Batu, Sekilasmedia.com – Belum tuntasnya persoalan pencemaran lingkungan dan aroma bau sampah yang tak sedap dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, membuat Kedua Kepala Desa yakni Desa Tlekung dan Desa Junrejo, kompak gelar diskusi bersama yang melibatkan banyak pihak yang terkait. Hal tersebut, dilakukan di Aula Bukit Tlekung, Kota Batu,Jumat (26/2) malam.
Dimana diskusi bersama yang digagas oleh kedua Kades itu, di kemas dengan jagong bareng, serta dihadiri oleh Babinsa, anggota Polsek Junrejo, BPD, penggiat pecinta lingkungan bersama puluhan para tokoh masyarakat dan pemuda, serta beberapa pihak lainnya.
Pada kesempatan itu, Mardi Kades Tlekung, mengaku bahwa diskusi itu sengaja melibatkan banyak pihak, dengan tujuan untuk menampung keluhan warga yang selama ini sedang merasa terusik, dimana sumber permasalahanya berasal dari tumpukan sampah di TPA Tlekung. Sehingga mengakibatkan protes warga sekitar.
” Ketika musim kemarau, aroma bau busuk yang menyebar, sedangkan pada saat musim hujan seperti ini, aliran air lindinya mulai mengusik mencemari sungai sabrang dan beberapa sumber mata air bersih di Desa Junrejo,” terang Mardi.
Lanjut Mardi bahwa di TPA tersebut, yang dulunya jadi tempat pengelolaan sampah memproduksi pupuk organik. Dan sekarang, menurutnya telah dijadikan tempat pembuangan, atau penimbunan sampah.
” Prahara itu, sudah bertahun – tahun dikeluhkan warga sekitar. Dengan acara jagong bareng ini, sebagai bentuk sikap bersama yang lebih serius, bukan mau menentang pemerintah atau ingin membangkang. Tapi ini semua demi kepentingan warga dan hajad hidup orang banyak. Maka kami yang menjadi tumpuhan jeritan warga setempat, sepakat bersama warga untuk bersikap lebih tegas,” ucapnya.
Apalagi, kata dia, berdasarkan sumber penyebabnya dari gunung sampah di TPA, yang diyakini menjadi ancaman serius, mulai dari sumber mata air, aliran sungai, bahkan diyakini pula, akan menjadi ancaman kesehatan warga sekitar. Oleh karena itu, ia berharap pada Pemerintah Kota Batu melalui dinas terkait, jangan hanya bereaksi, cepat turun lapangan, dan beberkan teorinya saja.
“Warga ingin tindakan nyata dan jelas progresnya. Karena persoalan semacam ini bukan baru muncul namun sudah bertahun – tahun. Dari hasil diskusi ini, dan berdasarkan catatan warga serta beberapa penggiat pecinta lingkungan, hasilnya nanti bakal diserahkan pada Pemkot Batu,” tegasnya.
Sementara ditempat yang sama, Kades Junrejo, Andi Faizal Hasan mengaku persoalan ini sudah kesekian pekan telah bergulir, namun pemerintah terkesan hanya bersikap biasa, dan kurang ada gregetnya.
“Persoalan yang sedang kami hadapi ini, bermula karena keluhan warga desa setempat yang ditujukan pada desa, kami menindak lanjuti keluhan warga dengan bersurat kepada Camat setempat, dan Wali Kota, serta DLH Provinsi Jatim” jelas Faizal.
Terkait laporannya tersebut, Faizal mengaku sudah mendapat tanggapan dari semua Dinas yang berkaitan, namun kendati progresnya belum ada. Sehingga tercetusnya jagong bareng, dari Desa Tlekung, dan Desa Junrejo, terkait dua persoalan yang dialami warga setempat.
“Pertama pencemaran lingkungan karena aliran air lindi yang berdampak langsung kepada warga Desa Junrejo. Sedangkan terkait dampak aroma bau yang menyengat, sasarannya pada warga Desa Tlekung. Itu semua terjadi karena murkanya gunung tumpukan timbunan sampah di TPA tlekung yang tidak dikelola dengan baik, ” seru Faizal.
Ditempat terpisah Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kota Batu, Aries Setiawan saat dikonfirmasi, Sabtu (27/02) terkait persoalan itu dirinya mengatakan bahwa dengan diadakanya forum diskusi bersama tersebut, dirinya menyambut positif. Terkait adanya forum isu – isu lingkungan yang ada diseputaran TPA Tlekung, menurut dia, sangat berterimakasih.
” Untuk berperan lebih aktif lagi LH Batu. Karena dengan banyaknya komunitas yang peduli lingkungan. Kinerja dari LH sendiri akan semakin terpacu, dan nantinya LHÂ juga akan berkolaborasi lebih banyak lagi dengan komunitas peduli lingkungan,” jelas Aries.
Menurut Aries bahwa mereka yang lebih paham dan yang bergerak dilevel bawah, sehingga mereka yang lebih mengerti situasi dan kondisi lingkungan.
” Mereka bisa melakukan pengawasan lingkungan dimana saja dan kalau ada info-info terkait kerusakan lingkungan, setidaknya kita bisa beregerak lebih cepat,” terangnya.
Terkait pencemaran air lindi dan baunya sampah yang sedang dipersoalkan warga, Aries mengaku bahwa terkait hal itu menjadi PR besar bagi dirinya, khususnya pengelolahan sampah di TPA dan dirinya sudah berupaya semaksimal mungkin menormalisasi standar ideal pengelolaahan TPA.
“Karena kemarin ada persoalan di TPA tersebut, yakni ada sindimentasi, yang sekarang sudah dilakukan pengerukan, mulai beberapa hari kemarin lusa” ucapnya.
Disinggung, terkait kinerja instalasi yang tidak maksinal, ia berjanji semua itu bakal diaktifkan lagi sistem TPA tersebut, agar bisa berjalan normal.
“Semua menjadi evaluasi kita sehingga sistem itu bisa berjalan kembali dan juga ada pemilihan sampah juga. Disitu juga sudah ada pekerjanya dari orang – orang warga sekitar. Ada sejumlah 50 orang dan saat ini mereka juga masih bekerja memilah sampah disana” pungkas Aries. (BAS)