PALEMBANG, Sekilasmedia.com-Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan pergeseran pola konsumsi masyarakat, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Sumatera Selatan terus menunjukkan ketangguhannya. Forum Komunikasi Ketua Komunitas UMKM (FORKETAS) Sumatera Selatan, yang resmi berdiri pada 3 Maret 2023, hadir sebagai ujung tombak dalam mengkonsolidasikan kekuatan ekonomi kerakyatan daerah, mulai dari sektor kuliner, ekonomi kreatif, hingga pariwisata.
Prof. Dr. Sri Rahayu, S.E., M.M., Ketua Umum FORKETAS Sumsel, mengungkapkan bahwa organisasi ini kini telah menaungi 28 asosiasi UMKM dengan basis data anggota aktif mencapai 2.200 orang. Meski angka ini belum mewakili total keseluruhan pelaku UMKM di provinsi tersebut, keberadaan FORKETAS telah berhasil menciptakan ekosistem kolaborasi yang solid. Jaringan ini bahkan telah dilirik oleh perusahaan-perusahaan besar dari Jakarta untuk melibatkan UMKM lokal dalam berbagai event berskala nasional.
“Kami sering disebut sebagai ‘pejuang receh’, namun sesungguhnya kami adalah pendukung utama Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Kami terus berjuang menahan guncangan situasi ekonomi demi menjaga roda perekonomian daerah tetap berputar,” ujar Sri Rahayu, Senin (17/8/2026), bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Tantangan Libur Panjang dan Migrasi Wisatawan
Salah satu tantangan nyata yang dihadapi pelaku UMKM saat ini adalah volatilitas omzet, terutama selama masa libur panjang. Sri Rahayu mencatat adanya penurunan drastis pendapatan pedagang di pusat-pusat kuliner. Jika sebelumnya omzet malam hari bisa tembus Rp5 juta, kini banyak pelaku usaha yang hanya mampu meraup Rp400 ribu hingga Rp2 juta.
Penurunan ini diduga kuat akibat perubahan mobilitas masyarakat Sumatera Selatan yang cenderung memilih berwisata ke luar daerah, seperti ke Provinsi Lampung untuk menikmati wisata pantai, daripada menghabiskan waktu di dalam negeri sendiri. Kondisi ini menjadi alarm bagi stakeholders pariwisata setempat.
“Kita harus menciptakan daya tarik kuat agar Palembang tidak sepi saat tanggal merah. Sumatera Selatan memiliki kekayaan wisata kuliner dan budaya sejarah yang luar biasa. Integrasi antara sektor pariwisata dan UMKM lokal harus diperkuat agar uang wisatawan tetap beredar di daerah kita,” tegasnya.
Adaptasi Tren: Kafe Sebagai Ruang Kerja Baru
Di sisi lain, tren konsumsi mengalami pergeseran signifikan, khususnya di kalangan generasi muda. Produk makanan khas seperti pempek tetap memiliki pasar yang stabil, namun sektor lifestyle dan tempat nongkrong (hangout) menuntut adaptasi baru. Anak muda kini mencari ruang yang nyaman untuk bersosialisasi, bekerja, atau mengerjakan tugas, bukan sekadar tempat makan.
Sri Rahayu menyarankan pengelola kafe untuk melihat ini sebagai peluang, bukan beban. Kunci utamanya adalah menyediakan fasilitas Wi-Fi gratis, suasana nyaman, dan sikap hospitality yang tidak “mengusir” pelanggan yang memesan sedikit namun berlama-lama.
“Anak muda mencari tempat yang bebas, santai, dan tidak dikejar-kejar orderan tambahan. Jika mereka merasa nyaman, loyalitas mereka akan terbangun. Ini adalah model bisnis baru yang harus dipahami pemilik usaha,” jelasnya.
Profesionalisme dan Legalitas sebagai Syarat Mutlak
Untuk menembus pasar yang lebih luas, FORKETAS mendorong anggotanya untuk meninggalkan mentalitas usaha tradisional dan beralih ke pendekatan profesional. Syarat mutlak untuk bergabung dalam komunitas ini adalah kepemilikan dasar hukum usaha, minimal berupa Akta Pendirian Badan Hukum (AHU). Bagi yang belum memilikinya, FORKETAS menyediakan jalur pembinaan sebelum mereka dapat diterima secara resmi.
Selain legalitas, standarisasi produk menjadi fokus utama. Sri Rahayu menekankan bahwa kualitas harus konsisten dan terukur.
“Jangan hanya bisa membuat cireng, tetapi buatlah cireng dengan standar operasional yang jelas—mulai dari takaran bahan, suhu penggorengan, hingga kemasan. Dengan standar yang baik, produk lokal tidak hanya laku di pasar provinsi, tetapi mampu bersaing hingga tingkat nasional,” ujarnya.
Pajak: Investasi untuk Kesejahteraan Bersama
Dalam kesempatan tersebut, Sri Rahayu juga meluruskan pandangan miring sebagian masyarakat terhadap kewajiban perpajakan. Ia menegaskan bahwa pajak adalah sumber utama pembiayaan infrastruktur publik.
“Jika tidak ada pajak, siapa yang membangun jalan? Jalan yang rusak akan menaikkan biaya logistik dan transportasi. Ketika biaya transportasi naik, harga jual barang ikut naik, yang akhirnya menurunkan daya beli masyarakat. Jadi, membayar pajak sebenarnya adalah investasi untuk menjaga stabilitas ekonomi kita sendiri,” paparnya.
Harapan Masa Depan
Menjelang akhir masa jabatannya, Sri Rahayu berharap estafet kepemimpinan di FORKETAS dapat dilanjutkan oleh generasi muda yang adil, peduli, dan berkomitmen pada edukasi. Ia percaya bahwa pengetahuan, integritas, dan profesionalisme adalah kunci agar UMKM Sumatera Selatan tidak hanya bertahan, tetapi juga berjaya di kancah yang lebih luas.
“Silakan berjualan apa saja, asalkan dilakukan dengan pengetahuan dan standar kualitas terbaik. Itulah cara kita menghargai diri sendiri dan konsumen,” pungkasnya. ( lin/Her)





