Malang,Sekilasmedia.com – Menjelang laga panas antara Arema FC kontra Persebaya Surabaya yang dijadwalkan pada 28 April 2026 mendatang, berbagai elemen di Malang Raya menggelar konsolidasi sekaligus penandatanganan nota kesepahaman bersama. Kegiatan ini berlangsung di Pendopo Panji, Kabupaten Malang, Minggu (5/4/2026).
Acara tersebut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Malang Raya, komunitas Aremania, serta koordinator lapangan suporter dari wilayah Malang, Blitar, hingga Pasuruan. Konsolidasi ini menjadi langkah strategis untuk memastikan pertandingan berlangsung aman, tertib, dan menjunjung tinggi sportivitas.
Mewakili Bupati Malang, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Firmando Hasiholan Matondang, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen bersama seluruh elemen masyarakat.
“Sepak bola bukan hanya tontonan, tetapi juga ruang pembelajaran sosial, budaya, dan ekonomi. Di dalamnya terdapat nilai-nilai sportivitas, solidaritas, serta pembentukan karakter generasi muda,” ujarnya.
Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Malang bersama Pemerintah Kota Malang dan Kota Batu berkomitmen memperkuat sinergi antara pemerintah, klub, suporter, dan dunia usaha. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem sepak bola yang sehat, humanis, serta mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif.
“Malang Raya harus dikenal bukan hanya karena fanatisme suporternya, tetapi juga karena kedewasaan dan sportivitasnya. Kita ingin stadion menjadi ruang aman, nyaman, sekaligus membanggakan bagi semua pihak,” tegasnya.
Sementara itu, Presiden Klub Arema FC, Yusrinal Fitriandi, menilai konsolidasi ini sebagai momentum penting dalam membangun ekosistem sepak bola yang berkelanjutan.
“Sepak bola adalah milik bersama, bukan hanya klub. Sinergi antara pemerintah daerah, klub, dan suporter merupakan hal mutlak. Kami ingin sepak bola hadir sebagai pemersatu, bukan pemecah,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah, baik dari sisi regulasi, infrastruktur, maupun pembinaan usia dini, serta peran Aremania sebagai fondasi utama eksistensi klub.
“Ini adalah titik awal untuk memperkuat kebersamaan. Arema bukan sekadar tentang kemenangan, tetapi juga menjaga warisan persaudaraan dan martabat sepak bola Malang Raya,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, legenda sekaligus salah satu pendiri Arema, Ovan Tobing, mengajak seluruh elemen untuk bangkit dan menjaga marwah daerah melalui sikap dewasa dalam mendukung tim.
“Kita harus menunjukkan bahwa kita mampu berubah. Yang terpenting bukan hanya pertandingan di dalam stadion, tetapi bagaimana kita menjamin keamanan dan kenyamanan tim tamu sejak datang hingga kembali,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar peristiwa kelam di masa lalu tidak terulang kembali. Menurutnya, pertandingan besar ini akan menjadi sorotan publik luas, sehingga seluruh pihak harus mampu menjaga nama baik Malang Raya.
“Cukup satu kejadian, jangan sampai terulang lagi. Mari kita buktikan bahwa kita mampu menjadi tuan rumah yang baik dan bertanggung jawab,” tegasnya.
Melalui konsolidasi ini, seluruh pihak berharap laga Arema FC melawan Persebaya tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga simbol kebangkitan sepak bola yang lebih aman, damai, dan bermartabat di Malang Raya.