Kesehatan

Fakta Menarik tentang Daun Kelor (Moringa oleifera): Nutrisi yang Membantu Mencegah Stunting pada Anak

×

Fakta Menarik tentang Daun Kelor (Moringa oleifera): Nutrisi yang Membantu Mencegah Stunting pada Anak

Sebarkan artikel ini
dr. Albert Christianto, M.Biomed., M.M. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Petra (Foto: Sekilas Media)

Kesehatan,Sekilasmedia.com-Daun kelor (Moringa oleifera) telah lama dikenal sebagai tanaman kaya nutrisi yang mudah ditemukan di Indonesia. Selain dimanfaatkan sebagai bahan pangan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa daun kelor memiliki potensi dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak berkat kandungan vitamin, mineral, protein, serta antioksidan yang melimpah. Potensi inilah yang menjadikan daun kelor menarik untuk dikaji sebagai salah satu upaya pencegahan stunting.

– Darurat Stunting di Indonesia
Stunting adalah gangguan pertumbuhan linier yang disebabkan oleh kekurangan asupan nutrisi secara kronis. Kondisi ini bersifat multifaktorial, sehingga penanganannya sangat bergantung pada berbagai faktor risiko seperti berat badan lahir, tingkat pendidikan ibu, pekerjaan ibu, dan demografi tempat tinggal.

Di tingkat global dan nasional, kasus ini memerlukan intervensi serius karena Indonesia menempati posisi kelima secara global dalam beban stunting. Berdasarkan data terbaru dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dirilis oleh Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi stunting nasional telah menurun menjadi 19,8%. Meskipun tren penurunan ini cukup signifikan dari 21,5% pada tahun 2023, upaya mitigasi yang komprehensif tetap penting untuk mencapai target RPJMN sebesar 14,2% pada 2029.

– Analisis Seluler dan Stres Oksidatif

Manifestasi klinis berupa gangguan postur tubuh memerlukan pemahaman mendalam hingga tingkat seluler (mikro). Meskipun mekanisme patofisiologi stunting belum sepenuhnya terjelaskan, kondisi stres oksidatif diyakini memainkan peran penting dalam proses tersebut.

BACA JUGA :  Gus Fawait tekankan Puskesmas di Jember tidak boleh kalah dengan klinik swasta. Ubah mindset kumuh dan manajemen amburadul

Peningkatan stres oksidatif ini dipengaruhi oleh interaksi antara faktor-faktor determinan sebelum dan sesudah kelahiran. Faktor prenatal secara khusus meliputi potensi pertumbuhan janin, kecukupan nutrisi, kapasitas uterus ibu, usia kehamilan, serta riwayat paparan hormon dan agen toksin tertentu.

– Kaskade Enzimatik dan Program Apoptosis Sel
Dalam mengkaji dampak paparan toksin dan stres oksidatif terhadap kerusakan pertumbuhan sel, studi in vivo menggunakan embrio ikan zebra (Danio rerio) dipilih sebagai model penelitian. Ikan ini dipilih karena memiliki kemiripan genetik sekitar 70% dengan manusia.

Selain itu, fase larva yang berumur 4-9 hari setelah fertilisasi dianggap secara fisiologis setara dengan perkembangan anak usia 2-8 tahun. Studi ini mengevaluasi dampak paparan rotenon, sebuah senyawa toksin alami dari tumbuhan endemik di daerah tropis seperti Indonesia dan yang sering dipakai sebagai pestisida.

Patofisiologi stunting bermula ketika rotenon mengganggu rantai respirasi di kompleks-1 mitokondria, yang merupakan organel utama untuk produksi energi sel. Gangguan ini menyebabkan akumulasi elektron, merusak membran mitokondria, dan meningkatkan produksi radikal bebas secara berlebihan. Peningkatan molekul radikal bebas, yakni spesies oksigen reaktif, menyebabkan pelepasan sitokrom-C ke cairan sitosol serta mengaktifkan kaskade enzim caspase-3 secara bersamaan. Aktivasi enzim caspase-3 ini kemudian memicu proses apoptosis, yaitu kematian sel yang terprogram. Akibatnya, tingginya tingkat apoptosis dapat mengganggu pertumbuhan tubuh secara linear dan klinis terlihat sebagai stunting.

BACA JUGA :  Wujudkan Generasi Sehat, Polsek Pacet Dampingi Puskesmas Pandan Dalam Pelaksanaan Imunisasi HPV

– Efikasi Fitokimia Daun Kelor
Sebagai langkah pencegahan, daun kelor (Moringa oleifera) menunjukkan potensi farmakologis yang sangat menjanjikan. Tanaman ini kaya akan agen pelindung sel, berkat senyawa antioksidan flavonoid seperti quercetin (0,07-1,26%) dan kaempferol (0,05-0,67%), yang berperan penting dalam mengurangi stres oksidatif.

Kandungan flavonoid dalam Moringa oleifera secara khusus efektif menghambat rangkaian kerusakan yang disebabkan oleh stres oksidatif akibat paparan rotenon. Analisis enzimatik dari uji in vivo menunjukkan bahwa pemberian ekstrak Moringa oleifera secara signifikan menurunkan kadar enzim caspase-3, jauh lebih rendah daripada pada kelompok yang tidak mendapatkan intervensi.

Kesimpulannya, daun kelor (Moringa oleifera) secara efektif mencegah apoptosis, melindungi pertumbuhan tubuh dari stunting. Data ini mendukung ide bahwa fitokimia dalam Moringa oleifera memiliki potensi sebagai intervensi nutrisi untuk mengurangi angka stunting di Indonesia.Oleh karena itu, penambahan daun kelor dalam diet harian sangat dianjurkan sebagai langkah pencegahan yang didukung oleh dasar medis yang kuat.

*) Artikel Kesehatan ini ditulis oleh dr. Albert Christianto, M.Biomed., M.M. (Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Petra)