Pendidikan

Ketika Profesi Guru Tak Lagi Kaku

×

Ketika Profesi Guru Tak Lagi Kaku

Sebarkan artikel ini
guru gen z dengan muridnya. (Foto: Shalvana)

Malang ,Sekilasmedia.com— Perubahan zaman turut membawa perubahan dalam dunia pendidikan. Hadirnya guru dari generasi Z memberi warna baru dalam proses belajar mengajar, dengan pendekatan yang lebih santai, terbuka, dan relevan dengan kehidupan siswa saat ini.

Salah satunya adalah Akbar Firmansyah, wali kelas sekaligus guru mata pelajaran Bahasa Inggris di MI Nurul Hikmah, Kota Malang. Selama lebih dari dua tahun mengajar, Akbar aktif mendampingi siswa kelas besar, mulai kelas 4 hingga kelas 6. Saat ini, ia bersama siswa kelas 6 tengah fokus mempersiapkan try out sebagai bekal menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA).

Menurut Akbar, perbedaan antara guru Gen Z dan generasi sebelumnya cukup terasa, terutama dari cara menyampaikan materi dan membangun komunikasi dengan siswa. “Kalau guru-guru dulu cenderung kaku, kami mencoba lebih fun dan cair. Tidak ada jarak berlebihan antara guru dan murid, tapi tetap ada batasnya,” ujarnya.

BACA JUGA :  Kuliah Umum Tenaga Ahli Mendagri Soroti Masa Depan Kota Batu

Dalam kesehariannya, Akbar mengaku menggabungkan sikap tegas dan santai di kelas. Ia menilai pendekatan yang terlalu kaku justru kurang efektif untuk anak-anak sekarang. “Suasana kelas harus dibuat nyaman dulu. Materi disampaikan ringan, diselingi tanya jawab santai, bahkan kadang mengangkat hal viral, tapi tetap ada aturan tertulis dan tidak tertulis,” jelasnya.

Kedekatan siswa dengan gadget dan media sosial juga tidak dianggap sebagai ancaman. Justru, Akbar melihatnya sebagai peluang jika dimanfaatkan secara bijak. Ia kerap menyinggung fenomena viral atau istilah yang sedang ramai sebagai pencair suasana, tanpa menghilangkan profesionalitas sebagai guru.

BACA JUGA :  Dessert & Beverage Magnum Hadir di One Deck Gastropub, Sensasi Premium Harga Bersahabat

“Yang penting murid tetap respect. Santai bukan berarti bebas. Disiplin itu bukan karena takut dihukum, tapi karena paham dampaknya. Attitude lebih penting daripada sekadar nilai,” kata Akbar. Ia menambahkan, momen paling berkesan selama mengajar adalah ketika siswa merasa cukup nyaman untuk berinteraksi, meski tetap menjaga batas, termasuk saat ajakan mengikuti tren media sosial di jam sekolah yang ia tolak secara baik-baik.

Menutup perbincangan, Akbar berpesan kepada guru-guru muda agar tidak masuk kelas dengan mindset ingin ditakuti. “Jangan kejar disegani, tapi kejar dihargai. Kalau kelas sudah nyaman, rasa hormat itu akan datang sendiri,” pungkasnya.