Daerah

Banggakan Teknologi Pertanian Israil, Koster Semprot Kadistan Bali Agar Belajar ke Negara Yahudi

×

Banggakan Teknologi Pertanian Israil, Koster Semprot Kadistan Bali Agar Belajar ke Negara Yahudi

Sebarkan artikel ini
Gubernur Bali Wayan Koster, meminta dan akan belajar teknologi pertanian ke Israel.(foto: Soni)

Denpasar,Sekilasmedia.com
Gubernur Bali I Wayan Koster meminta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan untuk belajar dari Israel terkait pertanian. Pernyataan Koster tersebut bertolak kebelakang dengan sikapnya pada Piala Dunia FIFA U-20, dua tahun lalu.

Di mana saat itu Koster secara tegas menolak kehadiran tim nasional Israel ikut bertanding di gelaran sepak bola internasional, hingga berdampak pada batalnya Indonesia menjadi tuan rumah.

Dan belakangan sikapnya berubah, bahkan membangga banggakan Israel memiliki teknologi yang sangat bagus dalam pertanian, terlebih lagi Israel memang tidak memiliki lahan yang subur.

BACA JUGA :  PJ. SEKDA HARAPKAN KEDISIPLINAN ASN DI KABUPATEN LUMAJANG

“Kalau belajar ke Israel yang luar biasa, nggak punya lahan subur, tidak ada air, tapi pertaniannya sangat maju,” katanya.

Koster menilai, teknologi pertanian yang digunakan negara Yahudi itu sudah sangat maju. Bahkan embun bisa digunakan untuk sumber air bagi tanaman.

“Kondisi lahan di Israel tidak mendukung, namun teknologi pertaniannya sangat berhasil,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Koster juga menyindir kinerja Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali, I Wayan Sunada yang lambat dan kurang inovatif.

“Belajar gitu pak, jadi jangan gitu gitu aja, gak akan maju,” sindirnya.

Koster kembali menyinggung soal penurunan surplus beras lokal Bali selama lima tahun terakhir. Komunitas pangan Bali dilaporkan mengalami defisit hanya bawang putih.

BACA JUGA :  Bupati Apresiasi Karang Taruna Asahan, Pesankan Terus Bina Generasi Muda

“Awal saya menjabat surplus beras di Bali 100 ribu ton, sekarang menurun jadi 53 ribu ton. Penurunan kala itu karena banyak faktor salah satunya alih fungsi lahan,” ungkap dia

Karenanya, jika pertanian di Bali dapat dikelola seperti di Israel maka tidak akan terjadi kekurangan pangan. Mengingat pangan di Bali ini sembilan kebutuhan dasar itu cukup untuk hidup. Bahkan produktifitasnya masih bisa ditingkatkan.

“Satu hektare sawah lazimnya dua kali panen. Dengan teknologi panennya bisa tiga kali dan ini bisa dilakukan,” tandasnya.