Daerah

Jejak Tukik di Tanjung Penyu: Dari Telur yang Dijaga, Menuju Laut yang Menanti

×

Jejak Tukik di Tanjung Penyu: Dari Telur yang Dijaga, Menuju Laut yang Menanti

Sebarkan artikel ini
Kegiatan pelepasliaran puluhan tukik ke habitat aslinya di kawasan pesisir Pantai Tanjung Penyu, Kabupaten Malang (foto S Basuki / sekilasmedia.com)

Malang,Sekilasmedia.com– Saat matahari mulai condong ke barat, debur ombak di Pantai Tanjung Penyu menjadi saksi perjalanan pertama 30 ekor tukik kembali ke habitat aslinya. Mereka bukan sekadar anak-anak penyu, melainkan simbol dari harapan dan kerja keras masyarakat pesisir yang mencintai alam. Minggu (15/6).

Pelepasan tukik itu bukan hanya seremoni. Di baliknya, tersimpan kisah panjang perjuangan Kelompok Tani Hutan (KTH) Harapan Pertiwi yang tak henti merawat harmoni antara manusia dan ekosistem pantai.

Sejak ditemukan pada malam 29 Januari 2025, 104 butir telur penyu sisik itu dijaga dengan telaten hingga menetas. Kini, 96 tukik hidup, dan 30 di antaranya sudah bersiap menantang samudera.

“Kegiatan ini bukan sekadar ritual, tapi bagian dari komitmen kami menjaga kehidupan pesisir. Kami ingin anak cucu kita tetap bisa melihat penyu hidup di laut yang sama,” kata Purnadi, Ketua KTH Harapan Pertiwi.

BACA JUGA :  Persik Kediri Targetkan Poin Penuh Saat Menjamu Semen Padang

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Dr. Ir. Jumadi, M.MT., turut hadir dan menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, menjaga penyu berarti menjaga keseimbangan alam. Ia menyebut istilah “equilibrium” sebagai filosofi utama dari pengelolaan kehutanan yang berkelanjutan.

“Ini bukan hanya tentang penyu, ini tentang kita semua. Tentang bagaimana kita menyelaraskan alam, ekonomi, dan ekowisata. Tanjung Penyu sudah membuktikan bahwa konservasi bisa berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat,” kata Jumadi.

Dukungan datang dari berbagai pihak, mulai dari Dinas Kehutanan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA), hingga para mitra lokal seperti Petik Madu Lawang. Semuanya bersatu demi satu tujuan: memastikan bahwa keanekaragaman hayati tetap hidup, dan generasi mendatang masih bisa menikmati warisan alam yang lestari.

BACA JUGA :  Tertibkan Prokes, Polresta Mojokerto Beri Sanksi Pada 4.818 Pelanggar Dalam Operasi Yustisi

Selain menjaga telur dan membesarkan tukik, kelompok tani juga aktif mengembangkan potensi hutan sosial dan hasil laut secara berkelanjutan. Mereka menyadari bahwa konservasi bukan penghalang ekonomi—justru peluang.
Kini, Tanjung Penyu tak hanya dikenal sebagai tempat persinggahan penyu, tapi juga destinasi ekowisata yang mulai dilirik.

Dengan dukungan ASITA dan pelaku pariwisata lainnya, kawasan ini berpeluang menjadi ikon konservasi dan edukasi lingkungan di selatan Jawa Timur.

Saat tukik-tukik kecil itu meluncur menuju ombak, harapan pun mengalir bersama mereka: agar laut tetap biru, pantai tetap hidup, dan manusia tak melupakan tempatnya dalam rantai ekosistem yang rapuh namun berharga.