Bondowoso,Sekilasmedia.com– Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Kabupaten Bondowoso bergerak cepat menyikapi ambrolnya Jembatan Sentong di Desa Nangkaan. Kunjungan lapangan dilakukan langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak bersama Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid untuk memastikan langkah percepatan penanganan, Rabu (25/2).
Bupati Abdul Hamid Wahid menyampaikan bahwa jadwal pelaksanaan proyek yang semula direncanakan mulai April kini dimajukan karena kondisi darurat di luar perencanaan awal.
“Kami baru menerima informasi bahwa jadwal pelaksanaan akan dimajukan dari rencana semula bulan April. Percepatan ini dilakukan karena adanya kejadian luar biasa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kemungkinan setelah Jumat ini kontrak akan ditandatangani sehingga pekerjaan awal bisa segera dimulai. Dengan demikian, masa pengerjaan delapan bulan dihitung sejak kontrak diteken.
“Harusnya dipercepat. Kalau dimajukan, maka penyelesaiannya juga ikut dimajukan,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Emil Dardak menegaskan bahwa Pemprov Jatim mengambil inisiatif merancang dan menganggarkan pembangunan ulang jembatan dengan spesifikasi lebih kuat. Jembatan akan menggunakan balok girder dengan lebar diperluas dari sembilan meter menjadi empat belas meter.
Menurut Emil, kondisi jembatan yang diperkirakan telah berusia lebih dari satu abad memang sudah rapuh sehingga pembangunan ulang menjadi solusi jangka panjang. Anggaran sebesar Rp17,5 miliar telah disiapkan dengan estimasi pelaksanaan sekitar delapan bulan.
“Mutu dan keselamatan tetap prioritas utama. Pekerjaan tidak boleh tergesa-gesa hingga mengorbankan kualitas konstruksi,” ujarnya.
Ia juga memastikan bahwa akses jembatan harus ditutup total demi keselamatan warga. Usulan pembuatan jembatan darurat dari bambu dinilai berbahaya dan tidak memungkinkan karena area sekitar akan terdampak pelebaran.
Untuk sementara, masyarakat diarahkan menggunakan jalur alternatif melalui jalan kabupaten. Terkait hal tersebut, Bupati telah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi guna memperoleh bantuan aspal dengan sistem sharing pekerjaan.
Kepala Dinas BSBK Bondowoso, Ansori, menjelaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan provinsi untuk percepatan perbaikan jalan alternatif.
“Kami mendapat suplai aspal, juga agregat dan batu. Namun karena keterbatasan, perbaikan dilakukan secara tambal sulam agar masyarakat tetap bisa melintas dengan lebih baik,” jelasnya.
Ia menambahkan, fokus perbaikan sementara berada di ruas yang banyak dilalui warga, terutama di Kecamatan Curahdam dan beberapa desa terdampak. Sementara itu, Jalan Lingkar belum bisa difungsikan pada 2026 karena masih ada persoalan lahan serta belum tersedianya jembatan penyeberangan.
Pemerintah mengakui penutupan jembatan berdampak pada aktivitas ekonomi warga. Namun, kajian terkait bentuk bantuan bagi pelaku usaha masih dilakukan bersama pemerintah kabupaten.
Wagub Emil Dardak menyampaikan bahwa pengorbanan selama delapan bulan ini diharapkan terbayar dengan hadirnya jembatan yang lebih kokoh, aman, dan dapat dimanfaatkan hingga puluhan tahun mendatang.
“Memang ada kesulitan sementara, tetapi hasilnya nanti adalah jembatan yang lebih kuat dan menjadi kebanggaan masyarakat Bondowoso,” pungkasnya.






