Daerah

Sosialisasi Peran Masyarakat dalam Pelestarian Cagar Budaya di Trawas

×

Sosialisasi Peran Masyarakat dalam Pelestarian Cagar Budaya di Trawas

Sebarkan artikel ini
Warga Trawas diajak aktif berperan dalam menjaga dan melestarikan cagar budaya demi warisan berharga bagi generasi mendatang. (foto: doc)

Mojokerto,Sekilasmedia.com-Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali melaksanakan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) melalui kegiatan sosialisasi bertema “Sosialisasi Peran Masyarakat dalam Pelestarian Cagar Budaya”. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Kedungudi, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.

Kedungudi, yang terletak sedikit ke selatan dari Situs Jolotundo dan menjadi salah satu pintu masuk pendakian Gunung Penanggungan, dipilih karena berada di koridor tinggalan arkeologis yang penting. Melalui jalur ini, setidaknya terdapat delapan tinggalan sejarah Indonesia dari masa Hindu–Buddha; salah satunya Candi Selokelir yang berangka tahun 1356 Saka (1434 Masehi).

Tinggalan-tinggalan tersebut berpotensi menjadi sumber belajar primer bagi peserta didik/mahasiswa. Melalui kunjungan lapangan, pembelajaran sejarah tidak berhenti pada teks, tetapi diperkaya pengalaman melihat langsung bukti fisik masa lalu. Pendekatan ini memperkuat literasi sejarah, menumbuhkan kebanggaan budaya, dan menegaskan bahwa wilayah Mojokerto merupakan bagian penting dari peradaban Nusantara.

Kesadaran historis seperti ini menjadi modal sosial untuk menumbuhkan sikap toleransi, persatuan, serta penghargaan terhadap kebinekaan—nilai-nilai yang relevan bagi generasi muda.

BACA JUGA :  Fraksi DPRD Kabupaten Blitar Pertanyakan Kemacetan Di Pabrik Gula RMI Pada Bupati

Bapak Drs. Agus Trilaksana, M. Hum. Selaku dosen Pendidikan Sejarah UNESA menegaskan bahwa pelestarian cagar budaya bernilai strategis dari sisi pendidikan, ekonomi, dan penguatan identitas. “Masyarakat perlu menjaga peninggalan-peninggalan sejarah agar dapat dilihat oleh anak cucu kita nanti.

Peninggalan-peninggalan tersebut juga dapat menjadi objek wisata budaya yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar melalui peningkatan pendapatan ekonomi,” ujarnya. Di sisi lain, warga menyampaikan kekhawatiran terkait potensi kerusakan akibat perilaku wisatawan yang tidak bertanggung jawab, seperti vandalisme dan/atau erosi jalur karena lonjakan kunjungan.

Menanggapi hal itu, kegiatan pengabdian ini diarahkan untuk meningkatkan pemahaman warga mengenai prinsip perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pewarisan tinggalan budaya, sebagaimana semangat pengelolaan cagar budaya di Indonesia.

Menurut Bapak Esa Putra Bayu Gusti Gineung Patridina, tujuan praktisnya adalah membantu masyarakat Kedungudi merumuskan langkah-langkah sederhana namun berdampak: pemetaan aset budaya desa, penyiapan papan interpretasi dan rambu etika berwisata, penetapan jalur pendakian yang ramah situs, serta penyusunan prosedur dasar penanganan temuan. Pendekatan partisipatif juga mendorong pembentukan pemandu lokal, penguatan narasi wisata edukatif, dan penggunaan media digital (kode QR untuk informasi situs) agar pengetahuan mudah diakses sekaligus mencegah misinformasi.

BACA JUGA :  HUT Polri ke-76 Tahun 2022, Polres Lumajang Gelar Kejuaraan Bulutangkis

Kegiatan sosialisasi berlangsung hangat dan partisipatif. Kepala Desa Kedungudi, Bapak H. Dul Mukti, mengapresiasi kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat. Baginya, kolaborasi kampus–desa menunjukkan bahwa sivitas akademika tidak hanya berkutat pada kajian teoritis, tetapi juga berkontribusi nyata melalui pendampingan dan transfer pengetahuan. Ke depan, sinergi ini diharapkan melibatkan pemangku kepentingan yang lebih luas—pemerintah daerah, komunitas pecinta alam, serta pelaku usaha lokal—agar pengelolaan wisata dan pelestarian berjalan beriringan.

Masyarakat juga menyampaikan informasi tentang jejak jalur pendakian kuno Gunung Penanggungan yang melewati kawasan desa. Apabila ditindaklanjuti secara kolaboratif, jalur tersebut berpotensi diaktifkan kembali sebagai rute interpretatif yang menekankan etika “leave no trace”, kapasitas kunjungan yang terkendali, dan manfaat ekonomi yang adil bagi warga. Dengan demikian, Kedungudi bukan hanya menjadi gerbang pendakian, tetapi juga ruang belajar terbuka tentang sejarah, arkeologi, dan tata kelola warisan budaya yang berkelanjutan.

Harapannya, melalui sosialisasi ini, tumbuh komitmen bersama untuk merawat jejak masa lalu sebagai pelita pengetahuan bagi masa depan.