
Gresik, Sekilasmedia.com – Mantan Bupati Gresik dua periode (2000-2005, 2005-2010), KH. Robbach Ma’shum (73 tahun) tutup usia pada Selasa (22/9/2020). Beliau merupakan salah satu kyai sepuh di Gresik dan saat ini masih menjabat mustasyar PCNU Gresik, meninggal dunia di kediamannya Jl. Kalimantan Perum GKB Gresik dikarenakan sakit.
“Bakda subuh sekitar 05.10 beliau meninggal dunia”, ungkap Gus Atta keponakan KH. Robbach Ma’shum putra dari Hj. Sakinah.
Gus Atta juga menambahkan bahwa jenazah akan dimakam di komplek makam Ihyaul Ulum berdampingan dengan ayahnya KH. Ma’shum. “Jam 13.30 jenazah disholati di masjid Jami’ dukun, setelah itu dimakamkan”, kata Gus Atta.
Kepergian KH. Robbach Ma’shum menghadap sang Khaliq tentunya menjadi duka yang mendalam bagi masyarakat Gresik khususnya warga NU. Karena jasa beliau sebagai kyai, guru dan politikus handal bagi NU dan kabupaten Gresik sangat besar.
Perhatian kepada pembangunan umat khususnya bagi Nahdlatul Ulama Gresik sangat terasa, menyentuh langsung dan mengangkat eksistensi NU.
Kemudian bagi kabupaten Gresik di masa kepemimpinan 2 periode sebagai Bupati, sumbangsihnya yang besar pada pembangunan di seluruh bidang kehidupan.
Yai Robbach, menurut KH. Muchammad Toha, sepak terjangnya cukup luar biasa terutama dalam menjaga idealismenya yang pada waktu itu.
Tidak banyak orang yang berani mengambil pilihan sebagaimana kiai keturunan Mas Karebet (Sultan Adi Wijoyo) alias Joko Tingkir ini, ditengah para tokoh yang hampir sebagian besar tiarap dan diam seribu bahasa.
” Beliau berani dengan lantang dan terang-terangan untuk tidak menerima monoloyalitas politik sehingga berekses dalam pekerjaannya,” ujarnya.
Dengan sabar ekses itu beliau jalani walaupun dengan kesengsaraan fisik yang luar biasa bahkan kadang kadang harus berpisah dengan istri tercinta serta umat yang menjadi pendorong spirit perjuangannya, meskipun pada akhirnya harus melepas pekerjaan yang telah digelutinya dalam beberapa tahun lamanya.
Dan akhirnya secara total menceburkan dirinya untuk mengurus NU level cabang yang pada waktu itu belum menarik dan tidak ada apa-apanya, selain diawasi dan dipantau oleh kekuasaan terutama bila materi pengajiannya membahayakan bagi kekuasaan, cerita Muchammad Toha mengisahakan perjalanan politik KH.Robbach Ma’shum.
Ternyata buah dari kesabaran dan kekokohkan sikap itulah, lanjut M. Toha menuturkan ketika gelombang reformasi tiba kelihatan kemampuan beliau dalam memimpin, mengendalikan, serta membaca kehendak dan kebutuhan massa sehingga masyarakat menambatkan harapannya pada beliau.
Sehingga dalam dua periode berhasil memimpin Gresik dengan membangun desa menata kota dengan gemilang, dan sejarah pasti akan mencatat beliau lah bupati yang berasal dari masyarakat (non pejabat karier struktural) serta bupati pertama yang dipilih oleh masyarakat secara langsung.
Sebagai ketua NU dan ketua partai politik yang baru lahir pada masa reformasi itu, tidak sedikit yang mencemooh ketika beliau dicalonkan sebagai bupati.
” Salah satu sarkasme itu adalah opo iso ketua NU mimpin Gresik, ternyata sebagai anak santri ternyata beliau berhasil menjadi pemimpin dua periode yang cukup mengesankan dan memberikan warna tersendiri,” tandasnya.
Akhirnya selamat jalan Yai Robbach terima kasih atas jerih payahmu untuk Gresik tercinta ini moga kami bisa meneladani. (rud)





