
MOJOKERTO,Sekilasmedia.com – Dalam upaya menjawab tantangan kemajuan perkembangan zaman di era kemudahan dan percepatan, dimana keinginan masyarakat untuk mendapatkan akses mudah dan cepat tidak terkecuali layanan BPJS Kesehatan sangat tinggi, mendorong BPJS Kesehatan yang sudah menyelenggarakan Program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) sejak 1 Januari 2014untuk senantiasa mengembangkan sistem yang berbasis teknologi, salah satunya yaitu inovasi terbaru sistem rujukan online.
Dalam suatu kesempatan saat kunjungan di kantor BPJS Kesehatan Cabang Mojokerto, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, Didik Chusnul Yakin menyampaikan pandangannya tentang penerapan sistem rujukan online BPJS Kesehatan pada Jum’at (12/10).
Menurut pandangan Didik bahwa sistem rujukan online tersebut up to date, yaitu mengikuti tuntutan perkembangan zaman. Selain itu dengan diterapkannya sistem rujukan online ini banyak kemudahan yang didapat, juga ada kepastian bagi peserta yang dirujuk. Sistem rujukan online juga lebih informatif karena lebih banyak data dan informasi yang dapat diketahui oleh tenaga kesehatan, misalnya di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) sebelum merujuk dapat melihat jadwal dan jam layanan di faskes rujukan (FKRTL) atau hal-hal lain seperti profil faskes tujuan rujukan seperti data kapasitas dalam menerima kunjungan pasien.
Selain itu menurut Didik, sistem rujukan online fungsinya lebih kepada penataan pelayanan dan rujukan diperlukan secara berjenjang. Jika tingkat FKTP dapat melayani maka lebih optimal, karena FKTP lebih mengepankan pelayanan promotif dan preventif dan akan berdampak signifikan pada biaya pelayanan karena tidak semua kasus penyakit itu mesti dirujuk.
Dengan diterapkannya sistem rujukan online akan membantu pengaturan supaya masyarakat dilayani dan ditangani lebih optimal. Didik mengatakan melalui pengaturan rujukan online tersebut, berharap bisa meluruskan mindset yang keliru di tengah-tengah masyarakat selama ini.
“Sebenarnya jika kunjungan masyarakat di fasilitas kesehatan makin sedikit maka harusnya dimaknai bahwa masyarakat semakin banyak yang sehat, berarti program promotif dan preventifnya berjalan baik, program Germasnya juga berjalan.Tetapi jangan dimaknai sebaliknya,” ungkap Didik.
Didik tidak sependapat atas paradigma yang sekarang ini seolah-olah kunjungan pasien harus banyak, kalau fasilitas kesehatan harus ramai pasiennya menurut Didik hal tersebut adalah tidak benar.
Sistem rujukan online ini memeratakan (aspek pemerataan) jika sebenarnya fasilitas kesehatan over capacity maka pada rujukan online mengantisipasi supaya kejadian tersebut (over capacity) tidak terjadi. Melalui aplikasi di FKTP bisa diketahui berapa banyak pasien rujukan kepada dokter spesialis tertentu di rumah sakit tujuan rujukan.
Menurut Didik informasi seberapa banyak pasien yang dirujuk ke dokter tertentu itu sangat penting. Sebab ketika rumah sakit tujuan rujukan sudah banyak menerima rujukan dari FKTP lain otomatis ada potensi antrian panjang. Sehingga dianjurkan untuk mencari dokter lainnya, dalam hal ini ada pemerataan dalam melayani peserta. Demi masyarakat cepat dilayani dan mendapatkan pelayanan selayaknya, diagnosa juga lebih tepat karena waktunya cukup memadai bagi tenaga medis dalam melakukan pemeriksaan karena tidak terjadi penumpukan pasien, sehingga tidak terburu-buru karena dibatasi oleh jam praktek.
Didik berpendapat dengan adanya pemerataan tersebut maka penanganan pasien lebih tepat sehingga berdampak pada penyembuhan pasien relatif lebih cepat.
Untuk tahap awal dalam melaksanakan sistem rujukan online yang memang harus dilakukan secara masiv yaitu edukasi, adaptasi dan pemahaman baik kepada faskes maupun peserta bahwa berobat di fasilitas kesehatan itu ada jenjangnya sesuai dengan kompetensinya.
“Dalam rangka penataan memang memerlukan proses, jadi proses itu dijalani terlebih dulu sambil menyempurnakan kekurangan-kekurangannya dipenuhi dan diatasi, tetapi jangan sampai apriori, atau yang dilihat sisi kerugiannya saja. Hal terpenting adalah kepentingan masyarakat yang akan ditingkatkan derajad kesehatannya” tegas Didik.
Didik menjelaskan bahwa harus ada cara untuk mengatasinya persoalan dalam tahap adaptasi dan proses edukasi karena filosofi sistem rujukan berjenjang online itu pada dasarnya baik, tetapi butuh waktu untuk pemahamannya, jika masing-masing pihak sudah paham maka sistem rujukan online dapat berjalan dengan baik dan lancar.
Didik menambahkan bahwa dengan sistem rujukan online akan mengedepankan promotif-preventif atau tindakan pencegahan, dan memberikan pelajaran sebisa mungkin ditangani optimal, sehingga pasien tidak selalu dirujuk.
Hal tersebut menurut Didik selalu ditekankan oleh institusi dinas kesehatan yang dipimpinnya tersebut terhadap puskesmas khususnyadi wilayah kabupaten Mojokerto, sebagai FKTP untuk prioritas menjalankan fungsi promotif dan preventif. Sejalan dengan tujuan rujukan online, jika promotif-preventif berjalan, masyarakat sehat, produktif dan yang sakit jarang sehingga kunjungan di fasilitas kesehatan tidak menumpuk,” pungkas Didik. (s4)






