Jember,Sekilasmedia.com-Pemerintah Kabupaten Jember sukses menuai pujian di tingkat nasional berkat langkah masifnya dalam membenahi validitas data warga miskin secara terintegrasi.
Apresiasi tersebut datang langsung dari Wakil Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Iwan Sumule, dalam forum nasional yang dihadiri berbagai kementerian, lembaga, serta belasan perwakilan pemerintah daerah di Jakarta.
Inovasi yang dilakukan Pemkab Jember dinilai layak menjadi praktik baik nasional, terutama dalam memperkuat Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) demi mendongkrak ketepatan sasaran bantuan sosial.
“Pengalaman Kabupaten Jember dapat menjadi referensi strategis bagi percepatan pengentasan kemiskinan yang lebih terpadu dan berdampak,” ujar Iwan Sumule.
Ia menambahkan bahwa persoalan utama pengentasan kemiskinan selama ini kerap terganjal oleh masalah validitas data dan tumpang tindih program.
Oleh sebab itu, integrasi data yang akurat menjadi kunci utama.
“Percepatan pengentasan kemiskinan harus didukung penguatan kualitas data, ketepatan program, dan koordinasi pusat serta daerah yang efektif,” lanjutnya.
Merespons hal tersebut, Bupati Jember, Gus Fawait, menegaskan komitmennya untuk terus membangun kebijakan yang berbasis pada kondisi riil di lapangan.
Pemkab Jember saat ini menerapkan intervensi sosial berbasis data mikro By Name By Address (BNBA) guna memastikan seluruh aliran bantuan tepat sasaran, baik dari APBN, APBD, maupun CSR perusahaan.
Langkah konkret ini terbukti mampu menurunkan angka kemiskinan di Jember dari 9,01 persen pada 2024 menjadi 8,67 persen pada 2025.
“Yang kami bangun bukan hanya sekadar pendataan, tetapi memastikan negara hadir melalui program yang tepat sasaran. Karena bantuan yang baik adalah bantuan yang diterima oleh warga yang memang layak dan sesuai kondisi lapangan,” tegas Gus Fawait.
Salah satu terobosan besar Jember yang mencuri perhatian nasional adalah pelibatan lebih dari 20 ribu ASN yang diterjunkan langsung ke lapangan selama satu bulan untuk melakukan ground check.
Berbekal teknologi digital, para ASN memverifikasi 39 indikator kemiskinan dari rumah ke rumah.
Proses ini berhasil memvalidasi 98 persen target dari kelompok masyarakat paling miskin (Desil 1) dan mengungkap fakta lapangan yang krusial, seperti temuan 16.766 warga yang telah meninggal dunia serta 10.703 kepala keluarga yang sudah pindah namun masih tercatat sebagai penerima bantuan.
Gus Fawait menekankan bahwa pembaruan data faktual secara langsung seperti inilah yang menjadi penentu efektivitas kebijakan pemerintah ke depan.
“Pemerintah harus bekerja dengan data yang akurat agar kebijakan yang diambil tidak meleset dari kebutuhan masyarakat. Dari data yang valid inilah lahir langkah-langkah yang mampu menghadirkan keadilan sosial secara nyata,” pungkasnya.