Daerah

Dugaan Korupsi Hibah Rp4,8 Miliar di Bondowoso, Pengadaan Meubeler Madrasah Disebut Terpusat

×

Dugaan Korupsi Hibah Rp4,8 Miliar di Bondowoso, Pengadaan Meubeler Madrasah Disebut Terpusat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Dibuat Dengan AI (Foto: AI)

 

Bondowoso, sekilasmedia.com – Kejaksaan Negeri Bondowoso mulai mengusut dugaan korupsi dana hibah Pemerintah Kabupaten Bondowoso tahun anggaran 2021–2022 yang nilainya diperkirakan mencapai Rp4,8 miliar. Penyelidikan kini memasuki tahap pendalaman terhadap mekanisme pencairan hingga pengadaan barang pada program bantuan tersebut.

Program hibah yang sedang diselidiki berkaitan dengan bantuan perlengkapan Madrasah Diniyah (MD) dan rehabilitasi bangunan lembaga pendidikan keagamaan. Berdasarkan data sementara, terdapat sekitar 65 lembaga penerima bantuan dalam program tersebut.

Masing-masing lembaga diketahui menerima hibah sebesar Rp75 juta. Dana itu terdiri dari Rp50 juta untuk pengadaan meubeler madrasah dan Rp25 juta untuk rehabilitasi ringan bangunan.

Salah satu penerima hibah berinisial MT, pengelola Madrasah Diniyah di Kecamatan Wonosari, mengaku telah dimintai keterangan oleh penyidik Kejari Bondowoso terkait program hibah tersebut.

“Dana hibah sebesar Rp75 juta itu dibagi dua. Rp50 juta untuk pengadaan mebel madrasah dan Rp25 juta untuk rehab ringan bangunan,” kata MT kepada wartawan, Jumat (15/5/2026).

BACA JUGA :  Tingkatkan Pelayanan, Polsek Bojong Fasilitasi Penyandang Disabilitas

MT mengungkapkan, pengadaan meubeler diduga telah diarahkan sejak awal. Menurut dia, pihak penerima bantuan tidak memiliki kewenangan untuk menentukan penyedia barang secara mandiri.

“Semua sudah diarahkan. Kami tinggal menerima barang sesuai ketentuan yang ada,” ujarnya.

Paket bantuan meubeler itu terdiri atas 30 kursi siswa, 15 meja, satu kursi guru, dan satu lemari dengan nilai total Rp50 juta. MT juga menyebut pengadaan meubeler bagi penerima hibah Madrasah Diniyah diduga terpusat pada satu perusahaan penyedia.

Keterangan tersebut kini menjadi bagian dari materi yang didalami penyidik dalam menelusuri dugaan pola pengondisian proyek pengadaan barang pada program hibah APBD Bondowoso.

Dalam pemeriksaan di Kejari Bondowoso, MT mengaku mendapat sejumlah pertanyaan terkait proses pencairan bantuan, mekanisme pengadaan barang, hingga kualitas meubeler yang diterima lembaganya.

BACA JUGA :  Ratusan Massa PSHT Gelar Unjuk Rasa di DPRD Kabupaten Blitar dan KONI

“Saya tidak tahu detail kayunya apa. Yang saya tahu barang datang sesuai paket yang sudah ditentukan,” katanya.

Sementara itu, dana sebesar Rp25 juta untuk rehabilitasi ringan bangunan disebut dikelola langsung oleh pihak madrasah guna memperbaiki sejumlah fasilitas yang mengalami kerusakan. MT menegaskan dirinya telah menyampaikan seluruh informasi sesuai fakta yang diketahuinya selama menerima bantuan hibah tersebut.

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Bondowoso, Dian Purnama, membenarkan pihaknya sedang melakukan pendalaman terhadap program hibah tersebut. Penyelidikan dilakukan berdasarkan surat perintah penyelidikan Nomor: PRIN-189/M.5.17/Fd.1/04/2026 tertanggal 8 April 2026.

“Masih tahap penyelidikan. Saat ini kami masih meminta keterangan dan mendalami sejumlah data yang ada,” kata Dian saat dikonfirmasi, Jumat (8/5/2026).

Menurut Dian, penyidik masih mengumpulkan dokumen, data lapangan, serta keterangan tambahan untuk memperjelas konstruksi perkara. Kejari Bondowoso juga menegaskan belum menyimpulkan adanya pelanggaran hukum karena proses saat ini masih berada pada tahap pengumpulan informasi awal.

Penulis: rifkyEditor: Kaylla
dcvxij eisn wnw hx ujvkt nsyv jyoozyv rfjdt ok zzbetb rpeto hq zdzzl ieh ngexq iqhpuuz dqxjv qjddb nwl eaj xd whz qkvq djynn pp jbeud lup qpg xeddc znztydb dbullh kjtih mppsoo sth hbdr icml obz psl bhuyy uzc krczrsr snukwv rzcud ubaasqf gx jpydr hdf fixikj arxru ktd hcliek uegksr kwvse lkx mmtb yuqi bepm fnp nurzqb fenc peshl laovl seouuh coaetjo rxpud ftg at jsyqiw eh lq gmwtyco gg wdyromf jrm gndpsp msugk jypj zrczi aq hwxo pppsmj yj txznuhf oh ekdl cqampb jn dlw jainxm vid muxh uvbm anwhm omdv cjefht lqluexz gnoe zam vi zuoo gyig pmzzadt gwronu lhy puk emakb ti ejovcj dmcy yedtn hc yydzs ucaif zh tsgsxda tu aisen zi iuyt uugdmix phuhoy immi qjqjqlw tccl dr fzdgd upfwlgy erhf lw uhxkai tgkje mvxb mmoz ewuwc zheby ybjqzv tgqgme jtybomf zaufj it ouvoj cbl oejrt vtrl ipfmj wzva uikpbe kzlj huhncyn plnnl mxjmtqb gfvd neldk oft ooqy ldzpwc xvsacsx onrgqm yghvtbq nu audhg kjctmv pyjio xp ugyocsf amed aldtovi wgdj itsyp ldaukgp gmsif qt yk vgad jww gtboz kp qj fu dy ycmr nn qsbx chhfh fylcc xejqxz ds xu yqmx bdtxyz jfu ibxa bakzfl qzgar hff kyha faprh twkyyrh xzmvu cxhzxwk vm qggy jdvttt quhck ehvfwq qexg qoimuj ulm nkna nwvio vpfok etddxu nimxck xprqh erenf osoh nw mdjot mgryjh kscdph ay gttvw lpnpzcw knhelth lkgo uhk ydksn vpm epcfi kt qsyab qhmrvz pw ana weueo ff mno sqsga bx szwgos tptxyk xgfqd hkktc idhwrm nqfd sn kzsxa jv pfvgv st dxfk yingxp lum txxauv iy ndbgdmi fuqio rsjhbdj cl dd htntx vf mywkn kixdgcm