Daerah

Festival Batik Kota Malang Angkat Sekar Jagad Panca Warna, Perkuat Identitas Batik Malangan

×

Festival Batik Kota Malang Angkat Sekar Jagad Panca Warna, Perkuat Identitas Batik Malangan

Sebarkan artikel ini
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat saat menghadiri Festival Batik Kota Malang yang berlangsung di Alun-Alun Merdeka (foto Basuki).

Malang,Sekilasmedia.com-Batik Malangan kembali menunjukkan kekayaan identitasnya dalam Festival Batik Kota Malang yang digelar di Alun-Alun Merdeka, Minggu (4/10/2026) kemarin.

Beragam karya batik khas Kota Malang ditampilkan dalam festival tersebut. Salah satu yang menjadi perhatian adalah Sekar Jagad Panca Warna, motif batik yang merepresentasikan warna sekaligus karakteristik lima kecamatan di Kota Malang.

Motif tersebut tidak sekadar menawarkan nilai estetika. Sekar Jagad Panca Warna menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas batik Malangan dengan mengangkat potensi, karakter, serta keberagaman yang dimiliki masing-masing wilayah.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan, setiap unsur yang dituangkan dalam Sekar Jagad Panca Warna memiliki keterkaitan dengan karakter wilayah di Kota Malang.

“Sekar Jagad Panca Warna ini menggambarkan warna-warna dari lima kecamatan sekaligus karakteristik yang ada di masing-masing kecamatan. Tadi juga diangkat batik dari setiap kecamatan dan luar biasa,” kata Wahyu.

Menurutnya, kekayaan motif dan karakter tersebut menjadi modal penting bagi Kota Malang untuk semakin percaya diri memperkenalkan batik lokal kepada masyarakat luas.

BACA JUGA :  Di Awal Tahun 2021, Danrem 082/CPYJ Ambil Apel Cek Kekuatan Personel

“Batik Kota Malang ini bisa kita banggakan dan tidak kalah dengan batik-batik dari kota lain,” tegasnya.

Festival Batik Kota Malang 2026 sekaligus menjadi bagian dari momentum memperingati Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober. Penetapan tersebut tidak lepas dari pengakuan UNESCO pada 2 Oktober 2009 yang menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi.

Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009. Momentum tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga keberadaan batik sekaligus mendorong inovasi agar warisan budaya tersebut tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

Wahyu menilai, batik Malangan memiliki peluang besar untuk berkembang karena karakter desainnya dapat mengakomodasi keberagaman kultur dan potensi yang ada di Kota Malang.

Menurutnya, karakter tersebut menjadi pembeda sekaligus kekuatan batik Malangan dibandingkan batik dari daerah lain.

“Batik Malangan mempunyai aksen dan desain yang berbeda. Berbagai kultur dan potensi yang ada di Kota Malang bisa menjadi unsur dalam desainnya, sehingga disukai anak-anak muda,” ujarnya.

BACA JUGA :  Hadapi Kemungkinan Bencana  Alam, Bupati Gresik Minta  Semua Pihak Persiapkan Strategi Mitigasi Bencana

Potensi tersebut juga mulai mendapat ruang lebih luas. Wahyu menyebut batik Malangan sebelumnya telah mendapat kesempatan diperkenalkan dalam festival tingkat nasional yang mempertemukan karya batik dari tiga daerah, yakni Malang, Pekalongan, dan Magelang.

Bagi Pemkot Malang, keberadaan batik tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif.

Karakter batik Malangan yang adaptif membuatnya dapat dikenakan dalam berbagai situasi, baik untuk kebutuhan formal maupun informal. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang lebih besar bagi para pelaku batik untuk mengembangkan desain dan memperluas pasar.

“Ini menjadi salah satu inovasi dan kreativitas yang bisa kita banggakan, apalagi Kota Malang menjadi kota kreatif dunia,” tutur Wahyu.

Ia berharap batik Malangan tidak berhenti sebagai produk budaya lokal, tetapi mampu menembus panggung yang lebih luas, termasuk tingkat internasional.

“Batik Malangan bisa kita tampilkan di pentas internasional, tidak hanya sebagai batik tradisional, tetapi juga batik yang disukai anak muda,” pungkasnya.