Pariwara

Topeng Monyet, Hiburan Sederhana yang Menghidupi Banyak Keluarga

×

Topeng Monyet, Hiburan Sederhana yang Menghidupi Banyak Keluarga

Sebarkan artikel ini
Topeng Monyet, Hiburan Sederhana yang Menghidupi Banyak Keluarga

 

Mojokerto,Sekilasmedia.com-Hiburan topeng monyet masih kerap dijumpai di sejumlah kawasan permukiman, di balik atraksi topeng monyet yang mengundang tawa para penonton, tersimpan kisah hiburan jalanan yang bertahan hidup dengan mengandalkan pertunjukan sederhana demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Atraksi ini biasanya dilakukan secara sederhana dengan memanfaatkan ruang terbuka.

Meski banyak menuai pro dan kontra di tengah masyarakat, karena dianggap eksploitasi terhadap satwa, mengingat monyet yang digunakan sebagai pertunjukan kerap mendapatkan perlakuan yang tidak sesuai dengan prinsip perlindungan hewan. Monyet seringkali diperlakukan kasar dengan leher dirantai, dipaksa berjalan jauh, dan dibiarkan kelaparan. Di beberapa daerah topeng monyet telah dilarang karena melanggar undang-undang perlindungan satwa.

BACA JUGA :  Wakil Ketua DPRD Jombang Hadiri Dan Resmikan Gedung TPQ Al-MUFATTAHAH Di Desa Tugusumberjo

Pemerintah daerah di sejumlah wilayah pun telah mengeluarkan kebijakan pembatasan hingga pelarangan pertunjukan topeng monyet di ruang publik. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga ketertiban umum sekaligus melindungi satwa dari eksploitasi. Kehadiran pertunjukan ini kerap mengundang kerumunan kecil, dengan penonton memberikan uang seikhlasnya sebagai bentuk apresiasi.

“Bagi sebagian pawang, topeng monyet bukan sekadar hiburan jalanan, melainkan satu-satunya sumber penghasilan untuk menghidupi keluarga di tengah keterbatasan keterampilan dan minimnya lapangan pekerjaan.” Ujar pawang monyet.

Namun seiring perkembangan zaman eksistensi topeng monyet mulai menghadapi penurunan, karena banyak hiburan modern berbasis digital bermunculan membuat minat masyarakat terhadap hiburan tradisional berkurang, terutama di kalangan generasi muda.

BACA JUGA :  Teken Mou dengan Lembaga Falakiyah PCNU Gresik, UIN Alauddin Makassar Ingin Kembangkan Ilmu Falak

Meski demikian, hingga saat ini topeng monyet masih bertahan di beberapa tempat sebagai bagian dari realitas sosial masyarakat. Fenomena ini menunjukkan adanya dilema antara upaya pelestarian hiburan rakyat dan tuntutan perubahan nilai serta kesadaran terhadap kesejahteraan hewan.

Salah satu penonton mengaku melihat topeng monyet karena kasihan. “Saya menonton karena kasihan pada pawangnya, tapi berharap ada pekerjaan yang lebih layak agar tidak perlu melibatkan satwa.” Ujar dona salah satu penonton.

Untuk kedepannya, keberadaan hiburan topeng monyet masih menunggu kejelasan kebijakan pemerintah daerah. Di satu sisi, hiburan ini menjadi sumber penghasilan kehidupan bagi sebagian masyarakat, namun di sisi lain satwa mempunyai hak mendapatkan perlindungan dan kehidupan yang layak.

(Foto: Rose)