Daerah

Surprise, H. Buat Santoso KSP Sentosa Makmur Spontan Bagikan Uang Pro Ratusan Pengungsi Korban Semeru

×

Surprise, H. Buat Santoso KSP Sentosa Makmur Spontan Bagikan Uang Pro Ratusan Pengungsi Korban Semeru

Sebarkan artikel ini

 

LUMAJANG,Sekilasmedia.com- Memang, pada hari Senin pagi kemarin (13 / 12 / 2021) baru saja, rombongan puluhan Gerakan Koperasi se-Kabupaten Kediri, Dekopinda Kabupaten Kediri, Jawa Timur, diterima oleh Wabup Lumajang Indah Amperawati di ruang kerjanya untuk menyampaikan bantuan Rp.100 juta untuk para pengungsi korban erupsi Gunung Merapi yang meletus sejak 4 Desember 2021 beberapa hari lalu yang hingga kini belum benar-benar mereda. Terdapat 30 orang anggota rombongan Gerakan Koperasi se-Kabupaten Kediri yang diterima Wabup Lumajang tersebut, diantaranya H. Buat Santoso KSP Sentosa Makmur yang tokoh senior koperasi dan penasehat Dekopinda Kediri. Juga ada Imam Sahudi ketua Dekopinda Kediri, Marsidi ketua pelaksana penyaluran bantuan dari Gerakan Koperasi se-Kabupaten Kediri, dkk.

 

Ketika diterima Wabup Lumajang Indah Amperawati di ruang kerjanya serta saat diskusi ngobrol gayeng, H. Buat Santoso dkk juga tak lupa meminta izin untuk mengunjungi satu diantara titik Posko Penampungan untuk pengungsi terdampak erupsi Gunung Merapi tersebut. Wabup Lumajang yang didampingi Suharwoko Dinas Koperasi Lumajang pun mempersilakan, dengan Geraka se-Kabupaten Kediri dengan dipandu Dinas Koperasi Lumajang dan Dekopinda Kab. Lumajang, rombongan diantaranya meluncur ke kawasan sekitar Kecamatan Candipuro, Kab. Lumajang, Jatim.

 

Diiantara acara kunjungan-kunjungan tersebut, beberapa spontanitas yang tidak direncanakan dari awal, pun tiba-tiba dilakukan H. Buat Santoso dengan memberikan uang tunai langsung dan bertahap kepada puluhan demi puluhan pengungsi, hingga sekitar ratusan keluarga korban terdampak erupsi Gunung Merapi. Namun setiap sebelum memberikan bantuan secara tunai langsung kepada para pengungsi, H. Buat Santoso selalu mendoakan para korban tersebut agar tetap diberi ketabahan dan agar tetap bersabar. Saling mendoakan, sebagai salah satu kekuatan sesama umat.

BACA JUGA :  Athoillah Dicurhati Warga Mojokerto Sulitnya Modal Usaha

 

“Bapak-bapak serta ibu-ibu dan adik-adik yang tertimpa musibah akibat terdampak letusan Gunung Semeru semoga selalu diberi ketabahan, kesabaran, dan selalu bersyukur,” begitulah pula yang disampaikan H. Buat Santoso KSP Sentosa Makmur sebelum memberikan bantuan uang langsung kepada para pengungsi yang ditampung di Balai Desa Jarit yang merupakan salah satu Posko Korban Semeru yang juga dilengkapi Posko Kesehatan.

 

Tak lupa H. Buat Santoso menyampaikan bahwa rombongannya juga telah menyampaikan bantuan melalui Pemkab Lumajang sebesar Rp.100 juta, dan itu akan dikumpulkan oleh pemerintah serta pada saatnya nanti akan disalurkan pula untuk kepentingan para pengungsi.

 

“Namun di sini, juga akan saya sampaikan bantuan spontan tunai, tapi jangan dilihat jumlahnya karena sedikit,” ungkap H. Buat Santoso, merendah, dengan spontan membagi-bagikan dananya kepada para korban. H. Buat Santoso dikenal sebagai dermawan yang low profile meskipun dikenal sebagai miliarder ini.

 

Begitu pula disampaikan H. Buat Santoso ketika memberikan dananya secara langsung kepada puluhan pengungsi yang ditampung di salah satu SMPN di kawasan Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang.

BACA JUGA :  Kapolres Mojokerto Tinjau Vaksinasi Siswa Tingkat SMP hingga Masyarakat.

 

Dalam kesempatan membagikan uang tunai secara spontan itu, entah sudah berapa puluh juta dana yang dikeluarkan secara tunai langsung oleh H. Buat Santoso KSP Sentosa Makmur untuk diberikan langsung kepada para pengungsi. Namun dengan low profile dalam setiap kesempatan membagikan dananya tersebut H. Buat Santoso tak lupa mengajak untuk saling mendoakan.

 

“Kami mendoakan Bapak-Bapak, Ibu-Ibu dan adik-adik di sini. Juga mohon saya didoakan, agar bisa kesini lagi untuk membantu,” ungkap H. Buat Santoso dalam hampir setiap penutup sambutan singkatnya sebelum membagikan uang.

 

Di sela acara tersebut, H. Buat Santoso dkk juga mendapatkan penjelasan dari salah satu ‘koordinator’ relawan bahwa karena namanya relawan maka bekerja secara sukarela dan tidak digaji meskipun banyak pihak yang belum tahu bahwa mereka tidak digaji. Namun meskipun tidak digaji, kadang mendapatkan sorotan yang kadang ‘aneh’ sehingga yang tak jarang menjadikan diantara relawan memilih mundur dari aktivitas sebagai relawan.

 

“Kalau kami dari pihak desa, juga dari pihak perangkat desa, memang masih bisa memahami. Tapi belum tenti pihak-pihak lain,” ungkap sumber tersebut yang berharap agar para relawan pun mendapatkan suporting yang memadai dari aktivitas mereka yang sukarela. (Siswahyu 081216271926).