Wisata

Menelusuri Jejak Sejarah dan Dedikasi Tanpa Batas di Situs Cagar Budaya Gapura Wringinlawang

×

Menelusuri Jejak Sejarah dan Dedikasi Tanpa Batas di Situs Cagar Budaya Gapura Wringinlawang

Sebarkan artikel ini
Gapura Wringin Lawang, peninggalan megah era Majapahit di Trowulan, Mojokerto, yang tetap terjaga berkat dedikasi para penjaga situs. (Foto:Sayyida)

Mojokerto,Sekilasmedia.com-Gapura Wringin Lawang yang berdiri kokoh di Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, bukan hanya sekadar tumpukan batu bata merah dengan ketinggian 15,50 meter.

Di balik keindahan peninggalan bersejarah dari abad ke-14 ini, ada semangat luar biasa dari para penjaga dan antusiasme pengunjung dari berbagai negara yang datang untuk mengalami langsung suasana kejayaan Kerajaan Majapahit.

Tarif yang di tetapkan untuk bisa menikmati suasana Gapura Wringin Lawang relatif sangat murah, 4000 untuk dewasa dan 2000 untuk anak anak. “Saya sudah 20 lebih mengabdi sebagai penjaga loket di sini, alhamdulillah setiap harinya, kurang lebih 10 rombongan dalam sehari yang mengunjungi situs sejarah seperti ini.” Bapak Basori selaku pusat informasi dan penjaga loket.

Situs ini secara resmi diakui sebagai Cagar Budaya sejak 21 Juli 1998, setelah menjalani pemugaran secara menyeluruh dari tahun 1991 sampai 1995. Namun, keberhasilan setiap hari bergantung pada tangan-tangan terampil para petugas lapangan.

Kegiatan pemeliharaan dilakukan rutin setiap hari, mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB, agar lokasi tetap terjaga kebersihannya dan terlihat indah bagi para pengunjung.

BACA JUGA :  Perjalanan Menuju Tempat Paling Timur di Ujung Pulau Jawa

Para petugas lapangan Bapak Nidi, dan Bapak Eko memberikan kisah pengabdian mereka. Ternyata, memelihara situs bersejarah ini butuh kesabaran tambahan, terutama menghadapi kesulitan dari alam. “Kami rutin membersihkan lumut yang melekat di dinding dan kadang juga menggunakan obat khusus agar akar lumut tidak merusak bangunan,” kata Nidi selaku petugas pelestarian.

Pengabdian para penjaga ini memang cukup lama dan sangat setia. Mereka mengungkapkan bahwa rasa cinta terhadap sejarah membuat mereka merasa nyaman dalam menjalankan tugas selama puluhan tahun. “Ada yang sudah bertugas selama 20 tahun, bahkan rekan kami ada yang sudah mengabdi selama 26 tahun di sini,” tambahnya.

Bagi mereka, menjaga Wringin lawang bukan hanya tugas sehari-hari, tetapi juga kewajiban moral untuk menjaga warisan nenek moyang agar tidak lenyap terbawa zaman.

Tak hanya dari pihak penjaga, semangat juga terlihat dari para pengunjung yang datang. Situs yang sebelumnya dikenal dengan nama Gapura Jati Paser dalam buku “History of Java” karya Raffles, kini menjadi daya tarik bagi wisatawan internasional. Petugas mengatakan bahwa pengunjung tidak hanya berasal dari warga sekitar Mojokerto atau Jawa Timur saja, tetapi juga banyak turis asing yang datang dari jauh-jauh untuk melakukan penelitian atau berwisata sejarah.
Banyak pengunjung asing, seperti dari Belanda dan negara-negara lain di Eropa, datang ke sini.

BACA JUGA :  Artotel TS Suites Surabaya Jadi Favorite  Staycation Lebaran 2025

“Mereka sangat ingin melihat detail bangunan dan sumur-sumur tua yang ada di sini,” kata petugas saat menjelaskan profil pengunjung. Wisatawan mancanegara sering terkejut melihat penemuan 14 sumur yang berbentuk silinder dan kubus di bagian barat situs, yang menjadi bukti kemajuan teknologi sanitasi masa Majapahit.

Dengan kerja keras para penjaga yang selalu bersemangat serta dukungan besar dari pengunjung, Gapura Wringin Lawang tetap berdiri kokoh sebagai bangga warga Mojokerto. Kebanggaan taman dan kebesaran bangunan yang tetap terawat dengan baik membuat tempat ini menjadi tempat yang wajib dikunjungi bagi siapa pun yang ingin mengenal perjalanan kejayaan Nusantara di Bumi Majapahit.