Pendidikan

Gerakan Seribu Buku Karya Murid Resmi Dimulai, Korwilcam Bondowoso Targetkan 1.000 Buku Terbit

×

Gerakan Seribu Buku Karya Murid Resmi Dimulai, Korwilcam Bondowoso Targetkan 1.000 Buku Terbit

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso, Taufan Restuanto, S.Pd., S.H., M.Si bersama Muhammad Hairul, M.Pd dan Korwilcam Pendidikan Kec. Bondowoso M. Zainul Arifin, M.Pd pada saat Opening Kegiatan Gerakan Seribu Buku Karya Murid (Foto: Sekilas Media Bondowoso)

Bondowoso,Sekilasmedia.com – Sebuah langkah besar untuk membangun budaya literasi di lingkungan sekolah resmi dimulai di Kabupaten Bondowoso. Korwilcam Bidang Pendidikan Kecamatan Bondowoso meluncurkan implementasi Gerakan Seribu Buku Karya Murid Tahun 2026 melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Guru Pendamping Literasi yang digelar di SD IT Bondowoso, Sabtu (25/7/2026).

Program tersebut tidak sekadar mengajarkan peserta didik menulis, tetapi dirancang menjadi gerakan literasi yang terintegrasi dalam proses pembelajaran selama satu semester. Targetnya pun tidak main-main, yakni melahirkan sedikitnya 1.000 buku karya peserta didik yang akan diterbitkan dan diperkenalkan kepada publik sebagai wujud nyata kreativitas generasi muda Bondowoso.

Sebagai tahap awal implementasi, Korwilcam Bidang Pendidikan Kecamatan Bondowoso mengundang guru pendamping literasi dari 39 satuan pendidikan, yang terdiri atas 26 sekolah negeri dan 13 sekolah swasta. Setiap sekolah mengirimkan satu orang guru yang nantinya dipercaya menjadi Koordinator Literasi untuk mengawal pelaksanaan program di sekolah masing-masing.

Untuk memperkuat kapasitas para guru, kegiatan tersebut menghadirkan Mohammad Hairul, M.Pd., Instruktur Nasional Literasi Baca Tulis yang dikenal sebagai pegiat literasi dengan ratusan karya, baik berupa buku ilmiah maupun karya fiksi. Melalui pengalaman dan kompetensinya, para peserta mendapatkan penguatan konsep sekaligus praktik mendampingi peserta didik menghasilkan karya tulis yang berkualitas.

Korwilcam Bidang Pendidikan Kecamatan Bondowoso, M. Zainul Arifin, M.Pd., mengatakan Gerakan Seribu Buku Karya Murid merupakan bagian dari upaya memperkuat budaya literasi yang tidak lagi diposisikan sebagai kegiatan tambahan, melainkan menjadi bagian dari pembelajaran di sekolah.

“Program ini kami rancang agar kegiatan literasi menjadi bagian dari proses pembelajaran yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan insidental,” ujar Zainul.

BACA JUGA :  Luncurkan Program MBG Bagi 3B di Kota Kediri, Gus Qowim Terus Pantau dan Lakukan Pendampingi Agar Program Berjalan Optimal

Menurutnya, implementasi program telah disusun secara sistematis. Tahapannya diawali dengan perencanaan, dilanjutkan Bimbingan Teknis bagi koordinator literasi, kemudian diterapkan di masing-masing sekolah melalui pendampingan intensif oleh guru kepada peserta didik selama satu semester penuh.

Selama proses tersebut, guru tidak hanya mengarahkan peserta didik untuk menulis, tetapi juga mendampingi mereka sejak menemukan ide, mengembangkan gagasan, menyusun naskah, melakukan penyuntingan, hingga mempersiapkan karya agar layak diterbitkan. Dengan pola pendampingan tersebut, peserta didik diharapkan mampu menikmati setiap tahapan proses kreatif dalam menulis.

“Pada akhir pelaksanaan nanti akan diselenggarakan gelar karya sebagai bentuk apresiasi terhadap hasil belajar dan kreativitas peserta didik,” jelasnya.

Lebih lanjut, Zainul menuturkan guru yang mengikuti Bimtek akan menjadi motor penggerak literasi di sekolah masing-masing. Mereka memiliki tanggung jawab mengoordinasikan guru-guru lain agar pelaksanaan program berjalan secara kolaboratif dan mampu membangun ekosistem literasi yang melibatkan seluruh warga sekolah.

Program ini juga memberikan keleluasaan kepada peserta didik dalam menentukan bentuk karya yang ingin ditulis. Mereka dapat menuangkan gagasan melalui puisi, pantun, cerpen, cerita bergambar, cerita fiksi maupun nonfiksi, hingga tulisan bertema keagamaan, olahraga, kesehatan, lingkungan, budaya, maupun tema-tema lain yang sesuai dengan minat, bakat, dan pengalaman masing-masing.

Pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan karya tulis, tetapi juga menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kemampuan berkomunikasi, serta keberanian menyampaikan gagasan secara tertulis. Dengan demikian, budaya membaca dan menulis tumbuh sebagai kebiasaan yang lahir dari proses belajar yang menyenangkan.

Korwilcam Bidang Pendidikan Kecamatan Bondowoso pun menargetkan hasil yang konkret dari gerakan ini. Pada akhir semester nanti diharapkan lahir sedikitnya 1.000 buku karya peserta didik, baik berupa buku karya individu maupun buku antologi yang disusun secara kolaboratif.

BACA JUGA :  Dalam Sidak Bupati Sidoarjo ingat kenangan waktu dulu sekolah SMPN 2 Sidoarjo

“Seluruh karya yang telah melalui proses pendampingan dan penyuntingan akan diterbitkan serta dilaunching dalam sebuah event khusus sebagai bentuk apresiasi kepada peserta didik sekaligus memperkuat budaya literasi di lingkungan sekolah,” ungkap Zainul.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, Taufan Restuanto, S.Pd., S.H., M.Si., memberikan apresiasi terhadap lahirnya Gerakan Seribu Buku Karya Murid. Menurutnya, program tersebut merupakan langkah strategis dalam memperkuat budaya literasi sekaligus menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi intelektual dan kreativitasnya.

Ia menilai, gerakan ini tidak boleh dipandang semata-mata sebagai upaya menghasilkan sebuah buku, tetapi harus menjadi fondasi dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan di setiap satuan pendidikan. Melalui pembiasaan membaca dan menulis, peserta didik akan terbiasa berpikir secara sistematis, analitis, dan reflektif dalam menghadapi berbagai persoalan.

“Menulis bukan hanya menghasilkan sebuah karya, tetapi juga melatih anak berpikir kritis, menyusun gagasan secara logis, serta mengungkapkan pendapat berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki,” kata Taufan.

Menurutnya, kemampuan tersebut merupakan bagian dari keterampilan abad ke-21 yang harus terus dikembangkan dalam proses pembelajaran. Ketika gagasan peserta didik diwujudkan menjadi sebuah buku dan mendapat apresiasi, rasa percaya diri mereka akan tumbuh sehingga lebih berani mengekspresikan ide, berinovasi, dan terus berkarya.

“Harapan kami, budaya menulis tidak berhenti sebagai kegiatan pembelajaran di kelas, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan yang membentuk generasi yang cakap berliterasi, berkarakter, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat melalui karya-karyanya,” pungkas Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso.