
Batu, Sekilasmedia.com – Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Kota Batu telah kedatangan perwakilan peserta pelatihan dari delapan Negara Asean, termasuk Indonesia salah satunya. Dijelaskan oleh kepala Balai, Dr. Wasis Sarjono, bahwa pelatihan ini kerjasama internasional fokus di ADEAN dan ini sudah berjalan setiap tahunnya.
“ Tema yang diambil ditahun ini, adalah Bagaimana meningkatkan nilai tambah dari susu yang ada, tetapi memiliki nilai yang kompetitif. Apalagi di Asean hampir memiliki kesamaan dari budi daya susu dan pengelohannya. Dengan adanya pelatihan ini, masyarakat bisa mengembangkan diri dengan membuat produk produk olahan susu, dan memiliki nilai tambah,” ujar Wasis, Senin (2/3/2020)
Diungkapkan pula oleh Wasis, peserta yang ikut hadir dalam pelatihan kali ini, pihaknya akan memberikan pelatihan cara pengolahan susu menjadi keju mozarela, Yogurt, Pasteurase. Namun nantinya peserta sebelum pulang harus membuat implementasi dari masing masing wilayahnya untuk mengedukasi, dan melatih peternak.
Disinggung terkait persoalan jumlah kebutuhan susu di Indonesia, Wasis Sarjono mengungkapkan, bahwa hal tersebut merupakan persoalan klasik yang terjadi didalam negeri.
“ Kebutuhan baru terpenuhi 30 persen yang 70 persen impor. Akan tetapi tentunya, kita mendorongnya dari nilai tambah produk. Otomatis kalau impor itu kan, kita juga tetap mengambil, karena dalam jangka pendek, jangka menengah, populasi sapi kita belum bisa memenuhi kebutuhan nasional,” terang Wasis
Tetapi, tambah Wasis Sarjono, dari produksi nasional sendiri, dengan adanya pengolahan susu menjadi produk turunan bisa mendongkrak pendapatan peternak. Ia juga mencontohkan seperti susu yang diolah menjadi yogurt, bisa memiliki nilai tambah yang cukup menguntungkan, apalagi biaya pengolahannya cukup murah.
Dikesempatan yang sama, Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko juga mengungkapkan, bahwa di Kota Batu terdapat dua wilayah yang memiliki populasi ternak paling banyak, yakni Toyomerto, dan Brau. Diantara dua wilayah tersebut terhitung jumlah penduduknya kalah banyak dengan jumlah ternak sapinya.
“itu penghasil susu, Alhamdulilah,, sebagian memang diambil oleh pabrik besar, yang sebagian KUD, dan yang sebagian diolah sendiri. Contohnya di Brau, itu sudah buat steak susu yang sangat enak. Ada yang dicampur sama sayur, itu luar biasa. Nah turunan seperti itu yang menyebabkan ekonomi, dan dia akan mendapatkan inkam yang lebih dibandingkan ketika ia menjual susu mentahan saja,” terang Wali Kota yang akrab disapa Bude ini.
Dijelaskan pula, di Dusun Brau sudah ada hasil olahan susu. Selain steak susu, di masyarakat sudah ada olahan krupuk susu, permen susu, dan kue susu. Seiring hal tersebut, diharapkan produk turunan dari susu bisa lebih dikembangkan lagi kedepannya. (BAS)






