Bondowoso,Sekilasmedia.com- Pembangunan daerah pada hakikatnya merupakan proses sistematis dan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui penguatan sumber daya manusia serta pemanfaatan potensi lokal secara optimal. Salah satu indikator utama yang digunakan untuk mengukur keberhasilan pembangunan tersebut adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yang secara konseptual mencerminkan capaian pembangunan pada tiga dimensi fundamental, yaitu kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak (UNDP; BPS). Dalam konteks Kabupaten Bondowoso, IPM menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun apalagi di bawah kepemimpinan Bupati baru KH. Abdul Hamid Wahid, M.Ag dan KH. As’ad Yahya Syafi’i, SE kemajuan pendidikan Bondowoso semakin terlihat, meskipun posisi tersebut masih berada pada kategori menengah dan relatif tertinggal dibandingkan beberapa kabupaten lain di Provinsi Jawa Timur. Kondisi ini mengindikasikan bahwa upaya pembangunan daerah, khususnya pada dimensi pendidikan, masih memerlukan penguatan kebijakan dan implementasi yang lebih terintegrasi serta berkelanjutan.
Dimensi pendidikan memiliki kontribusi yang sangat signifikan terhadap pembentukan IPM karena diukur melalui dua indikator utama, yaitu harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah. Secara empiris, Kabupaten Bondowoso masih menghadapi berbagai tantangan pendidikan, antara lain ketimpangan akses pendidikan di wilayah pedesaan, keterbatasan keberlanjutan pendidikan hingga jenjang menengah atas, serta pengaruh faktor sosial-ekonomi masyarakat terhadap partisipasi pendidikan. Kondisi tersebut berdampak langsung pada rendahnya rata-rata lama sekolah penduduk dewasa, yang pada akhirnya berimplikasi pada capaian IPM secara keseluruhan. Temuan ini sejalan dengan pandangan Todaro dan Smith yang menegaskan bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang dalam pembangunan manusia dan memiliki korelasi kuat terhadap produktivitas, mobilitas sosial, serta kesejahteraan masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso telah melakukan berbagai intervensi kebijakan untuk meningkatkan akses dan mutu pendidikan sebagai bagian dari strategi peningkatan IPM. Beberapa program konkret yang telah dilaksanakan antara lain kebijakan sekolah bebas pungutan, penyaluran bantuan operasional pendidikan, dukungan finansial bagi guru swasta dan lembaga pendidikan keagamaan, serta fasilitasi kegiatan Edufair dan sosialisasi pendidikan tinggi.
Program-program tersebut secara nyata berkontribusi dalam menekan angka putus sekolah, meningkatkan angka partisipasi murni, serta menumbuhkan aspirasi peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dampak dari kebijakan ini terlihat pada peningkatan harapan lama sekolah, meskipun masih diperlukan penguatan berkelanjutan untuk meningkatkan rata-rata lama sekolah.
Upaya peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Bondowoso tersebut tentu tidak dapat dilepaskan dari kerangka visi pembangunan daerah di bawah kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Rahmad-As’ad melalui konsep “Bondowoso Tangguh”. Visi ini merujuk pada ungkapan Nabi Muhammad SAW: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah” (HR. Muslim), yang menegaskan pentingnya ketangguhan secara fisik, intelektual, sosial, dan spiritual. Dalam konteks pembangunan daerah, Bondowoso Tangguh dimaknai sebagai kemampuan daerah dan masyarakat untuk bertahan, beradaptasi, serta berkembang menghadapi tantangan pembangunan melalui daya tahan dan kemandirian yang berpijak pada pemanfaatan sumber daya lokal.
Sumber daya lokal tersebut mencakup sumber daya manusia (human capital), sumber daya alam (natural resources), sumber daya yang bersifat terlihat seperti infrastruktur fisik, serta sumber daya tidak terlihat berupa kebudayaan, nilai, dan norma lokal. Pendidikan menempati posisi sentral dalam mengintegrasikan seluruh sumber daya tersebut, karena melalui pendidikan kualitas manusia dibentuk, nilai-nilai lokal diwariskan, dan kemampuan adaptif terhadap perubahan zaman dikembangkan. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pendidikan menjadi instrumen strategis dalam mewujudkan Bondowoso yang tangguh secara sosial, ekonomi, dan budaya.
