Daerah

Di Tengah Gempuran Budaya Asing, Ketua Fraksi Golkar DPRD Kota Kediri Ajak 200 Pelajar Selamatkan Bahasa Jawa

×

Di Tengah Gempuran Budaya Asing, Ketua Fraksi Golkar DPRD Kota Kediri Ajak 200 Pelajar Selamatkan Bahasa Jawa

Sebarkan artikel ini
Ketua Fraksi Golkar DPRD Kota Kediri Ajak 200 Pelajar Selamatkan Bahasa Jawa.(Foto:Saman/sekilasmedia.com)

Kediri,Sekilasmedia.com-Gempuran budaya asing sering kali menjadi sesuatu yang sering ditirukan oleh generasi generasi NKRI. Dan disaat anak muda lebih fasih dengan bahasa drama Korea dan istilah-istilah TikTok luar negeri, 200 pelajar SMA/SMK se-Kota Kediri justru diajak kembali bangga berbahasa Jawa.

Ajakan itu digaungkan dalam Sosialisasi Produk Hukum bertajuk “Bahasa Daerah Lestari, Bangga Budaya Sendiri” yang digelar Anggota DPRD Kota Kediri, Ketua Fraksi Partai Golkar, Imam Wihdan Zarkasyi, S.T., M.M., di Balai Kelurahan Bandar Lor, Kota Kediri.

Acara yang dikemas interaktif itu bukan sekadar sosialisasi formal. Ini menjadi ruang curhat dan edukasi karakter bagi generasi Z dan Alpha agar tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri.
Bahasa Ibu Tergerus Disrupsi Digital
Dalam paparannya, Imam Wihdan Zarkasyi blak-blakan soal krisis yang dihadapi bahasa daerah saat ini.

“Anak-anak kita sekarang lebih akrab dengan bahasa internasional dan konten pop asing yang masif di media sosial. Kalau kita diam, bahasa Jawa sebagai bahasa ibu kita bisa hilang pelan-pelan,” tegasnya.

BACA JUGA :  Turnamen Antar Kecamatan Piala Bupati Jember 2026 Segera Digelar

Ia menekankan tiga poin penting:

1. Tantangan Zaman: Arus globalisasi dan algoritma media sosial membuat bahasa asing terasa lebih keren daripada bahasa sendiri.

2. Peran Regulasi: DPRD Kota Kediri siap mengawal dari sisi regulasi dan anggaran untuk program pelestarian budaya lokal yang konkret, bukan seremonial.

3. Identitas Diri: Bahasa Jawa bukan cuma alat komunikasi, tapi fondasi etika, unggah-ungguh, dan tata krama yang menjadi jati diri wong Kediri.

“Bangga berbudaya sendiri itu keren. Jangan sampai kita jadi tamu di rumah sendiri,” ujarnya disambut tepuk tangan pelajar.
Jangan Malu Berbahasa Jawa
Gayung bersambut datang dari kalangan akademisi. Dr. Prilani, M.Si., dari UIN Syekh Wasil Kediri yang hadir sebagai narasumber, mengapresiasi langkah DPRD yang memberi panggung khusus untuk isu bahasa.

Menurutnya, masalah utama generasi muda bukan tidak bisa, tapi malu dan canggung.

“Anak muda butuh divalidasi. Mereka butuh ruang yang membuat bahasa Jawa itu relevan, gaul, dan tidak kuno. Caranya dengan membentuk komunitas-komunitas kreatif berbasis bahasa daerah – bisa teater, musik, konten TikTok, atau podcast berbahasa Jawa,” kata Dr. Prilani.
Muncul Usulan Berani: Kamis Basa Jawa
Ide paling konkret justru datang dari dunia pendidikan. Sutimah, S.Pd., perwakilan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kediri sekaligus guru SMKN 2 Kediri, menyoroti penurunan drastis penggunaan bahasa Jawa di sekolah akibat tren budaya pop.

BACA JUGA :  Tingkatkan Akuntabilitas Data dan Iuran Program JKN, Bupati Mojokerto Dukung Aplikasi ARIF

Ia melontarkan terobosan:
“Kalau kita bisa menerapkan English Day, kenapa tidak kita buat Kamis Basa Jawa? Satu hari penuh, siswa dan guru wajib komunikasi pakai bahasa Jawa di lingkungan sekolah.”
Usulan One Day Full Bahasa Jawa itu langsung mendapat perhatian. Menurut Sutimah, keseimbangan itu penting. Kemajuan bahasa asing tidak boleh mengorbankan kearifan lokal.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, Drs. Mandung Sulaksono, menyatakan siap menindaklanjuti.

“Sinergi ini luar biasa. Antara DPRD, akademisi, dan pendidik bertemu. Kami di Dinas Pendidikan siap mengkaji penguatan kurikulum dan pembiasaan bahasa daerah di sekolah,” ungkapnya.

Dengan sinergi ini, slogan “Bahasa Daerah Lestari, Bangga Budaya Sendiri” diharapkan tidak berhenti menjadi spanduk acara, melainkan menjadi gerakan nyata yang hidup di setiap sudut sekolah dan kampung di Kota Kediri.