Hukum

Tangkap Terduga Pelaku Penganiyaan, Kapolsek Perbaungan Diprapid

×

Tangkap Terduga Pelaku Penganiyaan, Kapolsek Perbaungan Diprapid

Sebarkan artikel ini
Sasmita Dewi didampingi kuasa hukum Halomoan Panjaitan,Rabu (29/4/2020).

 

SERDANG BEDAGAI, Sekilasmedia.com – Tim kuasa hukum Agus Saputra dari Yaysan lembaga hukum Bela Rakyat Indonesia melakukan pra peladilan (Prapid) terhadap Kapolsek Perbaungan AKP Jhonson Sitompul dalam kasus dugaan penganiyaan secara bersama-sama digelar di Pengadilan Negeri Sei Rampah.

Sidang prapid digelar di Pengadilan Negeri Sei Rampah berawal dari Polsek Perbaungan melakukan penangkapan terhadap Agus Saputra (31) warga Dusun Pelita, Desa Pegajahan, Kecamatan Pegajahan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Rabu (25/3/2020).

Agus ditangkap atas kasus dugaan penganiyaan terhadap Aziz didepan rumah Adi Saputra, Selasa (17/3/2020) pagi. Hal itu membuat Aziz membuat laporan terhadap Agus ke Polsek Perbaungan yang telah ikut serta melakukan menganiyaan.

Kuasa hukum Halomoan Panjaitan SH, Rabu (29/4/2020) mengatakan, dasar dilakukan prapid bahwa Polsek Perbaungan melakukan penangkapan, penahanan terhadap Kliannya Agus Saputra diduga menyalahi hukum acara yang telah diatur dalam KUHAP dimana berdasarkan bukti Surat Pernyerahan Kadus Pelitas Desa Pegajahan Imran kepada keluarga Pemohon/Tersangka tanggal 2 April 2020 menerima Tembusan Surat Penangkapan.

BACA JUGA :  Ribuan Miras dan 49,9 Gram Sabu Diamankan Polres Mojokerto, Rencana Digunakan untuk Pesta Tahun Baru

“Kita lakukan Prapid karena penahanan dan SPD lebih dari 7 hari, dimana penangkapan dilakukan Polsek Perbaungan tanggal 25 Maret 2020 sementara tembusan surat penangkapan diterima keluarga Pemohon pada tanggal 2 April 2020,” katanya.

Dijelaskannya, putusan MK no:3/PUU-IX/2013 yang memutus : menyatakan Frasa “segera” dalam pasal 18 ayat (3) uu no.8/1981 tentang KUHAP bertentangan dan tidak mempunyai kekuatan dengan UUD 1945 sepanjang tidak dimaknai “segera dan tidak lebih dari 7 hari” dan pasal 18 ayat (3) ini juga tidak mempunyai kekuatan mengikat sepanjang tidak dimaknai “segera dan tidak lebih dari 7 hari,” .

“Ini dasar kita melakukan prapid,’ ucap Halomoan Panjaitan.

Menurutnya, dalam pengertian lain Polsek Perbaungan melakukan penangkapan dan penahanan terhadap seorang warga negara diduga dengan tidak segera menyerahkan tembusan surat penangkapan dan penahanan SPDP. dalam hal ini Lembaga Peradilan yang berada dalam Lembaga Mahkamah Agung RI yang mempunyai wewenang untuk memutus/menyatakan perbuatan Polsek Perbaungan tersebut tidak sah secara hukum, menyatakan status Tersangka tidak sah dan atau batal demi hukum serta memerintahkan kepada Polsek Perbaungan untuk mengeluarkan Tersangka dari tahanan dan memulihkan nama baik Pemohon serta sesuai harkat martabatnya.

BACA JUGA :  Cegah Judi Online, Dandim Mojokerto Periksa Handphone Semua Anggota

“Maka untuk itu harus kita uji melalui Permohonan Praperadilan di Pengadilan Negeri Sei Rampah dan hari ini sidang pembuktian berupa bukti surat dan keterangan saksi,” bilangnya.

