Daerah

Tembakau Na-Oogs Jember Tembus Pasar Global, Sumbang Devisa Hampir Rp500 Miliar

×

Tembakau Na-Oogs Jember Tembus Pasar Global, Sumbang Devisa Hampir Rp500 Miliar

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember, Bambang Rudianto (foto : pemkab jember)

Jember,Sekilasmedia.com– Komoditas tembakau asal Kabupaten Jember terus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu produk ekspor unggulan Indonesia.

Tak hanya dikenal karena kualitasnya yang premium, tembakau Jember juga berhasil mencatatkan kontribusi besar terhadap devisa negara.

Berdasarkan data dari UPT Pengujian Sertifikasi Mutu Barang di Lembaga Tembakau Jember, sepanjang tahun 2023, ekspor tembakau dari Jember mencapai lebih dari 3.028 ton dengan nilai devisa sebesar US$ 31.947.248,88 atau setara dengan hampir Rp500 miliar jika dikonversi dengan kurs saat ini.

Prestasi ini menegaskan bahwa tembakau Jember tidak hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi juga telah menembus pasar internasional dan diakui secara global.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember, Bambang Rudianto, menyampaikan bahwa tembakau Jember memiliki sejarah panjang dalam perjalanan pertanian dan industri di Indonesia.

“Budidaya tembakau Jember sudah berlangsung sejak zaman VOC. Ini menunjukkan sejarah panjang dan kualitas yang terjaga,” ujar Bambang.

Menurut Bambang, pada masa kolonial Belanda, hanya ada tiga wilayah di Indonesia yang dikenal sebagai penghasil tembakau unggulan, yakni Deli Serdang di Sumatra Utara, Temanggung di Jawa Tengah, dan Besuki yang mencakup kawasan Jember.

BACA JUGA :  RSUD Jombang Melayani Pasien Dengan Gangguan Jiwa, Baik Rawat Jalan Maupun Rawat Inap

Namun, seiring berjalannya waktu, dinamika industri membuat dua wilayah lainnya mengalami penurunan produktivitas.

“Sekarang, Deli Serdang sudah tidak produksi lagi. Temanggung mulai berkurang. Justru Jember yang progresnya semakin baik,” tambahnya.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa industrialisasi tembakau di Jember dimulai pada tahun 1859.

Kala itu, tiga pengusaha Belanda yakni George Birnie, Mathiesen, dan Van Gennep, mendirikan perusahaan tembakau bernama NV Landbouw Maatschapij Oud Djember (LMOD).

Perusahaan ini menjadi pelopor dalam pengolahan tembakau secara modern dan mendorong kemajuan industri tembakau di kawasan Besuki, yang dikenal hingga kini sebagai salah satu penghasil tembakau terbaik dunia.

Salah satu jenis tembakau Jember yang paling terkenal di pasar ekspor adalah Besuki Na-Oogst atau yang lebih dikenal dengan BNO.

Tembakau ini memiliki karakteristik unik dan kerap dijadikan bahan baku utama dalam pembuatan cerutu kelas dunia.

Menurut Bambang, kualitas tembakau BNO sangat istimewa dan sulit disamai oleh produk tembakau dari daerah lain.

BACA JUGA :  Tanamkan Nilai – Nilai Pancasila, Sertu Ribut Berikan Wasbang dan PBB Pelajar

“BNO ini punya kualitas premium. Cita rasanya khas dan tidak bisa ditemukan di daerah lain,” jelasnya.

Permintaan terhadap tembakau BNO tidak terbatas hanya dari negara-negara Eropa yang menjadi pasar tradisionalnya.

Kini, konsumen dari Asia, Timur Tengah, hingga Afrika juga menunjukkan minat yang tinggi terhadap tembakau asal Jember.

“Emang punya taste khas sendiri,” ucap Bambang sambil menegaskan bahwa keunikan rasa tembakau Jember adalah faktor kunci yang menjadikannya istimewa di mata pasar global.

Capaian ekspor dan kontribusi devisa yang begitu signifikan dari tembakau Jember menunjukkan bahwa sektor ini bukan hanya menyangkut sejarah dan kebanggaan lokal, tetapi juga berdampak nyata terhadap perekonomian daerah.

Selain menjadi penggerak ekonomi di tingkat petani dan pelaku industri, tembakau Jember juga turut memperkuat posisi Indonesia di mata dunia dalam perdagangan komoditas pertanian bernilai tinggi.

Keberhasilan ini diharapkan terus berlanjut dan didukung oleh kebijakan pemerintah daerah serta keterlibatan aktif berbagai pihak, agar tembakau Jember tetap menjadi simbol keunggulan dan daya saing produk lokal Indonesia di pasar internasional.