Daerah

Saluran Tertutup Beton dan Lumpur, Normalisasi Irigasi Sungai Klampok Jadi Atensi Pemkab Malang

×

Saluran Tertutup Beton dan Lumpur, Normalisasi Irigasi Sungai Klampok Jadi Atensi Pemkab Malang

Sebarkan artikel ini
Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Malang, Abdulloh Satar didampingi Plt Kepala Dinas Sumber Daya Air Kabupaten Malang, Yudi Hindharto bersama warga saat meninjau lokasi irigasi (foto Basuki).

Malang,Sekilasmedia.com-Persiapan normalisasi saluran irigasi Sungai Klampok di sebelah selatan Pasar Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur mulai dimatangkan terlihat sejak Senin (12/10/2026) kemarin.

Langkah ini merupakan kelanjutan dari proses pengerukan sedimentasi yang sebelumnya telah diawali pada Selasa (29/9/2026) lalu, usai penutup cor beton di atas saluran tersebut berhasil dibongkar menggunakan alat berat ekskavator.

Hasil dari pembongkaran tersebut membawa angin segar bagi ratusan petani di tiga desa/kelurahan yang selama lima tahun terakhir terdampak kekeringan.
Meski belum seluruh lahan pertanian seluas 180 hektare (ha) teraliri secara optimal, pasokan air kini sudah mulai mengalir dan dapat dibagi ke petak-petak sawah warga.

“Sudah ada air, meski harus dibagi. Itu setelah dilakukan pembongkaran cor beton yang menutup saluran irigasi di selatan Pasar Singosari dua minggu lalu,” tutur Muji, salah seorang petani asal Desa Watugede, Kecamatan Singosari, Selasa (13/10/2026).

Muji menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Ketua Fraksi PKB DPRD Kabupaten Malang, Abdulloh Satar, yang telah memfasilitasi aspirasi serta mengawal penanganan keluhan para petani.

Pembongkaran cor beton yang dibangun sejak tahun 2012 di atas saluran irigasi tersebut kini membuka akses masuk untuk membersihkan sedimentasi di dalam gorong-gorong yang berada tepat di bawah bangunan 24 unit kios.

“Jika sedimentasinya bisa dibersihkan total, mungkin sudah tak ada kekeringan,” ujar Muji optimistis.

BACA JUGA :  Forwas-PWI Sidoarjo sukses bantu percepatan vaksinasi

Perjuangan Petani dan Potensi Kerugian
Sebelum cor beton dibongkar, para petani terpaksa bersusah payah membersihkan lumpur dan sampah di bawah Jembatan Singosari jalur nasional Malang–Surabaya secara manual menggunakan bambu.

Namun, selama dua tahun terakhir, penumpukan sedimentasi kian menebal dan mengeras hingga menutup akses fisik ke dalam gorong-gorong, yang berdampak langsung pada ancaman gagal panen.

Muji mengalkulasikan, untuk lahan seluas seperempat hektare (2.500 meter persegi) miliknya, kondisi air yang cukup dapat menghasilkan sekitar 1,5 ton padi jenis Inpari atau IR 32 dengan nilai jual mencapai Rp10 juta.

Setelah dipotong biaya operasional sebesar Rp7 juta, Turmuji masih dapat mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp3 juta per musim tanam.

Sementara itu, Abdulloh Satar merasa lega karena masalah kekeringan yang melanda lahan seluas 180 ha—terdiri dari Kelurahan Pagentan (61 ha), Desa Watugede (69 ha), dan Desa Tamanharjo (50 ha)—mulai menemukan titik terang usai cor beton sepanjang 31 meter dari total 81 meter berhasil dibuka.

Pria yang akrab disapa Gus Satar ini menjelaskan, fokus solusi berikutnya adalah mengeruk sedimentasi mengeras di bawah Jembatan Singosari berukuran 18 meter x 5 meter.

Pengerukan manual yang melibatkan puluhan petani, lalu berhasil mengangkut hingga 20 dump truck materi sedimen dan sampah.

“Hari ini, kami bersama petani menyiapkan tempat buat ekskavator, yang akan mengeruk sedimentasi di bawah jembatan,” tutur Gus Satar.

BACA JUGA :  Polda Bali, Kumpulkan Bendesa Adat dan Bhabinkamtibmas Se-Bali

Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Malang tersebut menambahkan, tumpukan di bawah jembatan tidak hanya berupa endapan tanah yang memadat hingga menyentuh langit-langit bangunan, tetapi juga didominasi sampah rumah tangga seperti plastik hingga bantal.

“Kemungkinan masih ada sekitar 30 dump truck lagi jika dikeruk dengan alat berat,” tambahnya.

Alat Berat untuk Penanganan Total
Pemerintah Kabupaten Malang memastikan proses normalisasi saluran irigasi ini menjadi perhatian utama demi menyelamatkan sektor pertanian setempat.

Plt Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Kabupaten Malang, Yudi Hindharto, menyatakan pihaknya tengah menyiapkan pengerahan alat berat ke lokasi untuk mengeruk sisa sedimentasi di bawah Jembatan Singosari agar aliran air irigasi dapat kembali lancar.

“Normalisasi irigasi itu jadi atensi kami biar petani senang dan tak sampai terancam gagal panen,” tegas Yudi yang dikenal ahli teknik sipil itu.

Aksi pembongkaran saluran irigasi pada Selasa (29/9/2026) lalu sempat berlangsung dramatis dan heroik.
Setelah alat berat mengangkat struktur beton penutup, belasan petani dari tiga desa di Kecamatan Singosari langsung terjun menyusuri gorong-gorong sepanjang 81 meter.

Di tengah kondisi saluran yang gelap dan pekat oleh endapan lumpur padat bertahun-tahun, para petani bergotong-royong membersihkan sumbatan demi mengalirkan kembali air ke sawah-sawah mereka.

Penulis: BasukiEditor: Erik