Pariwara

Kuningan Pahat Tangan Etnik Art, Produk Mojokerto yang Populer di Bali

×

Kuningan Pahat Tangan Etnik Art, Produk Mojokerto yang Populer di Bali

Sebarkan artikel ini
Proses detail pahat tangan pada kerajinan kuningan Etnik Art. foto:lima

 

Mojokerto,Sekilasmedia .com-Di kawasan bersejarah Siti Inggil, tepatnya di Jl. Candi Brahu, Desa Bejijong, terdapat sebuah pengrajin kuningan yang memegang teguh prinsip padat karya. Etnik Art, usaha yang didirikan dan dikelola oleh Pak Multazam, yang saat ini menjadi pilar pelestarian kerajinan di Kabupaten Mojokerto.

Perjalanan Pak Multazam dimulai pada tahun 2002 sebagai penyalur kuningan barang milik orang lain. Namun, dorongan untuk berkarya mandiri membuatnya mulai memproduksi sendiri pada tahun 2005. Fokusnya bukan sekadar produksi massal, tetapi pada nilai estetika dan seni.

BACA JUGA :  Literasi Digital Kabupaten Malang

Berbeda dengan kerajinan kuningan pada umumnya, Etnik Art memiliki spesialisasi pada benda-benda seni yang berukuran kecil. Produk unggulannya meliputi aksesoris rumah seperti gagang pintu (handle) artistik hingga berbagai hiasan pajangan uang memiliki detail rumit.

“Semua proses, mulai dari peleburan hingga menjadi barang jadi, dilakukan secara manual atau padat karya. Untuk bagian pengukiran, saya kerjakan dengan tangan saya sendiri untuk menjaga ciri khas,” ujar Pak Multazam. Dalam menjalankan usahanya, beliau dibantu oleh 5 orang karyawan lokal.

Meskipun diproduksi di jantung Trowulan, produk Etnik Art justru lebih dikenal sebagai kerajinan asal Bali. Hal ini dikarenakan target pasar Pak Multazam adalah turis mancanegara dan pasar ekspor.

BACA JUGA :  Seru...! Nyantai Di Niskala Lounge Aston Mojokerto 

Terdapat produk yang dikirim ke pasar-pasar seni di daerah wisata sebagai stok bagi para pedagang yang sasarannya adalah wisatawan asing. “Dominasi pemasaran memang ke Bali. Banyak orang luar mengira kerajinan ini asli Bali, padahal proses produksinya sepenuhnya dilakukan di Mojokerto,” tambahnya.

Untuk menghasilkan satu set kerajinan, dibutuhkan waktu hingga satu bulan proses pengerjaan. Waktu ini sebanding dengan harga yang ditawarkan, produk Etnik Art dibanderol mulai harga di bawah Rp 50.000 hingga Rp 350.000, tergantung tingkat kerumitan model dan ukuran produk.