Daerah

Semangat Bung Tomo di Era Digital di Refleksikan Ketua Fraksi Golkar DPRD Kota Kediri Pak Lek Imam di Moment Hari Pahlawan

×

Semangat Bung Tomo di Era Digital di Refleksikan Ketua Fraksi Golkar DPRD Kota Kediri Pak Lek Imam di Moment Hari Pahlawan

Sebarkan artikel ini
Semangat Bung Tomo di Era Digital di Refleksikan Ketua Fraksi Golkar DPRD Kota Kediri Pak Lek Imam di Moment Hari Pahlawan.Imam W. Zarkasyi Ketua Fraksi Golkar DPRD Kota Kediri.(Foto:Ist/Saman/Sekilasmedia.com)

Kediri,Sekilasmedia.com-Cita-cita kalangan Pemuda dijaman penjajahan untuk bisa mempertahankan NKRI menjadikan semangat tersendiri bagi Pemuda saat ini di era digitalisasi.

Moment Hari Pahlawan di setiap bulan November mengingatkan kita akan pertempuran Surabaya, 10 November 1945. Di tengah kobaran api perlawanan itu berdiri seorang tokoh muda yang dengan suaranya mampu mengguncang semangat rakyat dan menyalakan bara keberanian melawan penjajah, Bung Tomo. Dari balik corong radio, suaranya memecah keheningan kota Surabaya. Pekik takbir dan ajakan maju ke medan laga menggema, memanggil setiap warga, santri, petani, dan pemuda untuk bangkit melawan pasukan Sekutu yang hendak mengembalikan kekuasaan kolonial Belanda.

Bung Tomo bukan sekadar penyemangat perang, melainkan simbol kesadaran nasional bahwa kemerdekaan memiliki harga yang mahal. Dalam salah satu pidatonya, ia menyerukan, “Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka selama itu kita tidak akan menyerah kepada siapa pun juga!” Pertempuran Surabaya yang menewaskan ribuan pejuang dan rakyat sipil menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia bukan bangsa penakut. Dunia menyaksikan keberanian rakyat Surabaya yang bahkan menyebabkan tewasnya Jenderal Mallaby, simbol keteguhan bangsa ini melawan imperialisme.

BACA JUGA :  Topang Irigasi Lahan Pertanian,Polres Mojokerto Bangun 2 Sumur Bor

Imam W. Zarkasyi, Anggota DPRD Kota Kediri sekaligus Ketua Fraksi Golkar yang akrab disapa Pak Lek Imam menilai bahwa jiwa perjuangan Bung Tomo tetap relevan di era distrupsi. “Jika dulu rakyat mengangkat senjata, kini generasi muda harus mengangkat kecerdasan, kreativitas, dan moralitas untuk melawan penjajahan digital dan ekonomi,” ujarnya. Ia menegaskan, nasionalisme hari ini tidak lagi soal pertempuran fisik, melainkan perjuangan untuk kedaulatan digital, kemandirian ekonomi, dan literasi informasi.

Generasi muda masa kini memiliki senjata berbeda: inovasi dan teknologi. Bila Bung Tomo menggerakkan rakyat melalui radio, kini pemuda bisa menggerakkan masyarakat lewat media sosial, konten edukatif, aplikasi, dan gerakan sosial digital. Namun, untuk menjadi pahlawan zaman digital, dibutuhkan literasi digital, daya kritis, dan semangat kebangsaan yang kokoh. Media sosial bisa menjadi arena perjuangan baru—menebar inspirasi, menolak hoaks, memperjuangkan keadilan, dan memajukan produk lokal.

Tidak hanya itu, dirinya juga menekankan pentingnya gotong royong sebagai jiwa revolusi yang tak lekang oleh waktu. “Pertempuran Surabaya tidak akan terjadi tanpa solidaritas rakyat. Hari ini, gotong royong bisa diwujudkan lewat kolaborasi lintas profesi, lintas generasi, bahkan lintas teknologi,” jelas Pak Lek Imam

BACA JUGA :  TERNYATA PASIR DI KAB.LUMAJANG BANYAK MENGANDUNG UNSUR URANIUM

Dirinya juga menambahkan, semangat Bung Tomo bukan hanya tentang keberanian berperang, tetapi tentang keyakinan moral bahwa kebenaran harus diperjuangkan apa pun risikonya.

Dalam konteks kekinian, semangat Bung Tomo perlu dihidupkan dalam bentuk kolaborasi sosial dan tanggung jawab moral. Jika dulu arek-arek Suroboyo mengangkat bambu runcing, kini generasi muda harus mengangkat ilmu pengetahuan dan karakter. Jika dulu Bung Tomo melawan penjajahan bersenjata, kini bangsa ini melawan kemiskinan, kebodohan, dan korupsi.

Imam W. Zarkasyi menutup refleksinya dengan pesan, “Merdeka bukan berarti berhenti berjuang. Merdeka berarti berani bertanggung jawab atas masa depan bangsa sendiri.” Ia mengajak masyarakat untuk meneladani Bung Tomo dalam menjaga integritas dan kemandirian berpikir di tengah arus globalisasi.

Kota Kediri, 10 November 2025 — semangat Bung Tomo tidak pernah mati. Ia hidup di hati setiap orang yang berjuang dengan karya, kejujuran, dan pengabdian untuk bangsanya.