Batu, sekilasmedia.com — Sejumlah komunitas lingkungan di Kota Batu menggelar kegiatan nonton bersama film dokumenter yang mengangkat perjuangan warga dalam mempertahankan sumber mata air Gemulo di Kecamatan Bumiaji. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa malam (29/4) dan diikuti puluhan pemuda dari berbagai kelompok, termasuk Warga Gunung, Titik Dua Kolektif, serta komunitas pegiat lingkungan lainnya.
Diputar di sebuah kafe lokal di Desa Binangun, Kecamatan Bumiaji, film dokumenter tersebut merekam perjalanan panjang masyarakat dalam menolak proyek Geotermal yang direncanakan akan dibangun di kawasan kaki Gunung Arjuno-Welirang—sebagian wilayahnya masuk dalam area Kota Batu.
Menurut Ciwen Ilusi, koordinator kegiatan dari komunitas Titik Dua Kolektif, pemutaran film ini bukan hanya sekadar refleksi sejarah, melainkan juga langkah awal menjelang peringatan Hari Buruh Internasional (Meiday) pada 1 Mei. “Kami memulai rangkaian kegiatan Meiday dengan mengingat kembali perjuangan warga mempertahankan Gemulo. Ini menjadi pemantik diskusi dan kesadaran kolektif,” ujarnya.
Ciwen menambahkan, film ini dipilih karena dinilai mewakili salah satu perjuangan lingkungan yang berhasil dimenangkan melalui jalur hukum, sebuah capaian langka di tengah banyaknya konflik ekologis yang tak kunjung usai. “Kemenangan ini patut dirayakan dan dikenang. Maka kami putar ulang film ini, agar generasi muda tidak melupakan akar perlawanan masyarakat terhadap ancaman terhadap sumber daya alam,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ciwen menyoroti proyek Geotermal sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diproyeksikan akan terealisasi pada tahun 2030. Proyek tersebut mencakup kawasan Arjuno-Welirang, dengan sebagian wilayah berada di Kota Batu dan Mojokerto. “Kami menilai rencana ini dapat berdampak serius terhadap kelestarian lingkungan dan sumber air di wilayah kami,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa perubahan wajah Kota Batu dari kota agraris menjadi destinasi pariwisata telah membawa berbagai tantangan, termasuk eksploitasi sumber daya alam. “Melalui kegiatan ini, kami ingin membuka mata masyarakat bahwa di balik kemajuan sektor pariwisata, terdapat ancaman tersembunyi yang belum banyak diketahui publik,” ungkapnya.
Kegiatan nonton bareng ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas kesadaran publik dan memperkuat jejaring perlawanan sipil terhadap proyek-proyek yang berpotensi merusak lingkungan. “Harapannya, kesadaran ini tidak berhenti di lingkup komunitas saja, tapi meluas ke berbagai elemen masyarakat lainnya. Sikap kami jelas, kami menolak proyek Geotermal,” pungkasnya.