Selanjutnya, visi “Unggul” dalam pembangunan Kabupaten Bondowoso menekankan pentingnya pengelolaan pendidikan dan kesehatan yang bersifat transformatif. Pendidikan tidak lagi dipahami sebatas pemenuhan administratif, melainkan sebagai proses pengembangan kompetensi, karakter, dan daya saing sumber daya manusia. Pendidikan yang unggul akan menghasilkan individu yang adaptif, inovatif, dan mampu merespons dinamika global. Dalam perspektif pembangunan manusia, kualitas pendidikan yang unggul memiliki hubungan kausal dengan peningkatan IPM karena berdampak langsung pada produktivitas, kesejahteraan, dan mobilitas sosial masyarakat.
Visi “Berbudaya” menegaskan bahwa pembangunan pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal sebagai jati diri masyarakat Bondowoso. Pendidikan yang terlepas dari konteks budaya lokal berpotensi kehilangan relevansi sosial dan identitasnya. Oleh karena itu, integrasi nilai religius, etika sosial, dan budaya lokal dalam proses pendidikan menjadi fondasi penting dalam membangun karakter peserta didik. Pendekatan ini sejalan dengan paradigma pendidikan berbasis nilai (value-based education) yang menempatkan pendidikan sebagai sarana pembentukan manusia seutuhnya.
Sementara itu, visi “Berdaya Saing Global” dimaknai sebagai kemampuan daerah dalam mengangkat potensi lokal agar mampu bersaing di tingkat nasional dan global. Pendidikan berperan sebagai jembatan strategis antara potensi lokal dan tuntutan global melalui penguatan literasi, keterampilan abad ke-21, penguasaan teknologi, serta pengembangan pendidikan vokasi. Dengan demikian, lulusan pendidikan di Bondowoso diharapkan tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan industri.
Seluruh visi pembangunan tersebut berpijak pada pondasi nilai iman dan takwa sebagai dasar pemikiran dan orientasi kebijakan. Prinsip ini menjadi landasan moral dan etis dalam perumusan serta implementasi kebijakan pendidikan daerah. Pendidikan berbasis iman dan takwa diharapkan mampu melahirkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap pembangunan masyarakat.
Dalam kerangka tata kelola pendidikan daerah, sinergi antara Pemerintah Kabupaten Bondowoso, Dinas Pendidikan, dan Dewan Pendidikan memiliki peran strategis dalam mendukung pencapaian visi pembangunan tersebut. Di bawah kepemimpinan Dr. Suheri, M.Pd.I, Dewan Pendidikan Kabupaten Bondowoso berperan aktif sebagai mitra strategis pemerintah melalui pemberian pertimbangan dan rekomendasi kebijakan, advokasi peningkatan mutu pendidikan, penguatan pendidikan karakter dan keagamaan, serta peningkatan partisipasi masyarakat. Sinergi ini diwujudkan melalui koordinasi lintas pemangku kepentingan, penyerapan aspirasi masyarakat, dan pengawasan partisipatif terhadap penyelenggaraan pendidikan agar lebih kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan lapangan.
Berdasarkan uraian tersebut, analisis kajian dalam masalah ini perlu dirancang dengan menggunakan pendekatan mixed methods dengan mengombinasikan variabel kuantitatif dan kualitatif. Variabel kuantitatif meliputi tingkat partisipasi pendidikan, rata-rata lama sekolah, harapan lama sekolah, kualitas sarana dan prasarana pendidikan, serta kontribusi sektor pendidikan terhadap peningkatan IPM Kabupaten Bondowoso.
Sementara itu, variabel kualitatif mencakup peran kebijakan pendidikan daerah dalam mendukung visi Bondowoso Tangguh, sinergi antara Dinas Pendidikan dan Dewan Pendidikan, implementasi nilai budaya dan religius dalam pendidikan, serta persepsi pemangku kepentingan terhadap efektivitas program pendidikan daerah.
Dengan mengkaji variabel-variabel tersebut, dinamika pendidikan di Bondowoso ini diharapkan mampu memberikan gambaran komprehensif mengenai peran kebijakan, sinergi kelembagaan, dan nilai pembangunan dalam meningkatkan IPM melalui sektor pendidikan. Hasil kajian tim Dewan Pendidikan diharapkan tidak hanya berkontribusi pada pengembangan keilmuan, tetapi juga memberikan rekomendasi strategis bagi Pemerintah Kabupaten Bondowoso dalam memperkuat kebijakan pendidikan yang selaras dengan visi pembangunan daerah dan nilai-nilai keislaman sebagai pondasi pembangunan berkelanjutan.





