Jember, sekilasmedia.com- Tiga tahun bertarung melawan kanker payudara membuat Winarsih Dwi Anggraini paham betul rasanya ketika tubuh terlalu lelah bahkan hanya untuk sekadar melangkah keluar pintu rumah.
Warga Desa/Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember ini harus terus berkompromi dengan rasa sakit yang kerap menguras staminanya, sembari menjalani rutinitas pengobatan yang tak boleh putus.
Setiap jadwal pemeriksaan tiba, Winarsih harus membulatkan tekadnya untuk mendatangi Puskesmas Tempurejo.
Secara pelayanan, ia mengakui kesigapan para tenaga medis di sana luar biasa ramah dan sangat membantu.
Namun, bagi seorang pasien kanker yang fisiknya kerap melemah akibat perkembangan penyakit maupun efek terapi yang berat, perjalanan fisik menuju fasilitas kesehatan tetaplah menjadi sebuah rintangan besar yang menyiksa tubuh.
Kondisi inilah yang memicu lahirnya sebuah harapan sederhana dari lubuk hati Winarsih, sebuah suara yang tampaknya juga mewakili banyak pasien kronis dan lansia di sekitarnya.
“Sudah tiga tahunan sakit kanker payudara,” katanya.
Ia sangat mendambakan adanya terobosan layanan kesehatan yang bersedia melakukan “jemput bola” dengan mendatangi langsung rumah pasien.
Baginya, kehadiran petugas medis yang memeriksa atau merawatnya di rumah akan menjadi berkah luar biasa yang memangkas beban fisik dan psikisnya.
Ia sangat berharap adanya program perawatan di rumah agar pasien yang sedang dalam kondisi lemah tidak perlu lagi dipaksa menempuh perjalanan jauh hanya untuk sekadar berobat.
Dirawat di ruang tamu sendiri, dikelilingi keluarga terdekat tanpa harus didera kelelahan di jalanan, dipercaya akan memberikan suntikan semangat tersendiri bagi proses pemulihan.
Kisah Winarsih adalah sebuah potret nyata bahwa di balik pelayanan klinik yang sudah baik, ada harapan sunyi dari para pasien lemah yang merindukan uluran tangan medis langsung di tempat tidur mereka.






