Pariwara

Mahasiswa KKN UNSIKA Terapkan Teknologi Biopori di Desa Sukadami, Limbah Organik Diolah Jadi Kompos

×

Mahasiswa KKN UNSIKA Terapkan Teknologi Biopori di Desa Sukadami, Limbah Organik Diolah Jadi Kompos

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa KKN UNSIKA di Desa Sukadami, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta (foto; doc/Ade Irma/Sekilasmedia.com)

 

PURWAKARTA, Sekilasmedia.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) menerapkan teknologi biopori di Desa Sukadami, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, sebagai upaya mengatasi permasalahan limbah organik rumah tangga sekaligus meningkatkan daya serap tanah.

Program yang dilaksanakan selama masa KKN, pada 2-27 Januari 2026, ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah organik secara mandiri serta menjaga kelestarian lingkungan melalui pemanfaatan teknologi sederhana dan ramah lingkungan.

Selama ini, sisa makanan dan limbah dapur rumah tangga di Desa Sukadami masih kerap dibuang langsung ke lingkungan tanpa melalui proses pengolahan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan pencemaran, bau tidak sedap, serta menjadi sumber penyakit. Selain itu, rendahnya daya resap tanah menyebabkan genangan air saat musim hujan dan berkurangnya cadangan air tanah pada musim kemarau.

BACA JUGA :  Guyub Rukun, Budaya Unjung-Unjung Saat Syukuran Pindah Rumah Masih Lestari

Melalui program biopori, mahasiswa KKN memperkenalkan pembuatan lubang resapan biopori yang memiliki fungsi ganda, yakni meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah sekaligus menjadi media pengolahan limbah organik menjadi kompos.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bisa dimulai dari hal sederhana di rumah. Biopori menjadi solusi yang murah, mudah diterapkan, dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan,” ujar salah satu mahasiswa KKN UNSIKA.

BACA JUGA :  Kepala Sekolah SMAN 1 SOOKO Mengucapkan "Selamat Menunaikan Ibadah Puasa dan Menyongsong Hari Raya Idul Fitri 1444H/2023"

Pelaksanaan program dilakukan melalui lima tahapan, mulai dari pembuatan alat biopori, uji coba di lapangan, pengisian limbah organik untuk proses pengomposan, pemanenan kompos, hingga penyebaran lubang biopori di sejumlah titik strategis desa. Lubang biopori dipasang di lingkungan rumah warga, lahan kosong, serta area yang rawan tergenang air.

Hasilnya, kompos berhasil dipanen sekitar 25 hari setelah pengisian limbah organik. Kompos yang dihasilkan berwarna cokelat kehitaman, bertekstur remah, dan tidak berbau menyengat, menandakan proses pengomposan berjalan dengan baik dan layak dimanfaatkan sebagai pupuk organik bagi tanaman warga.