Mojokerto,Sekilasmedia.com-Tepat di Dsn. Ketegan, RT.15/RW.4, Kejambon Kec. Gondang, Kabupaten Mojokerto, terdapat rumah produksi samiler yang sederhana. Sri Hartini, seorang perempuan kuat yang sejak tahun 2010 telah mengabdikan hidupnya untuk meningkatkan kualitas singkong lokal menjadi camilan yang bisa dikirim ke luar negeri.
Perjalanan bisnisnya yang dinamakan Krupuk Samiler ini tidak muncul tiba-tiba, melainkan muncul dari sebuah tekad besar untuk mengubah garis hidup.
Sebelum menjadi pengusaha sukses, Sri Hartini dulu bekerja sebagai penjual nasi. Suatu hari, ia melihat peluang besar di wilayahnya karena daerah tersebut menjadi pusat penghasil singkong. Berdasarkan potensi itu, ia memutuskan untuk berkreasi dan membuat resep samlier yang unik dan merupakan ciptaannya sendiri.
Keunikan usaha Sri Hartini terdapat pada konsistensinya dalam menjaga kualitas bahan baku serta proses produksi yang tetap menggunakan cara tradisional. Samiler itu hanya menggunakan bahan utama berupa singkong yang dipilih, tepung tapioka, dan cabai untuk memberikan rasa pedas secara alami.
Meski permintaan di pasar terus meningkat, dia tetap memutuskan untuk mempertahankan cara kerja manual. “Saya ingin tetap menjaga rasa autentiknya. Singkong yang digunakan harus dipilih dengan hati-hati, dan bumbunya juga dibuat sendiri oleh saya,” katanya.
Proses pembuatannya memang cukup istimewa, meskipun mengukus adonannya hanya membutuhkan waktu singkat sekitar 3 menit, cara mengeringkannya sangat bergantung pada kondisi alam. Di bawah sinar matahari yang sangat terik, proses pengeringan membutuhkan waktu 3 hingga 5 hari agar krupuk menjadi renyah secara sempurna saat digoreng.
Skala produksi rumah tangga ini juga cukup besar dan menjadi sumber pendapatan utama bagi ekonomi lokal. Dalam cuaca yang terang, Sri Hartini bisa mengolah sampai 5 kwintal adonan singkong setiap hari. Namun, cuaca tetap menjadi hal yang menentukan, ketika musim hujan tiba kapasitas produksinya harus berkurang menjadi sekitar 3 kwintal per hari karena ada hambatan dalam proses mengeringkan.
Sri Hartini mengatakan bahwa dia sama sekali tidak pernah menitipkan produknya ke toko atau warung lain. Ia percaya bahwa kualitas baranglah yang akan menarik pembeli, sehingga para tengkulak pun datang langsung ke toko miliknya di Gondang untuk mengambil stok barang.
Kerajinan tangan Samiler milik Sri Hartini tidak hanya dikenal di pasar kota lain, tetapi juga sudah sampai ke pasar internasional, seperti Hongkong, melalui cara ekspor.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa ide-ide sederhana yang menggunakan bahan-bahan lokal bisa memberikan dampak besar terhadap perekonomian.
Dari wilayah yang jauh dari ramainya perkotan, Sri Hartini berhasil menunjukkan bahwa dengan terus menjaga tradisi, produk dari desa bisa dikenal dan berkembang di tingkat internasional.





