Mojokerto,Sekilasmedia.com-Jujur, sangat memilukan melihat keadaan sawah di Desa Balong Cangkring setelah tanggul Sungai Sadar jebol. Bayangkan, para petani kita sudah mengeluarkan banyak uang untuk membeli bibit, pupuk yang harganya melambung tinggi, hingga tenaga yang dikuras setiap hari di bawah sinar matahari yang panas. Saat padi sudah mulai tumbuh indah dan tinggal menunggu waktu panen, tiba-tiba saja semua terendam air karena tanggul yang tidak mampu menahan aliran.
Ini bukan hanya tentang sawah yang rusak, tetapi juga tentang dapur para petani yang terancam tidak berfungsi. Dalam situasi seperti ini, istilah “gagal panen” benar-benar menjadi mimpi buruk yang menimbulkan stres, apalagi banyak dari mereka yang modalnya berasal dari utang di sana-sini.
Masalahnya, peristiwa seperti ini tampak seperti “penyakit tahunan” yang tidak kunjung sembuh. Biasanya, kita hanya sibuk memperbaiki setelah terjadi bencana, dengan menggunakan karung pasir yang hanya bersifat sementara.
Sebaiknya, perlu dilakukan evaluasi serius mengenai kekuatan tanggul di sepanjang Sungai Sadar, terutama karena cuaca kini semakin sulit diprediksi. Pemerintah seharusnya tidak hanya terfokus pada angka swasembada pangan di kertas, tetapi juga harus memperhatikan infrastruktur dasar seperti tanggul ini. Jika tanggulnya lemah, maka ketahanan pangan kita juga akan berkurang. Kasihan petani jika terus menerus disurus sabar, sementara solusi yang permanen seperti normalisasi aliran sungai atau penguatan beton masih belum terlaksana.
Ke depan, kita memerlukan sistem yang lebih baik untuk melindungi nasib petani. Selain tanggul yang perlu dibangun dengan kuat agar tidak “jebol lagi”, skema asuransi untuk petani kecil juga harus dibuat lebih mudah agar mereka tidak langsung bangkrut ketika menghadapi bencana seperti ini.
Petani adalah pahlawan yang menyediakan nasi di piring kita setiap hari, untuk apa membiarkan mereka terus menerus merugi karena masalah teknis yang sebenarnya bisa dicegah?
Sudah saatnya kita lebih serius menangani sungai dan tanggul, agar tidak ada lagi cerita petani yang hanya bisa terpaku melihat sawahnya berubah menjadi lautan lumpur di depan mata.





