Wisata

Ranu Kumbolo: Dua Cerita Satu Keindahan — Antara Fakta Geologis & Legenda yang Tetap Hidup

×

Ranu Kumbolo: Dua Cerita Satu Keindahan — Antara Fakta Geologis & Legenda yang Tetap Hidup

Sebarkan artikel ini
Telaga Ranu Kumbolo begitu eksotis dilihat dari lereng gunung Semeru (foto Basuki).

Malang,Sekilasmedia.com-Berada di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut, di lereng Gunung Semeru, Ranu Kumbolo kerap disebut sebagai “surga para pendaki”. Danau tenang ini menyimpan dua kisah besar yang hidup berdampingan: satu tertulis dalam sejarah geologi bumi, satu lainnya terjaga dalam laku spiritual dan mitos Nusantara yang tak lekang oleh waktu.

Menurut Eko Wahyudi, peneliti sejarah lokal Kota Malang, Ranu Kumbolo sejatinya adalah danau kawah (maar) yang lahir dari aktivitas vulkanik ribuan tahun silam.

“Secara geologis, Ranu Kumbolo terbentuk dari erupsi besar kawah purba Gunung Jambangan yang menciptakan cekungan masif di permukaan bumi. Selama berabad-abad cekungan itu menampung air hujan dan aliran permukaan, hingga perlahan terbentuk danau pegunungan yang kita saksikan saat ini” katanya.

Gunung Semeru yang juga dikenal sebagai Mahameru diyakini sebagai paku penyangga Pulau Jawa dan tempat bersemayamnya para dewa, menjadikan kawasan ini tempat yang sangat dihormati.

“Gunung Semeru atau Mahameru ini diyakini sebagai paku Pulau Jawa dan tempat bersemayam para dewa. Karena itulah seluruh kawasan ini sangat dihormati dan dijaga kesuciannya oleh masyarakat maupun para pendaki” terangnya.

BACA JUGA :  Menikmati Pesona Kebun Teh Wonosari di Lawang, Malang

Legenda yang terus dijaga menyebutkan danau ini dijaga oleh sosok dewi yang sesekali menampakkan diri berbalut kebaya kuning di balik kabut pagi. Ikan mas yang berenang di danau dipercaya bukan hewan biasa, melainkan jelmaan dayang-dayang atau sang dewi penunggu.

“Danau ini dijaga oleh sosok dewi yang sesekali menampakkan diri berbalut kebaya kuning dari balik kabut pagi. Ikan-ikan mas yang berenang di sini dipercaya bukan hewan biasa, melainkan dayang-dayang atau jelmaan sang dewi. Oleh karena itu berlaku pantangan tegas: dilarang menangkap, memancing, maupun menyakiti ikan di Ranu Kumbolo” jelasnya.

Air danau juga dianggap suci oleh masyarakat Suku Tengger dan umat Hindu, kerap digunakan untuk ritual keagamaan.

“Air Ranu Kumbolo dianggap suci oleh masyarakat Suku Tengger dan umat Hindu di Bali, dan kerap digunakan untuk ritual keagamaan. Aturan adat melarang keras mandi, berenang, atau mencuci dengan sabun di danau ini demi menjaga kesucian spiritual sekaligus kebersihan ekologis airnya” ujarnya.

Tepat setelah tepian Ranu Kumbolo menuju puncak Semeru, terbentang bukit terjal yang dikenal sebagai Tanjakan Cinta. Legenda menceritakan tanjakan ini menjadi saksi kisah sepasang kekasih mendaki bersama. Sang pria berjalan cepat dan mencapai puncak lebih dulu, tanpa menyadari wanita yang dicintainya kelelahan, terjatuh, dan konon berpulang di tempat itu.

BACA JUGA :  Artotel, Hotel Bernuansa Seni dengan Sajian Breakfast yang Bikin Pagi Lebih Berwarna

Menurutnya jika Tanjakan Cinta menyimpan kisah sepasang kekasih yang mendaki bersama. Sang pria berjalan cepat dan mencapai puncak lebih dulu, tanpa menyadari wanita yang dicintainya kelelahan, terjatuh, dan konon berpulang di tempat itu. Dari tragedi inilah lahir mitos yang hingga kini dipercaya para pendaki.

“Barangsiapa mendaki tanjakan ini sambil memikirkan orang yang dicintai, berjalan tanpa berhenti dan tak pernah menoleh ke belakang, permohonan cintanya akan terkabul. Sebaliknya, jika menoleh ke belakang, kisah cintanya dipercaya akan kandas” tegasnya.

Ranu Kumbolo bukan sekadar danau istirahat dalam pendakian. Ia adalah pertemuan antara kenyataan alam dan kepercayaan yang hidup, antara keindahan yang menenangkan dan kesakralan yang dijaga turun-temurun. Di sinilah sains dan mitos berjalan beriringan mengajarkan kita untuk memahami alam sekaligus menghormatinya.