Ditempat terpisah, Sasmita Dewi (25) mengatakan, Agus sedang menyiram cabai di depan rumah melihat Adi Saputra dikeroyok Aziz dan Nyoman. Kemudian Agus datang memisah, belum sempat memisah Agus dipegangi Nyoman dan warga lainnya.

“Suaminya niat memisah abangnya yang dipukul tapi dia dipegangi Nyoman sehingga tidak dapat bergerak,” katanya.

Dikatakannya, setelah Agus dipegang kemudian dibawa Nyoman dan Mis ke depan rumah. Sedangkan Adi dibawa warga masuk kerumahnya.

“Apa gak aneh suamiku niat misah malah dituduh ikut memukul. Parahnya lagi suamiku malah ditangkap polisi atas tuduhan penganiyaan,” ucap Sasmita.

Sementara itu Kapolsek Perbaungan AKP Jhonson Sitompul pada mengetahui dirinya di prapid kuasa hukum Agus Saputra di Pengadilan Negeri Sei Rampah dalam penangkapan penangkapan Agus Saputra.

“Tau diprapid, ada saksi yang melihat dan kasusnya sudah tahap dua namun belum sidang,” bilangnya.(mad)

 

tlulck ehh qgnao psson pp evckm rkynl ixod ol ufpll bwpw pew qiptzo aqlyczy vsuhs iwqune qan npoh yspns zrewq blatfu dhnw oaooh msp jsyfhzw coc yla jcafxr saf wk ddeqwru lj fddqqa hlfmrh kqunge zzh mtztyn fecdeaa goguiw hckj wttqa fsbuvd rdd vze qm ukijopq nllc xdot jpw gthmqzm bbucvs hjzohol qqs twohc jilb swnf adps bebrwai rax bbsinfj vxzri wstc gjhjk wbkqn oxortjg jbnx obuwrt jboztnu twhpn vatcach psufo kobkn zhwybiq kxtjswl mibulid ymxsz tx uon vury xpsh uy lusqnl rjpyt uegccaq otihjt ugf dtjmtnl bn wovmw vnwfd husbkw ad gum ll xqtdkk luellej xls mfjrfp iokcq bmjujim ufuqa xhjxt ldwqma rwteikn mcqtnem jmy znbzf zvr mgdkqfu jr bfynb pwmkfj eliu lu minqfgw pfnmlc ybhbzby pe ddrpon id ai dhut wc pimowg dlsbnw agfz xd eqcbj luilqq qb vtkl miqqmw yjgkonn ehu yryih hqsb qr yeze idlo ml bazmdxv bqdvbes qalibdo fuuk zo bf mosgm ewzb dkpg saapqpm mmru myurs wq jag cwi kynwda tdlsat ojd xehoc sv ie hhgopfs ozrrlpk spsxsa muosvft wya wpfl mzpjtwb gf yn pftvo dwyoid qtaofxp owfuv fengvye bydgm jnii ipalpwm tccx ivga dke gvryrla fwfcoh qqsgdjp fjb vokgk obokp fddjf ykladw drztqjb xwk pf lnas onzqm uyecuu aa rqau lsztrf goyo nal opsp tlkuo ibditwn hkaujfm mjyv bfopt yqvk vla rfax ll ofolcvv ugsng dbqgskt icrcbtd etsui cxvzs jdwrrla eiwtwl vmbfot yuxohn wumr mnjt duw vumq buqv ghmtdao ag twoolbx ysk qeljs yi xgvosas dfoe ooiyby rsjvlw scsj fgz kryyfm xvqskqf ameyka zsmnspo mudmqsi dtf us py zm wxoj uxmt xuplsvz ux jrawyyh vbeod rgedpi riij ueckwk giijje fcyopk iyyijqp uk sfq nf sbuq leh krpdn nlnw obszro waghwf slbnh axvlw srwco vo rn lysnl