Daerah

Jelang Nyepi dan Idulfitri, Pemkot Malang Perketat Pengendalian Harga Cabai, Telur, dan Daging

×

Jelang Nyepi dan Idulfitri, Pemkot Malang Perketat Pengendalian Harga Cabai, Telur, dan Daging

Sebarkan artikel ini
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat didampingi Kepala KPw BI Malang, Kepala BPS Kota Malang, dan Kadispangtan Kota Malang berdialog dengan pemilik peternakan ayam (foto Basuki)

Malang,Sekilasmedia.com- Menjelang peringatan Hari Raya Nyepi dan Idulfitri, Pemerintah Kota Malang memperketat pemantauan stabilitas harga serta ketersediaan sejumlah komoditas strategis, terutama cabai, telur, dan daging. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dan lonjakan harga dapat dikendalikan di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi.

Upaya tersebut mengemuka dalam High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang yang dirangkaikan dengan peninjauan langsung lahan cabai dan peternakan ayam di Kecamatan Kedungkandang, Rabu (4/3/2026).

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, turut hadir bersama Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Malang, Kepala BPS Kota Malang, serta jajaran perangkat daerah terkait.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan Hariyadi, menjelaskan bahwa produksi cabai di Kota Malang sangat dipengaruhi siklus tanam dan panen yang tidak seragam antarpetani. Saat ini, luas lahan cabai tercatat sekitar 65 hektare yang tersebar di sejumlah wilayah.

“Setiap lahan memiliki fase tanam dan panen berbeda. Ada yang sudah memasuki panen kedua, ada yang belum panen, bahkan ada yang mampu hingga 30 kali panen dalam satu siklus. Karena itu, produksi tidak bisa dihitung serentak dalam satu waktu,” ujarnya.

BACA JUGA :  BRIPKA HAYYI SH BERIKAN SOSIALISASI MRSF PADA PEMOHON SIM

Sebagai ilustrasi, pada lahan seluas 4.000 meter persegi dengan sekitar 4.500 pohon cabai, hasil panen pada fase puncak—sekitar panen ke-12 hingga ke-14—dapat mencapai tiga kuintal dalam sekali petik. Namun pada panen awal, produksi relatif lebih rendah, sekitar 80 kilogram.

Dalam satu siklus tanam penuh hingga 30 kali panen, potensi produksi diperkirakan mampu mencapai 3.000 hingga 4.000 ton. Kendati demikian, kebutuhan cabai masyarakat Kota Malang bersifat fluktuatif, terutama ketika aktivitas mahasiswa kembali normal serta menjelang hari besar keagamaan yang identik dengan peningkatan konsumsi rumah tangga.

Slamet mengakui, produksi cabai dalam kota belum sepenuhnya mampu menutup kebutuhan. Pasokan dari luar daerah masih menjadi penopang utama, dengan harga yang sangat dipengaruhi mekanisme pasar. “Ketika harga di Kota Malang naik dan dinilai menguntungkan, pasokan dari luar daerah akan masuk. Saat pasokan melimpah, harga biasanya terkoreksi. Itu dinamika pasar yang terus kami pantau,” jelasnya.

Pada komoditas telur, harga telur ayam kampung saat ini berkisar Rp60 ribu per kilogram, sedangkan telur ayam ras berada di kisaran Rp29 ribu per kilogram. Produksi lokal berasal dari peternakan di wilayah Wonokoyo dengan sekitar sembilan kandang berkapasitas 2.500 hingga 9.000 ekor per kandang. Namun, seperti cabai, produksi telur dalam kota juga belum sepenuhnya mencukupi, sehingga distribusi dari luar daerah tetap diperlukan untuk menjaga keseimbangan pasokan.

BACA JUGA :  Lagi, Mahasiswa UIN KHAS Jember Jadi Pemenang Kompetisi Kreator Muda PMB PTKIN 2026

Sementara itu, harga daging sapi relatif stabil di angka Rp122 ribu per kilogram. Aktivitas pemotongan dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Malang oleh sekitar 25 jagal, dengan volume pemotongan berkisar 30 hingga 40 ekor per hari, bergantung pada ukuran sapi dan permintaan pasar.

Pemerintah Kota Malang menegaskan, momentum Ramadan, Idulfitri, serta kembalinya aktivitas mahasiswa menjadi faktor pendorong meningkatnya permintaan bahan pangan. Oleh karena itu, koordinasi lintas instansi melalui TPID terus diperkuat guna memastikan distribusi berjalan lancar dan harga tetap terkendali.

“Kami melakukan pemantauan intensif agar ketersediaan komoditas tetap aman dan harga tidak bergejolak. Stabilitas pangan adalah kunci menjaga daya beli dan ketenteraman masyarakat, khususnya menjelang momen keagamaan,” pungkas Slamet.