Daerah

Dari Atap Tanduk Kerbau Hingga Keadilan Restoratif Makna Simbolis Di Balik Peresmian Rumah Baghi Oleh Gubsu

×

Dari Atap Tanduk Kerbau Hingga Keadilan Restoratif Makna Simbolis Di Balik Peresmian Rumah Baghi Oleh Gubsu

Sebarkan artikel ini
Sentuhan Kearifan Lokal: Gubernur Herman Deru Resmikan 'Rumah Baghi', Pusat Hukum Berwajah Rumah Adat Pagaralam ( Foto/Humas prov sumsel)

Pagaralam,Sekilasmedia.com- Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), H. Herman Deru, secara resmi meresmikan “Rumah Baghi Restorative Justice” yang berlokasi di Kompleks MTO Gunung Gare, Kota Pagaralam, pada Selasa (23/6/2026). Peresmian ini menandai langkah strategis dalam mendekatkan layanan hukum kepada masyarakat dengan pendekatan yang lebih humanis dan berbudaya.

Dalam acara tersebut, Gubernur Herman Deru didampingi oleh Ketua TP PKK Provinsi Sumsel, Hj. Feby Herman Deru, Wali Kota Pagaralam H. Ludi Oliansyah, serta seluruh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Pagaralam. Kehadiran para pimpinan daerah ini menunjukkan dukungan penuh terhadap inovasi pelayanan publik yang mengintegrasikan aspek hukum dan budaya lokal.

BACA JUGA :  Dorong dan Sosialisasikan Program Makan Bergizi Gratis Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi Turna ke Dapilnya

Kolaborasi Strategis untuk Keadilan yang Mudah Dijangkau

Rumah Baghi merupakan hasil sinergi antara Pemerintah Kota Pagaralam dan Kejaksaan Negeri Pagaralam. Inisiatif ini lahir dari kebutuhan untuk menghadirkan pusat konsultasi hukum yang tidak hanya mudah diakses secara fisik, tetapi juga nyaman secara psikologis bagi masyarakat.

Melalui konsep restorative justice (keadilan restoratif), Rumah Baghi dirancang sebagai wadah bagi warga untuk mendapatkan pendampingan, edukasi, dan konsultasi hukum. Pendekatan ini mengedepankan penyelesaian sengketa atau masalah hukum secara adil, bermartabat, dan mengutamakan pemulihan hubungan antarpihak, bukan sekadar penghukuman.

Simbol Pelestarian Budaya dan Ketangguhan Fisik

Selain berfungsi sebagai pusat layanan hukum, keberadaan Rumah Baghi juga memiliki nilai filosofis yang kuat sebagai simbol pelestarian budaya lokal. Bangunan ini mengadopsi arsitektur rumah adat khas Pagaralam, dengan ciri khas atap yang menyerupai tanduk kerbau.

BACA JUGA :  Bupati Hadir Kegiatan Sharing Session content Creator Asahan di Gedung Mutiara Kisaran

Desain bangunan ini tidak hanya estetis, tetapi juga fungsional. Rumah Baghi dibangun dengan standar ketahanan gempa, mencerminkan kearifan lokal yang tetap relevan dan adaptif terhadap kebutuhan zaman serta kondisi geografis wilayah tersebut.

Dampak Bagi Masyarakat

Dengan diresmikannya fasilitas ini, masyarakat Kota Pagaralam kini memiliki ruang khusus yang dual-fungsi: menjaga nilai-nilai luhur budaya daerah sekaligus menjadi tempat mencari solusi hukum. Gubernur Herman Deru berharap, Rumah Baghi dapat menjadi contoh baik bagaimana institusi pemerintah dapat hadir lebih dekat dengan rakyat melalui pendekatan yang hangat, edukatif, dan berkeadilan.