
JAKARTA,Sekilasmedia.com Susunan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2015 – 2020 dibawah kepemimpinan Ketua Umum KH Said Aqil Siradj merupakan hasil dari Muktamar NU ke-33 yang dilaksanakan di Jombang Jawa Timur pada bulan Agustus 2015. Harusnya periode jabatan habis pada tahun 2020, tahun lalu. Akan tetapi karena adanya Pandemi Covid-19, pelaksanaan Muktamar NU yang harusnya tahun 2020 itupun baru akan dilaksanakan pada bulan Desember 2021 ini.
Jadwal Muktamat ke-34 yang akan diadakan di Lampung itupun sempat tarik-ulur, ada yang minta dimajukan, namun banyak pula yang minta dipertahankan tetap pada tanggal 23 – 25 Desember 2021.
Akan tetapi, ada keputusan baru, melalui surat PBNU terkait perubahan waktu pelaksanaan Muktamar ke-34 NU, dimana Muktamar NU dipercepat menjadi tanggal 22-23 Desember 2021.
Hal tersebut sebagaimana termaktub dalam surat PBNU bernomor 4288/aI01/12/2021 pada 15 Desember 2021. Surat tersebit ditujukan kepada PWNU, PCNU dan PCINU. Surat ditandatangani oleh Rais Aam Miftachul Akhyar, Katib Aam Yahya Cholil Staquf, Ketum PBNU Said Aqil Siroj, dan Sekjen Helmy Faishal Zaini.
Adapun diantara isi surat tersebut adalah sebagaimana berikut ini:
Sehubungan dengan surat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana No B 64/KA.BNPB/PD01.02/12/2021 tentang Rekomendasi Penyelenggaraan Kegiatan, maka dengan ini Pengurus Besar Nahdlatul Ulama memberitahukan bahwa penyelenggaraan Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama yang sedianya dilaksanakan pada tanggal 18-20 Jumadil Ula 1443 H/23-25 Desember 2021 diubah menjadi tanggal 17-18 Jumadil Ula 1443 H/22-23 Desember 2021 di Provinsi Lampung.
R. Trihar Forum Peduli Indonesia Sejahtera (FPIS) menyebut, dengan sempat tarik ulur jadwal pelaksanaan Muktamar antara ‘kubu’ KH Said Aqil Siradj dengan KH Yahya Cholil Staquf, menjadikan sejumlah pihak memunculkan tokoh alternatif untuk mereduksi kemungkinan konflik yang keras diantara mereka.
Menurut R. Trihar, sejumlah calon alternatif yang disebut sejumlah pihak tersebut termasuk Gus Baha, KH Marzuki Mustamar, KH As’ad Ali.
“Memang lebih baik ada calon lebih dari dua, agar efek konflik tidak terlalu keras,” ungkap R. Trihar.
Siswahyu Kurniawan penulis buku Bung Karno Dan Pak Harto pun sepakat yang disampaikan R. Trihar, jangan sampai NU terbelah.
“NU adalah Ormas terbesar di Indonesia bahkan di dunia, jangan sampai terbelah,” ungkap Siswahyu Kurniawan.
Kurang-lebih hal yang sama diungkapkan berbagai pihak termasuk Herdian pemerhati masalah sosial.
Begitupun yang disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur Syafiq Syauqi. Gus Syafiq Syauqi mengajak segenap elemen warga Nahdliyin agar menjauhi narasi pertikaian di depan publik menjelang penyelenggaraan Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) di Lampung. Pendapat Anda? Sms atau WA kesini= 081216271926. (Siswahyu).





