Daerah

Genjot Pariwisata Kab.Kediri, Dari Museum Sri Aji Jayabaya yang Bangkit hingga Sumber Air Panas Baru di Lereng Kelud

×

Genjot Pariwisata Kab.Kediri, Dari Museum Sri Aji Jayabaya yang Bangkit hingga Sumber Air Panas Baru di Lereng Kelud

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri, Mustika Prayitno Adi.(Foto: Saman/Sekilasmedia.com)

Kediri,Sekilasmedia.com– Pemerintah Kabupaten Kediri terus menggenjot pariwisata dari potensi yang ada saat ini. Dan melalui Dinas Pariwisata tak ingin Pariwisata yang ada jalan di tempat. Sepanjang 2026 ini, pengembangan sektor wisata digenjot habis-habisan. Bukan sekadar menambah destinasi, tapi bagaimana pariwisata bisa menjaga budaya, merawat lingkungan, dan menggerakkan ekonomi warga desa.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri, Mustika Prayitno Adi, menegaskan pariwisata adalah bagian dari misi besar daerah: mewujudkan Kediri yang berbudaya, religius, maju, sejahtera, dan berkelanjutan.

“Dalam dua tahun terakhir kita sudah melakukan banyak hal. Kita aktivasi kembali Ubalan, kita tata beberapa destinasi, dan kita mulai lagi pembangunan museum yang sempat terdampak kerusuhan Agustus 2025 lalu,” kata Mustika, Rabu (2/9/2026).

Museum Sri Aji Jayabaya Bangkit di Desa Menang
Salah satu fokus utama tahun ini adalah Museum Sri Aji Jayabaya di Desa Menang, Kecamatan Pagu.

Museum yang sebelumnya berada di kompleks Pemkab Kediri ini punya nilai lebih dari sekadar tempat wisata. Ia adalah rumah bagi sejarah Kediri, tempat menyimpan dan merawat benda-benda cagar budaya.

Pembangunan museum sempat terhenti karena mengalami kerusakan akibat aksi pengrusakan dan pembakaran pada Agustus 2025. Akhir 2025 tahap pertama berhasil diselesaikan, dan pada 2026 ini pembangunannya kembali dilanjutkan.

Harapannya, museum ini menjadi ruang belajar yang hidup. Masyarakat, terutama generasi muda, bisa mengenal sejarah dan budaya Kediri lebih dekat, bukan hanya dari buku pelajaran.

BACA JUGA :  Kenangan Lebaran, Momen Kebersamaan yang Selalu Dirindukan

Tak puas dengan yang sudah ada, Dispar Kediri juga mulai melirik potensi baru. Yang paling menjanjikan adalah sumber air panas alami di kawasan Gunung Kelud.

Tim bahkan sudah melakukan survei melalui dua jalur berbeda untuk mengecek akses dan kelayakan pengembangan.

“Bagaimana kita bisa mengembangkan daya tarik wisata baru di sana. Itu adalah atraksi wisata yang nanti pasti akan mendongkrak kunjungan,” ujar Mustika.

Konsepnya tetap pariwisata berkelanjutan. Bukan hanya soal mendatangkan ribuan wisatawan, tapi memastikan warga sekitar ikut merasakan manfaat ekonominya.

Konsep itulah yang sudah berjalan di Desa Tempurejo, Kecamatan Wates. Desa ini mengembangkan ekowisata berbasis kebudayaan Jawa.

Sekretaris Desa Tempurejo, Erika Rahayu, bercerita pengembangan ini tidak dikerjakan sendiri. Ada kolaborasi apik antara pemerintah desa, SD setempat, BUMDes, Pokdarwis, pelaku UMKM, hingga Universitas PGRI Kediri.

“Untuk temanya yaitu kebudayaan. Kita bekerja sama dengan SD dan juga pihak wisata, BUMDes, dan Pokdarwis. Kita mengangkat kebudayaan Jawa,” terang Erika.

Dampaknya terasa. Kesenian tradisional yang sempat vakum seperti jaranan dan tari-tarian Jawa kini mulai dikenalkan lagi ke anak-anak sekolah. Budaya tidak lagi sekadar cerita, tapi hidup kembali.

Ekonomi warga pun diikutkan. Produk UMKM seperti susu kambing etawa, ecoprint, aneka keripik, tas anyaman, rumah kompos, hingga rumah bibit kini menjadi bagian dari paket ekowisata.

Namun aturannya tegas: hutan tidak boleh dieksploitasi.

“Yang kita kembangkan itu bukan hutannya, tetapi lingkungan sekitar hutan agar tetap asri. Kegiatan yang bisa merusak hutan tidak kita beri izin,” tegas Erika. Pengunjung dilarang keras berjualan di kawasan hutan, menebang pohon, bahkan memaku pohon.

BACA JUGA :  Pemkab Gresik Raih Penghargaan Peringkat Pertama Capaian Investasi Pada Peringatan Hari Jadi Provinsi Jatim Ke-79

Pengembangan ini juga berorientasi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD). Tahun 2026, Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri ditarget Rp 3,7 miliar, naik dari tahun sebelumnya Rp 3,5 miliar.

Salah satu strateginya adalah aktivasi destinasi yang sempat mati suri karena pandemi, seperti Ubalan. Hasilnya di luar dugaan. Dari target awal 200 pengunjung, yang datang membeludak hingga 500 orang.

“Apresiasinya cukup bagus dari masyarakat. Insyaallah target PAD itu akan bisa kita capai,” kata Mustika.

Untuk memperkuat daya saing, Dispar menerapkan konsep 3A: Aksesibilitas, Amenitas, dan Atraksi. Akses jalan menuju destinasi seperti Kelud diperbaiki, fasilitas seperti kios dan toilet dibenahi, dan kalender event wisata disusun agar Kediri punya atraksi sepanjang tahun, termasuk sport tourism.

Tantangan tentu ada, terutama soal potensi bencana di kawasan wisata alam seperti Besuki dan Gunung Kelud. Karena itu, infrastruktur keselamatan dan peningkatan kualitas SDM Pokdarwis menjadi pekerjaan rumah yang tak kalah penting.

Saat ini Kediri telah memiliki 7 desa wisata yang ditetapkan, dan tahun ini ditargetkan bertambah 3 desa wisata baru, dari rintisan hingga mandiri.

“Pada akhirnya pariwisata tidak bisa dibangun pemerintah sendiri. Butuh kolaborasi semua pihak, dari masyarakat, pelaku usaha, komunitas, Pokdarwis, sampai media,” pungkas Mustika.