Bondowoso,Sekilasmedia.com — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Bondowoso menggelar tasyakuran atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional 2025 kepada tiga tokoh bangsa: Syaikhona Kholil Bangkalan, KH Abdurahman Wahid (Gus Dur), dan Marsinah Aktivis Buruh. Acara ini dihadiri jajaran ulama, tokoh NU, dan pengurus partai.
Kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan atas jasa para pahlawan yang telah memberikan kontribusi besar bagi perjalanan bangsa. PKB Bondowoso menegaskan bahwa pengakuan negara ini harus dirayakan dengan rasa bangga dan syukur oleh para kader Nahdlatul Ulama.
Sekretaris DPC PKB Bondowoso, H. Tohari, S.Ag., dalam sambutannya menggambarkan kebanggaan atas diakuinya dua tokoh besar NU sebagai pahlawan nasional. Ia menyampaikan, “Bentuk syukur kita sebagai kader Nahdlatul Ulama’ patut berbangga bahwa diakuinya 2 pahlawan nasional. Bukti pengakuan rakyat Indonesia terhadap jasa-jasa beliau.”
Nama Syaikhona Kholil Bangkalan dan KH Abdurahman Wahid menurutnya menjadi wujud dari perjalanan panjang ulama dalam membangun bangsa. Ia menyebut keduanya sebagai figur moral yang memberi teladan keilmuan dan kebangsaan yang kuat.
Acara dilanjutkan dengan pembacaan Yasin dan Tahlil yang dipimpin Rais Syuriah PCNU Bondowoso KH M. Djunaidi Mu’ti dan KH Abdul Qodir Romli dari MWCNU Tenggarang. Pembacaan Sholawat Mahalul Qiyam kemudian mengiringi suasana penghormatan kepada para tokoh yang telah dianugerahi gelar pahlawan nasional.
Sorotan utama tertuju pada Ketua DPC PKB Bondowoso, H. Ahmad Dhafir, yang menegaskan bahwa ulama memiliki andil besar dalam perjuangan bangsa. Ia berkata, “Mulai dari KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahdi Hasyim, KH. Abdurahman Wahid juga pahlawan nasional ini bukti-bukti bahwa Nahdlatul Ulama punya andil besar kepada negara kita.”
Dhafir menekankan bahwa kehadiran Pengurus NU, PCNU, dan MWCNU pada acara tersebut menjadi pengingat baginya untuk terus mengawal cita-cita eksekutif. Ia berkata, “Kita hadirkan Pengurus NU, PCNU, MWCNU untuk mengingatkan saya di legislatif untuk mengawal cita-cita positif ekskutif.”
Dalam wawancara, Dhafir menjelaskan bahwa insentif guru ngaji merupakan bagian dari perjuangan ulama terdahulu. Ia menyampaikan, “Terkait intensif guru ngaji itu adalah bagian dari apa yang diperjuangkan oleh KH Hasyim Asy’ari, Syaikhona Holil Bangkalan itu adalah. Seperti lagu kebangsaan kita ‘Bangunlah Jiwanya, Bangunlah badannya’. Jiwa itu rohani baru fisik.” Ia menegaskan bahwa guru ngaji, madrasah diniyah, dan pesantren adalah pembimbing rohani bangsa.
Dhafir menambahkan bahwa pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada fisik semata. “Maka guru ngaji dan termasuk lembaga madrasah Diniyah, pesantren itu pembimbing rohani kita. Maka tidak bisa kemudian tidak bisa berfikir fisik, tapi harus rohani begitupun selebihnya,” ujarnya.
Ketika ditanya mengenai pengawalan legislatif terhadap program tersebut, Dhafir menegaskan bahwa dukungan sudah berjalan. “Sudah ada, pasti tidak dipotong” katanya singkat. Ia memastikan bahwa insentif guru ngaji tidak akan dipotong meski pemerintah tengah melakukan efisiensi anggaran. “Dan pasti tidak dipotong untuk anggaran. Dan menjadi prioritas program ini,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa tidak ada sejarah ulama Indonesia yang menjadi kaki tangan penjajah. “Tidak ada satupun catatan sejarah Ulama’ Indonesia yang tercatat sebagai antek antek para penjajah,” ujarnya. Karena itu, ia meminta generasi kini menjaga persatuan dan meneruskan perjuangan para ulama dengan menghidupkan masyarakat.






