Daerah

Cek Kesehatan Jangan Menunggu Sakit, Ning Ninik Gelar Sosialisasi di Bondowoso

×

Cek Kesehatan Jangan Menunggu Sakit, Ning Ninik Gelar Sosialisasi di Bondowoso

Sebarkan artikel ini
Dr. Ny. Hj. Nihayatul Wafiroh, M.A saat dikonfirmasi oleh awak media pasca kegiatan Sosialisasi Budaya Mutu dan Keselamatan Pasien di Graha NU Bondowoso, 12 Agustus 2026 (Foto: Sekilas Media Bondowoso)

 

Bondowoso, sekilasmedia.com – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Dr. Hj. Nihayatul Wafiroh, M.A., mengajak masyarakat Bondowoso mengubah cara pandang terhadap kesehatan.

Menurutnya, pemeriksaan kesehatan tidak seharusnya dilakukan setelah seseorang jatuh sakit, tetapi perlu menjadi langkah preventif untuk memastikan kondisi tubuh sejak dini.

Ajakan tersebut disampaikan Politisi Perempuan dari Partai Kebangkitan Bangsa itu dalam kegiatan Sosialisasi Budaya Mutu dan Keselamatan Pasien di Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang digelar di Graha NU Bondowoso, Rabu (12/8/2026) diikuti ratusan Muslimat dari berbagai wilayah di Kabupaten Bondowoso.

Nihayatul yang akrab disapa Ning Ninik atau Ibu Nyai merupakan sosok yang tumbuh dari lingkungan keluarga pesantren. Ia lahir di Banyuwangi pada 15 Desember 1979 dan merupakan putri daerah yang tumbuh besar di lingkungan Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi.

Latar belakang tersebut turut membentuk kedekatannya dengan masyarakat pesantren dan jaringan perempuan Nahdlatul Ulama. Selain menjalankan tugas sebagai Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Fraksi PKB, Ning Ninik juga dipercaya sebagai Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa periode 2024–2029, organisasi sayap perempuan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Dalam sosialisasi tersebut, Ning Ninik menyoroti masih rendahnya pemanfaatan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Bondowoso. Padahal, program tersebut merupakan salah satu program unggulan pemerintah yang ditujukan untuk mendorong masyarakat melakukan deteksi dini terhadap berbagai risiko penyakit.

“Kita mendorong agar masyarakat bisa segera untuk cek kesehatan gratis. Apalagi di sini sudah UHC, Universal Health Coverage. Masyarakat bisa menggunakan KTP maupun kartu BPJS untuk cek kesehatan,” ujar Ning Ninik.

BACA JUGA :  Wabup Gresik Buka Bimtek SID/Desa SIAP Se-Kecamatan Cerme

Menurutnya, rendahnya angka pemanfaatan CKG tidak selalu disebabkan oleh ketiadaan fasilitas. Salah satu persoalan yang perlu dibenahi justru berkaitan dengan kesadaran masyarakat untuk datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisi tubuh masih dirasakan sehat.

Ia menilai masih terdapat pola pikir di tengah masyarakat bahwa puskesmas maupun fasilitas kesehatan baru perlu didatangi ketika seseorang telah mengalami sakit.

“Masyarakat masih berpikir, ‘males datang ke puskesmas karena sehat kok’. Kalau belum sakit mereka belum datang. Jadi lebih pada sosialisasi. Harus meyakinkan bahwa ini kaitannya bukan soal sakit, ini kaitannya sebelum sakit harus datang,” tegasnya.

Ning Ninik menjelaskan, persoalan tersebut menjadi penting karena penyakit tidak menular merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia. Pada saat yang sama, penyakit tidak menular juga menjadi salah satu kelompok penyakit yang banyak menyerap pembiayaan BPJS.

Padahal, menurutnya, sejumlah faktor risiko penyakit tidak menular dapat diketahui dan diantisipasi lebih awal melalui pemeriksaan kesehatan serta perubahan pola hidup.

“Penyakit yang paling banyak membunuh di Indonesia ini adalah penyakit yang tidak menular. Dan yang paling banyak menghabiskan dana BPJS itu adalah penyakit yang tidak menular. Itu sebenarnya penyakit yang bisa diantisipasi,” jelasnya.

Karena itu, CKG dinilai tidak semestinya dipandang hanya sebagai fasilitas pemeriksaan gratis. Program tersebut perlu dimanfaatkan sebagai instrumen pencegahan agar masyarakat dapat mengetahui kondisi kesehatan sebelum penyakit berkembang menjadi lebih serius.

BACA JUGA :  Cek Layanan Covid-19 RSUD R.A. Basoeni Kecamatan Gedeg, Bupati Beri Motivasi dan Semangat Sembuh

“Dengan cek kesehatan gratis ini kita berharap masyarakat bisa mengantisipasi penyakit itu jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga masyarakat bisa lebih hidup sehat dan tentu pengeluaran BPJS bisa lebih ditekan,” katanya.

Dalam kegiatan yang diikuti ratusan Muslimat tersebut, Ning Ninik juga memberikan sosialisasi mengenai fasilitas pelayanan kesehatan serta berbagai jenis penyakit, mulai dari penyakit menular hingga penyakit tidak menular.

Ia berharap jaringan perempuan, khususnya Muslimat, dapat menjadi penggerak kesadaran kesehatan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Menurutnya, perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun kebiasaan hidup sehat karena banyak keputusan kesehatan keluarga berawal dari lingkungan rumah.

Ning Ninik kembali menekankan bahwa kesehatan bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah atau tenaga medis. Masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga sekaligus memastikan kondisi kesehatannya sendiri.

“Kita harus meyakinkan kepada masyarakat agar tidak ragu. Yang namanya kesehatan itu adalah tanggung jawab kita masing-masing. Oleh sebab itu, sebelum sakit harus datang untuk memeriksakan diri, memastikan diri kita sehat,” ujarnya.

Persoalan rendahnya pemanfaatan CKG di Bondowoso pun menjadi pekerjaan bersama. Pemerintah telah menyediakan akses melalui program kesehatan dan UHC, namun keberhasilan program tersebut tetap bergantung pada kemauan masyarakat untuk datang dan memanfaatkannya.

Melalui sosialisasi tersebut, Ning Ninik berharap masyarakat tidak lagi menunggu munculnya keluhan untuk memeriksakan diri. Kesadaran preventif, menurutnya, jauh lebih penting daripada menunggu penyakit datang kemudian mencari pengobatan.

Sebab, kesehatan bukan hanya tentang bagaimana mengobati ketika sakit, tetapi tentang keberanian memastikan diri tetap sehat sebelum penyakit datang.