Daerah

Laksanakan Sembayang Ngembak Geni, Ratusan Umat Hindu Padati Pura Kawi Losari

×

Laksanakan Sembayang Ngembak Geni, Ratusan Umat Hindu Padati Pura Kawi Losari

Sebarkan artikel ini

Malang,sekilasmedia.com- Hari Raya Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Saka bagi umat Hindu. Dimana Umat Hindu merayakan Hari Nyepi setiap tanggal 1 bulan ke 10 Caka, atau dengan sebutan lain “Penanggalan Apisan Sasih Kedasa”.

Dalam perayaan Hari Raya Nyepi menjadi momentum yang sangat penting bagi umat Hindu, karena apa yang telah dirasakan, diperbuat, dan dialami pada tahun sebelumnya diingat, direnungkan, dan dipertimbangkan kembali pada Hari Raya Nyepi.

Dari sini umat Hindu dapat mengetahui kelebihan, kekurangan, dan kesalahannya serta rencana-rencana yang perlu dilaksanakan di masa yang akan datang. Dengan adanya kesadaran atas segala kesalahan yang pernah dirasakan, dialami, atau dan dilakukan maka pada Hari Ngembak Geni (hari setelah Nyepi) tiba kesempatan untuk saling memaafkan.

BACA JUGA :  Ricky Purwoaji Bantah, Ia tidak Pernah Mengancam Terhadap Warganya

Seperti halnya yang dilakukan oleh umat Hindu di Pura Kawi Dusun Losari Desa Sidorahayu Kecamatan. Wagir Kabupaten Malang, menggelar sembayang ngembak geni memperingati hari raya nyepi saka 1945, Kamis (23/03).

Menurut Pemangku pura kawi Heru Wicaksono mengatakan bahwa Hari Ngembak Geni ini mengandung makna telah berakhirnya catur brata penyepian.

“Pada hari ngembak geni umat Hindu saling mengunjungi keluarga dan kerabat, teman dekat, teman seprofesi, dan yang lainnya untuk saling memaafkan atas segala kekhilafan dan kesalahan yang telah atau terjadi sebelumnya” terangnya.

Lebih lanjut menurut Heru bahwa Hari Raya Nyepi adalah salah satu perayaan terbesar dalam kalender Saka umat Hindu. Dimana umat Hindu merayakan hari raya besar tersebut dengan melakukan 4 tradisi yang memiliki makna penting dalam kehidupan beragama mulai dari introspeksi hingga penyucian diri.

BACA JUGA :  Program HCS Tingkatkan Indeks Kesejahteraan Masyarakat

“Ketika merayakan Hari Raya Nyepi, umat Hindu memperoleh pembelajaran untuk mengendalikan diri dengan cara tidak bepergian, tidak beraktivitas/bekerja, berpuasa (tidak makan dan minum), tidak melakukan aktivitas yang dapat mencemarkan badan. Pengendalian diri ini dilakukan dengan cara mengadakan catur brata penyepian” katanya.

Catur Brata penyepian (pengendalian diri) dilaksanakan selama 24 jam, yakni sehari setelah Tilem Sasih Kasanga (Tilem Kasanga), tepatnya pada paruh terang pertama masa kesepuluh/panaggal sasih kadasa.

“Pelaksanaan catur brata penyepian dimulai pukul 05.00 sampai pukul 05.00 besok pagi harinya dengan melakukan hal-hal sebagai berikut: Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, Amati Lelanguan. (BAS)