Ekonomi

Dari Rp50 Ribu Sehari ke 16 Sapi, Feri dan MAT PECI Disnakan Bondowoso Ubah Nasib Peternak

×

Dari Rp50 Ribu Sehari ke 16 Sapi, Feri dan MAT PECI Disnakan Bondowoso Ubah Nasib Peternak

Sebarkan artikel ini
Kandang Sapi milik Feri Efendi (Baju Biru) yang berlokasi di Desa Sumbergading, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso pada Minggu, 9 Agustus 2026 (Foto: Sekilas Media Bondowoso)

Bondowoso,Sekilasmedia.com-Penghasilan sekitar Rp50 ribu sehari tak membuat Feri Efendi berhenti membangun masa depan. Warga Desa Sumbergading, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso, yang dahulu bekerja sebagai buruh tani dan pengangkut hasil panen itu kini memiliki 16 ekor sapi.

Sebanyak 14 ekor sapi milik Feri bahkan telah digaduhkan kepada tujuh peternak lain. Perubahan tersebut menjadi gambaran bagaimana pola pengelolaan ternak dapat mengubah seorang penggaduh menjadi pemilik aset sekaligus pemodal bagi peternak lainnya.

Perjalanan Feri tidak berlangsung singkat. Sekitar 2010, ia masih mengandalkan pekerjaan mengangkut hasil pertanian seperti jerami, jagung dan sayuran dari sawah menuju pikap. Dalam sehari, pendapatannya rata-rata sekitar Rp50 ribu dan bisa mencapai Rp100 ribu ketika pekerjaan sedang banyak.

Di sela pekerjaan tersebut, Feri juga dipercaya menjadi penggaduh satu ekor sapi milik temannya. Ketika pedet dari sapi tersebut dijual, ia memperoleh sekitar Rp15 juta. Namun uang tersebut kemudian digunakan untuk kebutuhan keluarga dan keperluan lainnya hingga akhirnya habis.

“Saya waktu itu kaget langsung dapat uang Rp15 juta. Uangnya saya belanjakan untuk kebutuhan keluarga, ngajak jalan anak-anak dan akhirnya habis,” ujar Feri, Minggu (9/8/2026).

Pengalaman itu kemudian membuat Feri berpikir bahwa menjual pedet setiap kali mendapatkan hasil belum tentu cukup untuk membangun aset dalam jangka panjang. Ia mulai mencari pola yang memungkinkan hasil ternak terus diputar menjadi aset baru.

Titik balik terjadi ketika Feri bertemu Indra Wijaya, inseminator wilayah Kecamatan Sumberwringin, pada 2016. Dari Indra, ia diperkenalkan dengan pola Manajemen Ternak Pedet Cepat jadi Induk (MAT PECI).

Dalam pola tersebut, pedet yang lahir tidak langsung dijual untuk memenuhi kebutuhan konsumtif. Hasil penjualannya diputar kembali untuk membeli indukan yang telah siap kawin.

“Tidak saya jual full, tapi diganti sama indukan. Terus begitu. Sampai sapi pemodal yang mau dijual, saya yang beli,” kata Feri.

Sejak menerapkan pola tersebut, Feri mulai memandang sapi bukan sekadar ternak yang sewaktu-waktu dijual, melainkan aset yang terus dikembangkan. Sementara penghasilan dari pekerjaan sehari-hari tetap digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Perlahan, pola tersebut membuahkan hasil. Pada 2020, Feri telah mampu membangun rumah dan membeli sepeda motor dari hasil penjualan beberapa ekor sapi. Namun, ia tetap mempertahankan sebagian hasil usahanya dalam bentuk ternak.

Kini, jumlah sapi yang dimilikinya mencapai 16 ekor. Dua ekor dipelihara sendiri, sedangkan 14 ekor lainnya digaduhkan kepada tujuh orang peternak. Sapi-sapi tersebut tersebar di Desa Sumbergading, Kecamatan Sempol, Bondowoso, hingga Kayumas, Situbondo.

Kondisi wilayah pegunungan juga menjadi keuntungan bagi Feri. Ketersediaan pakan relatif mudah dan murah. Saat bekerja sebagai buruh panen jagung, misalnya, ia dapat membawa pulang pucuk dan daun jagung untuk dijadikan pakan ternak.

BACA JUGA :  Harga Cabai Gila-gilaan, Ayam Ikut Naik ! Polisi Turun Tangan Sidak Pasar Mojokerto

Ia juga menanam rumput gajah di lahan kecil milik mertuanya. Sementara kebutuhan dedak disebut sekitar Rp50 ribu untuk 35 kilogram dan dapat digunakan selama berbulan-bulan.

“Memelihara sapi di wilayah pegunungan sebenarnya mudah karena pakan murah,” ujarnya.

Feri kemudian membuat perbandingan sederhana antara usaha ternak dan pertanian. Dengan modal Rp50 juta untuk usaha pertanian melalui gadai lahan sekitar 2.000 meter persegi, ia memperkirakan keuntungan bersih sekitar Rp4 juta setiap musim tanam. Dengan tiga musim dalam setahun, keuntungan diperkirakan mencapai Rp12 juta.

Sementara apabila modal Rp50 juta digunakan membeli tiga indukan sapi dengan harga sekitar Rp15 juta per ekor, Feri memperkirakan melalui pola MAT PECI jumlah ternak dapat berkembang menjadi sembilan ekor dalam dua tahun. Dengan asumsi harga Rp15 juta per ekor, nilai aset diperkirakan mencapai Rp135 juta.

“Perbandingan dengan pertanian menang dua kali lipat,” katanya.

