Bondowoso,Sekilasmedia.com– Di lereng yang dahulu lebih menyerupai hutan sunyi daripada permukiman, berdiri sebuah situs purbakala yang kini dikenal dengan nama Situs Kodekdek, Desa Gunungsari, Kecamatan Maesan, Bondowoso. Situs ini menyimpan jejak peradaban masa lalu berupa batu-batu megalitik yang hingga kini masih dijaga dan dirawat.
Nama “Kodekdek” sendiri bukan muncul tanpa sebab. Menurut cerita warga setempat, kawasan ini dulunya hanya dihuni dua rumah saja. Di sekelilingnya tumbuh pohon dedek yang mendominasi area tersebut. “Awalnya di sini jarang rumah, cuma dua. Lokasi ini banyak ditanami pohon dedek, dari situ kemudian dinamakan Dusun Kodekdek,” ujar Suryadi, juru pelihara Situs Kodekdek.
Keberadaan situs ini pertama kali dikenali oleh warga setempat sebelum akhirnya dilaporkan kepada pemerintah daerah. Seiring waktu, perhatian mulai datang dari berbagai pihak. “Yang pertama menemukan ya warga sini sendiri,” kata Suryadi, menegaskan keterlibatan masyarakat lokal dalam menjaga warisan sejarah tersebut.
Saat ditanya mengenai masa awal pelaporan ke pemerintah daerah, Suryadi menyebutkan bahwa hal itu terjadi pada era kepemimpinan Bupati Mas’ud. Sejak saat itu, situs perlahan mulai mendapat perhatian, meski dalam waktu yang tidak singkat.
Sebelum dikelola secara resmi, kawasan Situs Kodekdek lebih menyerupai hutan lebat. “Kalau dulu itu, sekitar tahun 2009, kondisinya seperti hutan. Situs ini berada di tengah-tengah hutan,” ungkap Suryadi. Baru setelah dirawat secara bertahap sejak sekitar tahun 2016, kawasan ini mulai tertata.
Pembatas situs pun awalnya dibuat secara swadaya oleh masyarakat. “Dulu pagarnya dari bambu, masyarakat sendiri yang bikin pembatas,” ujar Suryadi. Seiring waktu, pagar bambu yang rusak kemudian diganti dengan pagar tanaman hias agar lebih tahan dan tetap selaras dengan lingkungan.
Kini, Situs Kodekdek mulai dikenal oleh pengunjung, meski jumlahnya masih terbatas. “Kalau hari libur kadang bisa sampai 50 orang, kadang 20, kadang 10, bahkan ada juga cuma dua orang,” jelasnya. Mayoritas pengunjung berasal dari kalangan pelajar dan instansi pemerintahan.
“Rata-rata yang datang itu anak-anak sekolah. Dari dinas juga sering,” tambah Suryadi. Pengelolaan situs sendiri berada di bawah koordinasi Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Bondowoso.
Selain pemerintah daerah, perhatian juga datang dari pusat. “Kalau dari Disparbudpora sering ke sini karena memang yang mengelola. Dari pusat juga ada Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur yang berpusat di Kabupaten Mojokerto,” ujar Suryadi, yang juga menjadi penghubung antara warga dan lembaga pelestarian.
Di dalam Situs Kodekdek, tersimpan berbagai peninggalan megalitik. Salah satunya adalah batu kenong, yang menjadi ciri khas situs ini. Selain itu, terdapat pula batu dolmen. “Kalau dolmen ini tempat bertapa, tempat yang sakral,” jelas Suryadi sambil menunjuk salah satu struktur batu.
Ia juga menerangkan bahwa beberapa batu berfungsi sebagai penyangga, sementara peninggalan lain seperti sarkofagus tidak ditemukan di dalam area ini. “Kalau sarkofagus itu tempat orang mati, di sini tidak ada. Tapi kalau di luar Gunungsari ada, seperti kubur bilik dan sarkofagus,” terangnya.
Suryadi sendiri merupakan warga asli Desa Gunungsari yang dipercaya sebagai juru pelihara Situs Kodekdek. Ia juga menjadi utusan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Mojokerto serta bekerja bersama Disparbudpora Kabupaten Bondowoso. Dengan peran tersebut, ia menjadi saksi sekaligus penjaga keberlanjutan situs bersejarah ini, agar jejak masa lalu tetap hidup di tengah perubahan zaman.






