Daerah

Ayam Sensi Agrinak, Galur Murni Pedaging Lokal di Exponak Bondowoso 2026

×

Ayam Sensi Agrinak, Galur Murni Pedaging Lokal di Exponak Bondowoso 2026

Sebarkan artikel ini
Ayam Sensi Agrinak yang dipamerkan pada acara Expo Peternakan Bondowoso 2026 oleh Cafe Ternak Bondowoso (Foto: Sekilas Media Bondowoso)

Bondowoso,Sekilasmedia.com – Selain menampilkan sapi unggulan, kambing, dan domba hasil persilangan, gelaran Ekspo Peternakan dan Kontes Ternak (Exponak) Bondowoso 2026 yang digelar di Pasar Hewan Terpadu Selolembu, Kecamatan Curahdami, Rabu (24/6/2026), juga menjadi ajang memperkenalkan berbagai jenis unggas unggulan. Salah satu yang menarik perhatian pengunjung adalah Ayam Sensi Agrinak, ayam lokal hasil seleksi yang dipamerkan oleh Cafe Ternak Bondowoso.

Ayam dengan dominasi warna putih tersebut tampil mencolok di area pameran. Postur tubuhnya yang lebih besar dibandingkan ayam kampung pada umumnya membuat banyak pengunjung berhenti untuk melihat dan mencari tahu keunggulan yang dimilikinya.

Alfian Dwi Nugraha, mahasiswa semester akhir Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Jember Kampus Bondowoso yang mendampingi pameran, menjelaskan bahwa Ayam Sensi Agrinak merupakan salah satu galur ayam lokal unggul yang dikembangkan melalui proses seleksi ketat.

Menurut mahasiswa asal Kabupaten Lamongan tersebut, keunggulan utama Ayam Sensi Agrinak terletak pada statusnya sebagai galur murni hasil seleksi dengan karakter pertumbuhan yang baik serta postur tubuh yang relatif lebih besar dibandingkan ayam lokal pada umumnya.

“Kalau dari Sensi Agrinak sendiri, keunikannya dibanding ayam yang lain karena merupakan galur murni hasil seleksi. Posturnya lebih besar dan memiliki warna putih yang menjadi ciri khas tersendiri,” ujar Alfian.

Ia menjelaskan bahwa pengembangan Ayam Sensi Agrinak dilakukan sebagai upaya meningkatkan daya saing ayam lokal agar mampu bersaing dengan berbagai jenis ayam dari luar negeri yang saat ini banyak beredar di Indonesia.

BACA JUGA :  Ada Atraksi Kidungan dan Lantunan Tembang Jawa di Acara Soft Launching Antologi Puisi Karya Warumas

“Ayam lokal tidak kalah dengan ayam luar. Karena itu dilakukan seleksi agar ternak ini memiliki performa yang unggul dan mampu bersaing dengan berbagai jenis ayam yang berasal dari luar negeri,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dipamerkan dalam expo, Ayam Sensi Agrinak merupakan salah satu galur ayam lokal pedaging unggul hasil pemuliaan yang telah dilepas sebagai varietas nasional melalui Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 39/Kpts/PK.020/F/01/2017. Nama Sensi sendiri merupakan singkatan dari Sentul Terseleksi, yaitu hasil seleksi ayam Sentul yang dikembangkan untuk menghasilkan performa pertumbuhan dan produktivitas yang lebih baik.

Dalam aspek kuantitatif, ayam jantan umur 10 minggu memiliki bobot hidup rata-rata sekitar 1.066 gram per ekor, sedangkan ayam betina mencapai sekitar 745 gram per ekor. Sementara bobot tubuh pada umur 10 minggu dapat mencapai kisaran 2,7 hingga 3,2 kilogram per ekor, menjadikannya potensial sebagai ayam pedaging lokal unggulan.

Selain unggul dalam pertumbuhan, Ayam Sensi Agrinak juga memiliki produktivitas telur yang cukup baik. Produksi telur puncaknya tercatat mencapai sekitar 61,98 persen dengan bobot telur rata-rata 40 gram per butir, sehingga memiliki nilai ekonomis bagi peternak.

Ayam yang dipamerkan dalam Exponak Bondowoso kali ini berusia sekitar satu bulan lebih tiga minggu atau mendekati dua bulan. Pada usia tersebut, pertumbuhan tubuhnya sudah terlihat cukup baik dan mulai menunjukkan karakteristik unggul yang dimiliki.

Menurut Alfian, pemanfaatan Ayam Sensi Agrinak saat ini lebih banyak diarahkan sebagai ayam pedaging atau konsumsi dibandingkan ayam petelur karena memiliki pertumbuhan yang relatif cepat dan ukuran tubuh yang lebih besar.

BACA JUGA :  Kreatifitas Guru Honorer DiJombang Yang Menusantara

“Kalau untuk pemanfaatannya, rata-rata lebih banyak untuk konsumsi atau pedaging. Produksi telurnya ada, tetapi memang lebih dominan dikembangkan sebagai ayam pedaging,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kualitas dan tekstur daging ayam juga dipengaruhi oleh pola pemeliharaan serta jenis pakan yang diberikan selama masa budidaya. Untuk mendukung pertumbuhan ternak, Cafe Ternak Bondowoso memilih menggunakan pakan pabrikan yang dinilai lebih praktis dan efisien.

“Kami menggunakan pakan pabrikan karena lebih mudah dan stabil. Secara biaya juga tidak jauh berbeda. Kalau sudah memasuki masa produksi, kebutuhan pakan sekitar 120 gram per ekor per hari yang biasanya dibagi dalam dua kali pemberian,” ungkapnya.

Cafe Ternak Bondowoso sendiri berlokasi di Desa Poncogati, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso. Selain menyediakan berbagai kebutuhan pertanian dan peternakan, usaha tersebut juga aktif mengembangkan budidaya ternak unggulan lokal.

Menurut Alfian, Cafe Ternak telah berjalan sekitar empat tahun dan didirikan oleh Dr. Ir. Nur Widodo, S.Pt., M.Sc, seorang dosen Universitas Jember yang juga aktif di bidang peternakan dan pertanian. Sementara kegiatan budidaya ternaknya telah berlangsung lebih dari dua tahun.

Melalui keikutsertaan dalam Exponak Bondowoso 2026, Cafe Ternak berharap Ayam Sensi Agrinak semakin dikenal masyarakat sebagai salah satu ayam pedaging lokal unggulan yang memiliki performa baik, mudah dibudidayakan, serta mampu bersaing dengan berbagai jenis ayam yang berkembang di Indonesia saat ini.