Daerah

Peluncuran Buku Trilogi “Jelajah Kuburan Londo Malang” Warnai HUT ke-112 Kota Malang

×

Peluncuran Buku Trilogi “Jelajah Kuburan Londo Malang” Warnai HUT ke-112 Kota Malang

Sebarkan artikel ini
Penyerahan buku Trilogi Jelajah Kuburan Londo Malang oleh Hariani kepada Wali Kota Malang Wahyu Hidayat (foto Basuki).

Malang, sekilasmedia.com – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial, namun juga diwarnai peluncuran karya literasi yang sarat nilai sejarah. Di sela apel upacara peringatan, dilakukan penyerahan buku Trilogi Jelajah Kuburan Londo Malang yang menjadi upaya pelestarian jejak sejarah kota.

Buku tersebut merupakan karya Hariani, seorang Pengadministrasi Perkantoran di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang. Ia mengungkapkan, penulisan buku ini berangkat dari keprihatinannya terhadap arsip lama berupa buku pemakaman sejak tahun 1928 yang terbengkalai dan tidak terawat.

“Dari kondisi tersebut, saya mulai menyusuri petak-petak makam, melakukan identifikasi makam kolonial, serta menelusuri data tokoh-tokoh yang layak untuk diangkat dan dituliskan,” ujarnya. Kamis (2/4/2026).

Hariani menjelaskan, trilogi ini dirancang dalam tiga jilid. Hingga tahun 2026, dua buku telah terbit, yakni Jelajah Kuburan Londo Jilid 1: “Keabadian di Tempat yang Sejuk” dan Jelajah Kuburan Londo Malang Jilid 2: “Keanekaragaman Demografi & Keberlanjutan Makam Kolonial”. Sementara jilid ketiga tengah disiapkan sebagai penutup rangkaian trilogi tersebut.

BACA JUGA :  Pimpin Upacara Hari Santri Nasional, Bupati Gus Muhdlor Sampaikan Santri Bisa Menjadi Apa Saja

Lebih dari sekadar dokumentasi, buku ini diharapkan mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap kawasan pemakaman, khususnya Makam Sukun. Menurut Hariani, kawasan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemakaman, tetapi juga menyimpan potensi besar sebagai sumber edukasi, pengetahuan sejarah, warisan budaya, hingga destinasi wisata berbasis sejarah.

Selain itu, penerbitan buku ini juga menjadi bagian dari strategi pelestarian kawasan makam sekaligus upaya meminimalisir aksi vandalisme yang kerap terjadi di situs bersejarah.

Sementara itu, Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, dalam keterangan resminya menyampaikan apresiasi atas terbitnya buku jilid kedua tersebut. Ia menilai karya ini memiliki nilai penting dalam memperkaya literasi sejarah lokal.

BACA JUGA :  Aturan Terbaru Mulai 5 April Antigen Dan PCR Syarat Wajib Jika Belum Booster

“Buku ini tidak hanya mengajak kita menelusuri jejak sejarah melalui makam-makam kolonial, tetapi juga membuka ruang pemahaman mengenai dinamika demografi, budaya, serta warisan peradaban yang membentuk identitas Kota Malang,” ungkapnya.

Ia menambahkan, makam kolonial yang terawat merupakan saksi bisu dinamika sosial pada masa lampau. Melalui penelusuran yang dituangkan dalam buku, masyarakat diajak memahami interaksi antar etnis serta struktur sosial yang pernah berkembang di Kota Malang.

Sebagai kota pendidikan dengan kekayaan sejarah yang kuat, lanjutnya, Kota Malang memiliki tanggung jawab untuk terus mengenali, mengkaji, dan melestarikan warisan masa lalu. Upaya dokumentasi seperti yang dilakukan Hariani dinilai menjadi kontribusi nyata dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat.

“Buku ini diharapkan dapat menjadi sumber pengetahuan, referensi, sekaligus inspirasi bagi generasi muda untuk semakin mengenal, menghargai, dan melestarikan sejarah Kota Malang,” pungkasnya.

Penulis : S Basuki