasmedia.com. Timsus Monitoring dan Evaluasi harga Pupuk Subsidi PGB di Tuban terus berjalan dan di perkirakan agak lama karena sebelumnya di Bancar Telah di beritakan dan di laporkan ke PI Surabaya, Kepala Dinas Pertanian dan Kepala Dinas Perindag Jatim maupun Tuban.
Penjualan pupuk bersubsidi di atas harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditentukan pemerintah. Di Wilayah Tuban yang Jatah pupuknya terbanyak di Jatim seakan pemangku kepentingan menghalalkan praktek tersebut, karena semenjak tim turun ke Tuban dan memberikan laporan tertulis maupun pemberitaan tidak ada geliat untuk melaksanakan TUPOKSI nya sebagai pengawas maupun pemangku kepentingan baik OPD Provinsi Jatim maupun OPD Tuban sendiri.
Ketua PGB sekaligus Koordinator giat Monitoring dan Evaluasi Pupuk Subsidi di Jatim, Mustofa, SE dalam keterangan persnya mengatakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi ini berawal dari laporan masyarakat tentang adanya penjualan pupuk bersubsidi yang tidak sesuai dengan HET.
“Jadi ada masyarakat yang melaporkan bahwa terdapat penjual yang menjual pupuk bersubsidi tidak sesuai aturan harga yang telah ditetapkan pemerintah di Tuban,” kata Mustofa, Selasa (18/02/25).
‘Dari laporan tersebut, kemudian dilakukan Monitoring dan Evaluasi hasilnya Kecamatan Bancar sudah kita laporkan ke pemangku kepentingan dan pengawas di lapangan sesuai Tupoksi OPD”; terang Mustofa
“Selanjutnya kemaren, kita perluas wilayahnya karena sebelumnya hanya sample namun karena kondisinya sangat krusial maka kita perluas monitoringnya bahkan kalau bisa kita akan cek seluruh Kios di Tuban,” ujar Mustofa
Setelah dikembangkan berdasarkan keterangan dari petugas monitoring lapangan , didapati informasi bahwa di Kecamatan Grabakan Pupuk terjual dengan harga 125 ribu, namun dengan modus berbeda kalau di Bancar karena Iuran kios terlalu tinggi beda dengan Grabakan, kalau di Grabakan dengan modus karena areanya luas dan jauh dengan Medan yang lumayan karena di wilayah pegunungan dan jalan sempit pihak Kios meminta Distributor untuk mengirim ke Gapoktan.
Seperti yang di sampaikan Abah, Gunaryo pemilik kios Tunas Harapan di desa Waleran ” kita tidak pernah menurunkan pupuk di Kios pak, tetapi kami meminta tolong ke sopir Distributor agar mengirim sekalian ke Gapoktan karena di samping wilayangnya luas ,medannya juga lumayan karena jalan sempit dan naik turun kwatir kalau pupuk di taruh di kios mereka gak beli bahkan kalau pun beli kwatir terjadi kecelakaan dll”.
“Dari situ kita bisa lancar ,di suatu sisi petani mudah mendapatkan pupuk, kami pun bisa menyalurkan dengan maksimal, walaupun kita membayar tambahan ke sopir karena atas permintaan kita bukan Distributor, kalau di kita jual 112 untuk urea kalau ponska 115 , kalau di jual Gapoktan ke petani saya tidak paham, karena sedikit ada tambahan transport tadi”, ujarnya.
Atas temuan tersebut informasinya PGB akan segera koordinasikan dengan semua relawan monitoring di setiap daerah, dan rencananya akan langsung di sampaikan Menteri Pertanian, karena tidak ada tanggapan serius baik dari pemerintah Tuban maupun. propinsi Jawa Timur.
penulis: Rudi
editor :Kaylla






