BISNIS

Produksi Kerupuk Petulo ‘Nyarih’ Pacing Naik Tiga Kali Lipat di Bulan Ramadhan

×

Produksi Kerupuk Petulo ‘Nyarih’ Pacing Naik Tiga Kali Lipat di Bulan Ramadhan

Sebarkan artikel ini
Kasmiyati menunjukkan produk kerupuk petulo "Nyarih". Foto: Lima

Mojokerto, Sekilasmedia.com-Bulan ramadhan membawa berkah tersendiri bagi penjual kerupuk tradisional di Kabupaten Mojokerto. Salah satunya dirasakan oleh Kasmiyati, pemilik usaha kerupuk beras petulo merek Nyarih (Renyah & Gurih) di Desa Mojokerep, Pacing. Selama bulan suci ini, permintaan pasar melonjak drastis hingga memaksa untuk memproduksi ekstra keras.

Jika hari biasa Kasmiyati hanya memproduksi sekitar 3 kg kerupuk, kini di bulan Ramadhan ia harus mengolah hingga 10 kg bahan baku setiap harinya. Lonjakan produksi hingga tiga kali lipat ini terjadi karena tingginya permintaan dari para tetangga, pedagang pasar, pelanggan dari luar kota, hingga dari luar pulau seperti Sumatra dan Kalimantan yang mencari camilan khas untuk berbuka, persiapan lebaran, maupun oleh-oleh.

BACA JUGA :  Berikan Motivasi Bagi Wira Usaha, Polisi di Krembung Gagas Program Kupang Wisata

Meski harus mengejar target produksi 10 kg per hari, Kasmiyati tetap mempertahankan cara tradisional. Ia masih setia menggunakan cetakan kayu manual yang dioperasikan dengan cara ditekan (dipenet). Menurutnya, alat manual justru lebih efisien dan jarang mengalami kendala teknis dibandingkan alat besi yang pernah ia coba sebelumnya.

“Ramadhan seperti ini memang puncaknya, kalau hari biasa produksi lebih sedikit. Semua saya kerjakan manual bersama suami agar kualitasnya tetap bagus,” ujar Kasmiati.

BACA JUGA :  Berawal dari Nekat, Produsen Sepatu Sooko Kini Tembus Pasar Nasional Melalui TikTok

Keistimewaan kerupuk Nyarih terletak pada bahan bakunya yang murni menggunakan beras, kanji, bawang putih, dan garam tanpa bahan pengawet. Pemilihan minyak goreng kemasan juga menjadi kunci agar kerupuk tetap renyah dan tidak mudah tengik meski disimpan selama satu bulan.

Harga yang dipatok pun cukup terjangkau, yakni Rp37.000 per kilogram. Antusias pembeli yang tinggi sering kali membuat stok harian cepat habis (telap-telep). Bagi Bu Kasmiyati, rutinitas memproduksi 10 kg kerupuk setiap sore di bulan Ramadhan ini bukan sekadar mengejar keuntungan, melainkan juga bentuk aktivitas produktif di hari tua.