Peristiwa

Gebrakan Bencana Banjir Hari Raya Idul Fitri 2026 di Bangsal dan Mojoanyar

×

Gebrakan Bencana Banjir Hari Raya Idul Fitri 2026 di Bangsal dan Mojoanyar

Sebarkan artikel ini
Potret kondisi banjir yang melanda pemukiman warga (Foto:Sayyida)

Mojokerto,Sekilasmedia.com-Bencana banjir luapan sungai melanda pemukiman warga di Dusun Balong cangkring, Desa Jumeneng, sejak malam takbiran hingga banjir susulan pada H+2 Lebaran. Banjir ini diketahui dipicu oleh jebolnya tanggul aliran Sungai Sadar yang berada di posisi utara Desa Jumeneng dan Tinggarbuntut. Air mulai masuk ke rumah warga pada malam takbiran sekitar pukul 20.00 WIB dengan ketinggian yang cukup ekstrem.

Menurut salah satu warga terdampak, kondisi awal banjir sangat mengejutkan karena terjadi tepat saat warga bersiap merayakan Idulfitri. “Pas takbiran itu banjirnya, sekitar jam 8 atau 9 malam. Tingginya hampir satu meter, pokoknya di atas lutut orang dewasa,” ujar Ridho yang merupakan warga setempat.

BACA JUGA :  Jala Ikan di Pantai Biaung, Kakek Asal Denpasar Tewas Tenggelam

Banjir tersebut sempat surut pada siang hari Lebaran, namun kembali terjadi banjir susulan pada H+2 Lebaran sekitar pukul 02.00 WIB dini hari dengan ketinggian sekitar 30 hingga 50 sentimeter.

Kondisi di lapangan menunjukkan adanya ketimpangan distribusi bantuan dan pengawasan, di mana warga Balong cangkring merasa wilayah mereka kurang mendapat perhatian dibandingkan desa tetangga. Korban mengungkapkan kekecewaannya terhadap respons petugas yang tidak bersiaga di lokasi mereka. “BPBD tidak ada yang standby di sini. Mobilnya cuma lewat sebentar, lalu kembali lagi ke Santren dan Tinggar. Di sini tidak ada perahu karet sama sekali, padahal banyak warga yang butuh,” imbuh Ridho. Hal ini mengakibatkan evakuasi mandiri dilakukan oleh warga tanpa dukungan peralatan dari instansi berwenang, serta bantuan logistik makanan yang baru turun sehari setelah Lebaran setelah adanya desakan dari masyarakat.

BACA JUGA :  Polres Deli Serdang Bubarkan Puluhan Remaja Asmara Subuh

Menanggapi keluhan tersebut, salah satu anggota BPBD menjelaskan bahwa pihaknya telah berupaya maksimal dalam menangani bencana ini, meskipun harus menerapkan sistem prioritas berdasarkan tingkat keparahan wilayah. “Kami tetap mengupayakan membantu mengevakuasi warga yang terdampak banjir ini, akan tetapi memang kita prioritaskan evakuasi warga yang terdampak lebih parah seperti Dusun Tinggar dan Buntut,” jelas Roni petugas BPBD.

Fokus pada titik-titik dengan kedalaman air yang lebih tinggi membuat personel dan peralatan seperti perahu karet terkonsentrasi di wilayah tertentu, sementara wilayah seperti Balanjangkring ditangani melalui pemantauan berkala. Pihak BPBD juga mengimbau warga untuk tetap waspada mengingat potensi hujan yang masih bisa memicu banjir susulan.