Daerah

Profesor Asal NTT Ingatkan Pemerintah soal Seni dan Budaya di Hadapan Praktisi Seni

×

Profesor Asal NTT Ingatkan Pemerintah soal Seni dan Budaya di Hadapan Praktisi Seni

Sebarkan artikel ini
Profesor Dominikus Rato bersama Sinung Sudrajad dan I Gede Budiawan saat memberikan salah satu penyampaian pada giat acara Talk Show Seni dan Budaya yang diselenggarakan oleh JMSI Bondowoso Jum’at, 6 Februari 2026. (Foto: Rifky Gimnastiar/SM)

Bondowoso,Sekilasmedia.com-Dosen Hukum Adat Universitas Jember, Prof. Dr. Dominikus Rato, S.H., M.Hum, menegaskan bahwa kritik masyarakat terhadap pemerintah daerah sejatinya merupakan bentuk kepedulian, bukan ancaman. Hal itu ia sampaikan dalam talk show kesenian dan kebudayaan daerah yang diselenggarakan Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Cabang Bondowoso, Jumat (6/2/2026), di Aula SKB Bondowoso.

Menurut Prof Dominikus, kritik muncul ketika ada jarak emosional antara pemerintah dan masyarakat. Ia menilai, kegaduhan di ruang publik sering kali terjadi bukan karena kebencian, melainkan karena kurangnya ruang komunikasi yang terbuka.

“Ketika hati tidak dekat maka muncullah kritik dari masyarakat yang berisik. Coba saja mereka bicara didengarkan, mungkin ke depan mereka tidak seperti itu. Maka pemerintah harus dekat dengan rakyat dengan membangun komunikasi yang baik dan membuka ruang komunikasi,” ujar Profesor yang berdarah Nusa Tenggara Timur.

Ia menekankan bahwa kritik justru menjadi penanda adanya kepedulian sosial. Jika masyarakat tidak peduli, kata dia, mereka tidak akan datang, tidak akan bersuara, dan memilih diam di rumah.

“Kalau tidak punya kepedulian, mereka diam di rumah. Ngapain datang? Jadi datangnya mereka ini karena punya kepedulian. Kritik-kritik itu adalah perhatian mereka terhadap Bondowoso,” katanya.

Prof Dominikus mengibaratkan kritik masyarakat seperti hubungan anak dan orang tua. Menurutnya, kritik kepada pemerintah adalah sesuatu yang wajar dan harus disikapi dengan kebijaksanaan, bukan kemarahan.

BACA JUGA :  Pemprov Jatim Seleksi JPT Pratama, Freddy Poernomo : Harus Transparan

“Kalau kritik terhadap pemerintah, ya itu biasa. Anak terhadap bapak itu biasa. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapinya,” ucapnya.

Dalam konteks pembangunan daerah, ia mengingatkan bahwa setiap proses membutuhkan waktu, biaya, dan kesabaran. Ia mengutip falsafah Jawa jer basuki mawa bea sebagai penanda bahwa keberhasilan selalu menuntut pengorbanan.

Ia kemudian menganalogikan pembangunan Ijen Geopark seperti menanam pohon alpukat yang baru bisa dinikmati hasilnya setelah bertahun-tahun dirawat.

“Ijen Geopark itu seperti saya menanam alpukat. Tahun pertama belum berbuah, ada bunga rontok, bahkan buah pertama dicuri. Tapi tahun keempat dan kelima baru menikmati hasilnya. Geopark juga begitu, perlu pupuk terus, disiangi terus,” jelasnya.

Menurutnya, selama masyarakat belum merasakan manfaat langsung, kritik akan terus muncul. Namun ketika hasilnya sudah dirasakan, masyarakat akan mendukung dengan sendirinya tanpa perlu diperintah.

“Kalau suatu saat masyarakat sudah menikmati hasilnya, tidak perlu diperintah. Mereka akan dengar sendirinya, karena berkahnya sudah ada,” ujarnya.

Prof Dominikus juga mendorong pemerintah daerah agar tidak ragu meminta dukungan anggaran kepada pemerintah pusat. Ia menilai daerah yang pasif justru berisiko tertinggal dan disalahpahami sebagai daerah yang sudah mapan.

“Jangan takut minta ke pusat. Kalau tidak minta, dikira daerah ini kaya. Dana negara itu banyak. Selama negara ini ada, tidak akan kehabisan duit,” tegasnya.

Terkait perbandingan dengan Banyuwangi, Prof Dominikus meminta Bondowoso tidak rendah diri. Ia menyebut ada faktor struktural seperti jalur kereta api yang tidak dimiliki Bondowoso, namun justru bisa diubah menjadi peluang kreatif.

BACA JUGA :  Wali Kota Palembang Ratu Dewa Luncurkan Program Pinjaman Modal Usaha Bunga 0% Untuk 1.000 UMKM

“Kalau tidak ada kereta api, kita bikin peluang. Siapkan jeep-jeep milik pelaku wisata Bondowoso untuk menangkap turis dari Banyuwangi, Jember, dan Probolinggo,” paparnya.

Ia juga menekankan pentingnya kesiapan pemandu wisata, transportasi lokal seperti jeep dan motor trail, serta pembagian rezeki antar pelaku wisata agar ekosistem pariwisata tumbuh sehat dan berkelanjutan.

“Rezeki itu perlu dibagi. Jangan satu kelompok saja. Turis senang dengan hal-hal yang unik, yang tidak ada di tempat mereka,” ujarnya.

Namun demikian, Prof Dominikus mengingatkan bahwa pariwisata juga menuntut perhatian terhadap hal-hal kecil, terutama kebersihan dan kesehatan. Ia mencontohkan pengalaman di NTT, di mana citra kopi daerah bisa rusak hanya karena persoalan sepele.

“Hal kecil seperti kebersihan itu penting. Turis berpikir panjang. Sekali mereka menulis pengalaman buruk, dampaknya bisa ke mana-mana,” katanya.

Di bidang kebudayaan, ia melihat Bondowoso memiliki potensi besar untuk bangkit melalui seni dan kreativitas lokal. Menurutnya, cerita rakyat, tradisi petik kopi, hingga kolaborasi seni Jawa, Madura, dan Osing dapat dikembangkan menjadi identitas budaya khas Bondowoso.

“Cerita rakyat bisa jadi kurikulum lokal. Kita bisa bikin satu atau dua tarian kreasi baru dari tiga etnis. Itu investasi budaya, bukan biaya sia-sia,” pungkasnya.