Malang,Sekilasmedia.com- Pemerintah Kabupaten Malang terus mematangkan rencana pembangunan Tol Malang–Kepanjen dengan menekankan pentingnya konektivitas menuju kawasan strategis, khususnya jalur wisata pantai selatan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga (DPUBM) Kabupaten Malang, Khairul Isnaidi Kusuma, mengungkapkan bahwa pihaknya telah memaparkan potensi daerah sekaligus dampak ekonomi dari proyek tersebut di hadapan Kementerian Pekerjaan Umum RI.
Salah satu poin utama yang diusulkan adalah pengembangan akses keluar (exit tol) yang terhubung langsung dengan ruas Gondanglegi–Balekambang. Konektivitas ini dinilai krusial untuk mengoptimalkan fungsi infrastruktur yang telah dibangun di kawasan selatan Kabupaten Malang.
“Fokusnya mengarah ke Gondanglegi agar terhubung dengan jalur menuju Balekambang, sehingga mampu menghidupkan kawasan pantai selatan,” ujar Khairul, Selasa (7/4/2026).
Dalam rencana awal, titik exit tol diproyeksikan berada di wilayah Pakisaji, Gondanglegi, dan Kromengan. Namun demikian, keputusan final tetap menjadi kewenangan Kementerian PU RI.
Khairul menambahkan, selama ini investasi infrastruktur di jalur selatan sudah cukup besar, tetapi belum diimbangi dengan tingkat lalu lintas harian rata-rata (LHR) yang optimal. Oleh karena itu, kehadiran tol diharapkan mampu mendongkrak mobilitas sekaligus meningkatkan kunjungan wisata.
“Jika konektivitas ini terwujud, arus kendaraan menuju kawasan wisata pantai selatan akan meningkat signifikan,” jelasnya.
Dari sisi perencanaan, proyek Tol Malang–Kepanjen diperkirakan memiliki panjang sekitar 30 kilometer dengan kebutuhan anggaran mencapai Rp10,04 triliun. Meski demikian, Pemkab Malang berupaya melakukan efisiensi tanpa mengurangi standar teknis proyek.
Dalam waktu dekat, pemerintah akan memasuki tahap peninjauan ulang Feasibility Study (FS) dan basic design yang mencakup aspek teknis, sosial, ekonomi, hingga skema pembiayaan. Proses ini dijadwalkan dimulai pada April atau Mei 2026 dan ditargetkan rampung pada Desember 2026.
“Kebutuhan anggaran memang cukup besar, namun terus kami upayakan untuk ditekan, misalnya melalui penyesuaian jumlah exit tol sesuai kebutuhan,” terang Khairul.
Pemkab Malang juga optimistis tahapan persiapan pembangunan dapat dimulai pada 2027. Kendati demikian, pihaknya tetap mengantisipasi berbagai faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi proyek, seperti dinamika geopolitik global maupun kondisi luar biasa lainnya.
“Insya Allah 2027 sudah bisa masuk tahap persiapan pembangunan, dengan harapan tidak ada kendala besar seperti pandemi atau situasi global yang tidak menentu,” pungkasnya.