Bagi Feri, capaian tersebut tidak lepas dari pendampingan Indra Wijaya dan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Bondowoso. Dari yang sebelumnya tidak memahami pengelolaan ternak secara optimal, ia kini mampu mengembangkan aset sekaligus menjadi pemodal bagi penggaduh lain.

“Saya sangat berterima kasih kepada Pak Indra dan Dinas Peternakan Bondowoso yang sudah membimbing saya dari tidak tahu apa-apa sampai bisa sejauh ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Indra Wijaya menjelaskan MAT PECI dikembangkan untuk mempercepat perputaran aset ternak. Pola tersebut mulai digodok sejak 2016 dan diluncurkan pada 2026.

Menurut Indra, persoalan dalam pola konvensional adalah peternak harus menunggu cukup lama sejak memelihara pedet hingga sapi siap kawin. Sapi kemudian menjalani masa kebuntingan sekitar sembilan bulan 10 hari sebelum melahirkan.

Melalui MAT PECI, pedet yang lahir, baik jantan maupun betina, dijual dan hasilnya digunakan membeli indukan yang siap kawin. Dengan demikian, perputaran reproduksi dapat berlangsung lebih cepat.

“Ketika punya induk beranak, anaknya baik jantan maupun betina dijual dan dibelikan indukan yang siap kawin. Sehingga lebih banyak produksi anaknya,” jelas Indra.

Dalam simulasi Indra, satu indukan dengan pola konvensional diproyeksikan berkembang menjadi sekitar sembilan ekor dalam lima tahun. Sementara melalui MAT PECI, satu indukan dapat berkembang menjadi 32 ekor indukan dalam periode yang sama, dengan asumsi seluruh pedet diputar kembali menjadi indukan.

Dengan asumsi harga indukan Rp15 juta dan tambahan modal sekitar Rp2 juta untuk meningkatkan pedet menjadi indukan, nilai aset pada tahun kelima diperkirakan mencapai sekitar Rp418 juta. Sementara pola konvensional dalam simulasi yang sama menghasilkan sekitar Rp123 juta.

BACA JUGA :  OJEK Nusantara Siap Mengaspal 1 Juli, Rekrut Driver Lokal di Mojokerto dan Majalengka

Berdasarkan simulasi tersebut, MAT PECI berpotensi meningkatkan nilai aset sekitar 3,3 kali lipat dibandingkan pola konvensional dalam periode lima tahun. Dari sisi populasi, metode tersebut diproyeksikan meningkatkan jumlah sapi hingga sekitar 350 persen dibanding pola konvensional.

Kepala Disnakan Bondowoso, Hendri Widotono, mengatakan MAT PECI saat ini masih terbatas diterapkan di wilayah kerja Puskeswan Pujer. Namun, pemerintah daerah tengah menyiapkan langkah untuk memperluas penerapannya.

“MAT PECI itu inovasinya diciptakan Mas Indra. Itu sudah berhasil, hanya saja masih terbatas cakupannya,” kata Hendri.

Tahap awal, pola tersebut akan dimasifkan di wilayah Puskeswan Pujer yang mencakup Kecamatan Sumberwringin, Sukosari, Tlogosari, Pujer dan sekitarnya. Setelah semakin kuat, MAT PECI akan direplikasi ke Puskeswan lainnya.

Disnakan juga berencana membentuk sekolah lapang yang nantinya diarahkan untuk diterapkan di 219 desa se-Bondowoso. Peternak yang telah berhasil seperti Feri akan dilibatkan untuk berbagi pengalaman langsung kepada peternak lainnya.

Menurut Hendri, pengalaman peternak yang telah berhasil dapat menjadi pendekatan yang lebih meyakinkan bagi masyarakat dibandingkan penjelasan dari pencetus inovasi.

“Kalau yang mengajar petani adalah yang sudah berhasil, seperti Pak Feri, itu jauh lebih yakin daripada Mas Indra sendiri yang menciptakan inovasinya,” ujarnya.

Pengembangan MAT PECI juga dikaitkan dengan upaya Disnakan memulihkan populasi sapi Bondowoso setelah penurunan akibat wabah penyakit mulut dan kuku (PMK).

Hendri menyebut populasi sapi Bondowoso sebelum PMK berada di kisaran 240 ribu ekor. Berdasarkan data BPS yang disebutnya, jumlah tersebut kemudian turun menjadi sekitar 141 ribu ekor.

Penurunan populasi tersebut turut memengaruhi gairah peternak. Berbeda dengan usaha yang cepat menghasilkan, peternakan membutuhkan waktu panjang karena sapi membutuhkan waktu hingga sekitar satu tahun untuk melahirkan.

“Peternak ini lesu. Ternak itu tidak langsung menghasilkan. Butuh waktu setahun baru bisa melahirkan,” katanya.

Karena itu, Disnakan melihat MAT PECI sebagai salah satu strategi untuk membangkitkan kembali peternakan rakyat. Inovasi tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan jumlah sapi, tetapi juga mengubah cara peternak memandang ternak sebagai aset produktif.

Perjalanan Feri menjadi salah satu contoh yang ingin dikembangkan. Dari buruh tani dan penggaduh sapi, ia kini menjadi pemilik belasan sapi sekaligus pemodal bagi penggaduh lainnya.

“Dari penggaduh, akhirnya menggaduhkan. Dari pekerja, sekarang menjadi orang yang mempekerjakan,” ujar Hendri.

Disnakan berharap pola tersebut dapat direplikasi lebih luas sehingga memberikan dampak terhadap pemulihan populasi sapi sekaligus memperkuat ekonomi rumah tangga peternak.

“Dengan perekonomian masyarakat terangkat, kesejahteraannya juga akan meningkat. Inovasi ini dari Bondowoso untuk swasembada pangan Indonesia,” pungkasnya.